Pendidikan merupakan investasi terbesar dalam kehidupan. Setiap orang tua akan berusaha sekuat tenaga membiayai pendidikan putra-putrinya. Di mana-mana, banyak orang tua membanting tulang mengumpulkan uang untuk menyekolahkan anaknya. Meski dengan menyederhanakan kehidupan, menyempitkan pengeluaran, berhutang sana-sini, semuanya dikorbankan hanya untuk memberikan kesempatan buah hatinya mengenyam nikmatnya bangku pendidikan. Banyak orang tua yang rela berlapar-lapar asal anaknya bisa kuliah dengan tenang.
Pendidikan diharapakan akan mengangkat prestise mereka di masyarakat. Ada kebanggaan yang menyeruak di dada tatkala buah hatinya mampu dikuliahkan. Mereka ceritakan keberhasilan-keberhasilan yang diraih anaknya kepada semua orang. Mereka bahkan melupakan keringat-keringat nya yang semakin deras mengucur karena kebanyakan kerja. Mereka bahkan lupa untuk sekedar mengisi perut yang lapar karena asyiknya mempersiapkan uang bulanan yang akan diberikan kepada anak kesayangannya. Mereka bahkan mampu bertahan dengan sedikitnya makanan dan kurangnya nutrisi dari makanan yang dimakan.
Subahnallah, hebatnya orang tua luar biasa itu. Saya yakin di negeri ini bahkan di negeri manapun banyak kita jumpai orang tua seperti itu. Semua kesulitan yang mereka hadapi dalam kehidupan tak ada yang mampu menaklukkan semangat membaranya memberikan kesempatan terbaik buat buah hatinya mengenyam pendidikan. Bahkan ada orang tua yang telah menyiapkan bingkai kosong dirumahnya, khusus untuk photo si anak saat diwisuda. Mereka sungguh ingin melihat anak-anaknya diwisuda.Toga dan photo wisuda itu akan secara ajaib mampu mengeringkan kucuran keringat yang dulunya deras mengalir.Toga itu juga akan mengeringkan air mata yang menghujan saat-saat malam, menemani Qiyamullail mereka.Sungguh mereka berharap buah hatinya benar-benar berhasil kuliahnya.Sungguh mereka menginginkan agar Allah memanjangkan umur mereka sampai mereka bisa melihat anak-anaknya telah memakai toga kebanggaan.
Orang tua kita memang hebat. Pengorbanannya tanpa batas. Tiada pernah dipikirkan kesulitan kehidupan yang menemani hari-harinya. Tiada pernah terpikirkan sakit yang sudah semakin sering melanda fisik mereka yang telah tergerogoti usia. Tiada pernah juga dipikirkan wajah kusut dan keriput kulitnya. Pendek kata sebelum anaknya sarjana, semua masalah tak jadi masalah.Semua kesulitan tak menjadi sulit. Semua ujian tak menjadi ujian. Mereka boleh miskin tapi semangatnya selalu kaya, bahkan jauh melampaui orang-orang kaya.
Lalu bagaimana anak menyikapi pengorbanan luar biasa dari kedua orang tuanya? Lazimnya kehidupan yang berdinamika, berpasang-pasangan, begitu juga dengan penyikapan anak dengan pengorbanan yang luar biasa dari orang tuanya. Ada yang belajar sungguh-sungguh, berprestasi dan segera menyelesaikan kuliahnya. Ada juga tipe mahasiswa yang masa bodoh, mereka hidup dengan hedonis. Meraka terbuai dengan khidupan glamour di kota.
Mereka gunakan uang hasil keringat orang tuanya untuk jalan-jalan, mejeng di mall, makan-makan yang enak, membeli pakaian yang mewah bahkan banyak yang terjebak dengan budaya merokok yang semakin meningkatkan konsumsi kehidupan.Orang tua semakin menua, anak malah semakin manja. Orang tua semakin sering sakit-sakit-sakitan, sang anak semangat belajarnya semakin sakit. Tak punya juga targetan untuk menyelesaikan kuliahnya. Sangat jarang pulang kampung. Kalau pun pulang sebentar sekali, hanya bertamu semalam dua malam saja. Bahkan dikampung pun dia gak banyak dirumah malah jalan-jalan ketempat kenalan lama.Tidak banyak dia berkomunikasi dengan orang tuanya. Tidak banyak cerita yang ingin dia bagi. Padahal dalam setiap pulang kampong anaknya, bukan oleh-oleh berupa makanan, buah-buahan, pakaian yang mereka harapkan.Tapi cerita tentang kuliahlah yang selalu mereka nantikan. Mereka menantikan anaknya bercerita tentang pencapaian prestasi kuliahnya. Berapa tahun lagikah kau kuliah, nak? Cepat-cepat selesai ya, ayah dan emak dah tak sabar melihat photo saat kau diwisuda. Bingkai kosong di pojok ruang tamu menantikan photo gagahmu saat diwisuda nanti. Emak dan ayah dah tak sabar melihatmu jadi sarjana. Sebelum emak dan ayah menutup mata, emak dan ayah ingin melihat engkau diwisuda. Kaulah satu-satunya anak emak yang belum memakai toga. Segera ya nak selesaikan kuliahnya. Agar lengkap dirumah ini anak-anak emak dan ayah yang memakai toga. Emak dan ayah akan selalu mendoakanmu.
Anak yang berbakti adalah anak yang senantiasa tahu bagaimana membahagiakan kedua orang tuanya. Mereka tidak akan pernah memupus harapan ayah ibunya. Mereka akan belajar dengan sungguh-sungguh. Berusaha sekuat tenaga menyelesaikan pendidikannya demi memerekahkan senyuman diwajah orang tuanya.Mereka ingin mengeringkan keringat orang tuanya dengan toga kebanggaan.
Satu malam satu lembar saja! Diam dan mulailah menuliskannya! Bukankah janjimu ingin jadi sarjana? Janganlah membuat mereka meneteskan air mata.Bukankah harapan mereka tidak mengada-ngada? Hanya ingin melihat kamu sarjana! Baju toga itu mengeringkan semua keringat mereka…..Menghapus air mata mereka. Membayar semua pengorbanan mereka. Ingat! Bukan emas dan permata sebagai bentuk balas jasa. Hanya kata sederhana,SARJANA saja! Lupakah kau waktu mereka mengantarmu ke kota, mereka pulang lalu bercerita kepada siapa saja bahwa anak mereka sekarang kuliah dan menjadi calon SARJANA….Mereka lalu menjual apapun yang ada. Mereka mulai menghemat uang belanja.Tahu siapa MEREKA? Berikanlah yang terbaik buat mereka…..
