Anggota PMKRI St.Thomas More Cabang Pontianak terlihat kelelahan ketika di temui di margasiswa Jalan Imam Bonjol, Selasa (20/3) malam. Mereka baru saja datang dari Entikong, Kabupaten Sanggau dalam rangka kegiatan Kemah Kerja Sosial (KKS). Yang dilaksanakan dari tanggal, 13-19 Maret 2012 di Dusun Punti Kayan, Desa Nekan, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau-Kalbar.
Sebanyak 31 orang anggota, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St.Thomas More Cabang Pontianak, yang di ketuai oleh Leonard Nova Christy. Pada selasa (13/3) lalu berangkat dari Pontianak menuju Kampung yang bernama Dusun Punti Kayan, Desa Nekan, Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau.
Leonard yang akrab di panggil Leo ini mengatakan, kegiatan KKS tahun ini memang sengaja dilakukan di daerah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia karena PMKRI merasa terpanggil dan merasa prihatin. Meskipun di katakan sebagai beranda terdepan dari Negara ini, tapi kondisi warga di perbatasan sangat kurang diperhatikan pemerintah.
“Kondisi pendidikan di sana masih sangat jauh dari harapan, banyak anak-anak yang putus sekolah, apalagi anak-anak perempuan. Dalam artian masyarakat di sana belum menyadari akan penting nya pendidikan itu buat masa depan mereka,” kata Leo.
Lebih lanjut kata Leo, warga perbatasan juga selama ini dininabobokan oleh janji-janji pembangunan yang digaungkan pemerintah tapi realisasinya belum ada, intinya kedatangan kami menerangkan harapan, agar tanah, air dan bumi mereka harus mereka sendiri yang menguasainya khususnya tanah leluhur mereka. mengingat para investor asing melirik daerah mereka sebagai lahan ekspansi.
Perjalanan dari Pontianak menuju Entikong menggunakan Bus dapat di tempuh selama 8 jam, sesampai di Entikong untuk menuju Dusun Punti Kayan yang berjarak 15 Km dari Entikong, memerlukan waktu selama 2 jam perjalanan. Terang Leo.
Lebih lanjut kata Leo, Penduduk di Dusun tersebut berjumlah 157 KK, yang sebagian besar pekerjaan mereka adalah petani berladang, dan juga penoreh getah di samping itu juga bertanam Sahang. Hasil kebun dan hasil karet itu sebagian besar mereka jual ke negeri tetangga Malaysia, dan bahkan toke dari Negara tetangga itu langsung datang ke kampung tersebut untuk membeli langsung hasil kebun mereka di tambah pula karena harga nya yang sangat menggiurkan.
Mengenai masalah kebutuhan hidup mereka sehari-hari saja bahkan di pasok dari negeri jiran tersebut, hal ini wajar karena jarak tempuh menuju Entikong itu sendiri cukup jauh di tambah lagi infrastruktur jalan nya hanya tanah kuning dan kalau hujan akan becek dan licin. kata Leo menjelaskan.
Ketua panitia KKS, Tomi Menjelaskan tema KKS PMKRI Thomas More Cabang Pontianak kali ini yaitu, “ Mengabdi Di Batas Negeri” tema tersebut dinilai nya sangat relevan untuk menggambarkan kondisi dan situasi di perbatasan sana.
“PMKRI menurutnya merasa sangat terpanggil untuk mengabdi dan mengalami, serta merasakan sebagai warga masyarakat perbatasan. tidak hanya mendengar dari media ataupun cerita, bagaimana sih kondisi perbatasan itu? maka kami mencoba menyelami kondisi yang ada, dengan harapan dengan kehadiran kami di sana meskipun tidak lama bisa membuat mereka sadar, akan pentingnya pendidikan dan tetap menyekolahkan anak-anak mereka,” terang nya.
Adapun kegiatan-kegiatan KKS disana dikatakan oleh Tomi, yaitu motivasi pendidikan, Memfasilitasi dialog antara pemda Sanggau dan masyarakat, membuat plang gereja dan plang kampung, gotong royong dengan masyarakat membersihkan lingkungan gereja, memperbaiki jembatan, jika aku menjadi versi PMKRI.
Motivasi pendidikan, pembinaan anak-anak SD, sekolah minggu, olah raga bersama, misa bersama. Ketika di Tanya tentang harapan dengan diadakannya KKS tersebut.? Tomi menjelaskan harapannya “Biar masyarakat sadar dengan pentingnya pendidikan, lebih proaktif terhadap permasalahan sosial dan politik demi kemajuan daerah, tidak selalu mengharapkan pemerintah dalam pembangunan, mengobarkan kembali semangat gotong royong, serta meningkatnya rasa nasionalisme warga di batas Negara.ungkap nya.
Salah seorang peserta KKS Chorly Conto, mengatakan yang masih terkesan dan tidak akan dilupakannya adalah ada nya kekerabatan dan kekeluargaan antara anggota PMKRI dengan masyarakat. ”Sejak kami datang pada malam itu, kami berkumpul dan setiap orang dari kami di ajak oleh warga untuk menginap ke rumah mereka.
Lebih lanjut Chorli yang biasa di panggil Cukai ini menerangkan, “mereka anggap kami sebagai anak angkat dan sebagai bagian dari keluarga mereka.Disini lah kami merasa senang dan bahagia, bahkan ada teman-teman kami yang ikut ke Ladang membantu memanen padi dengan orang tua angkatnya”.
Yang lebih seru lagi, beberapa rekan kami ikut berburu babi hutan. Bahkan ketika pada saat kami pulang masing-masing keluarga angkat kami memberikan beras dan sayur mayur buat kami. itulah yang tidak akan di lupakan. Itu lah “jika aku menjadi versi kami PMKRI” kami merasakan mendapat pengalaman baru. ungkap nya.
Selaku Sekjen PMKRI Pontianak, Frans welly Regaz, mengaku senang dan bahagia dengan suksesnya kegiatan KKS kali ini. Ia bangga, karena KKS merupakan salah satu program kerja presidium, dan tentunya program kerja terakhir di massa kepengurusan kami. Pokoknya sukses lah bagi kami semua. terangnya.