You are here

RUBRIK

Renungan untuk Mahasiswa

 


    Pendidikan merupakan investasi terbesar dalam kehidupan. Setiap orang tua akan berusaha sekuat tenaga membiayai pendidikan putra-putrinya. Di mana-mana, banyak orang tua membanting tulang mengumpulkan uang untuk menyekolahkan anaknya. Meski dengan menyederhanakan kehidupan, menyempitkan pengeluaran, berhutang sana-sini, semuanya dikorbankan hanya untuk memberikan kesempatan buah hatinya mengenyam nikmatnya bangku pendidikan. Banyak orang tua yang rela berlapar-lapar asal anaknya bisa kuliah dengan tenang.
    Pendidikan diharapakan akan mengangkat prestise mereka di masyarakat. Ada kebanggaan yang menyeruak di dada tatkala buah hatinya mampu dikuliahkan. Mereka ceritakan keberhasilan-keberhasilan yang diraih anaknya kepada semua orang. Mereka bahkan melupakan keringat-keringat nya yang semakin deras mengucur karena kebanyakan kerja. Mereka bahkan lupa untuk sekedar mengisi perut yang lapar karena asyiknya mempersiapkan uang bulanan yang akan diberikan kepada anak kesayangannya. Mereka bahkan mampu bertahan dengan sedikitnya makanan dan kurangnya nutrisi dari makanan yang dimakan.
Subahnallah, hebatnya orang tua luar biasa itu. Saya yakin di negeri ini bahkan di negeri manapun banyak kita jumpai orang tua seperti itu. Semua kesulitan yang mereka hadapi dalam kehidupan tak ada yang mampu menaklukkan semangat membaranya memberikan kesempatan terbaik buat buah hatinya mengenyam pendidikan. Bahkan ada orang tua yang telah menyiapkan bingkai kosong dirumahnya, khusus untuk photo si anak saat diwisuda. Mereka sungguh ingin melihat anak-anaknya diwisuda.Toga dan photo wisuda itu akan secara ajaib mampu mengeringkan kucuran keringat yang dulunya deras mengalir.Toga itu juga akan mengeringkan air mata yang menghujan saat-saat malam, menemani Qiyamullail mereka.Sungguh mereka berharap buah hatinya benar-benar berhasil kuliahnya.Sungguh mereka menginginkan agar Allah memanjangkan umur mereka sampai mereka bisa melihat anak-anaknya telah memakai toga kebanggaan.
    Orang tua kita memang hebat. Pengorbanannya tanpa batas. Tiada pernah dipikirkan kesulitan kehidupan yang menemani hari-harinya. Tiada pernah terpikirkan sakit yang sudah semakin sering melanda fisik mereka yang telah tergerogoti usia. Tiada pernah juga dipikirkan wajah kusut dan keriput kulitnya. Pendek kata sebelum anaknya sarjana, semua masalah tak jadi masalah.Semua kesulitan tak menjadi sulit. Semua ujian tak menjadi ujian. Mereka boleh miskin tapi semangatnya selalu kaya, bahkan jauh melampaui orang-orang kaya.
    Lalu bagaimana anak menyikapi pengorbanan luar biasa dari kedua orang tuanya? Lazimnya kehidupan yang berdinamika, berpasang-pasangan, begitu juga dengan penyikapan anak dengan pengorbanan yang luar biasa dari orang tuanya. Ada yang belajar sungguh-sungguh, berprestasi dan segera menyelesaikan kuliahnya. Ada juga tipe mahasiswa yang masa bodoh, mereka hidup dengan hedonis. Meraka terbuai dengan khidupan glamour di kota.
Mereka gunakan uang hasil keringat orang tuanya untuk jalan-jalan, mejeng di mall, makan-makan yang enak, membeli pakaian yang mewah bahkan banyak yang terjebak dengan budaya merokok yang semakin meningkatkan konsumsi kehidupan.Orang tua semakin menua, anak malah semakin manja. Orang tua semakin sering sakit-sakit-sakitan, sang anak semangat belajarnya semakin sakit. Tak punya juga targetan untuk menyelesaikan kuliahnya. Sangat jarang pulang kampung. Kalau pun pulang sebentar sekali, hanya bertamu semalam dua malam saja. Bahkan dikampung pun dia gak banyak dirumah malah jalan-jalan ketempat kenalan lama.Tidak banyak dia berkomunikasi dengan orang tuanya. Tidak banyak cerita yang ingin dia bagi. Padahal dalam setiap pulang kampong anaknya, bukan oleh-oleh berupa makanan, buah-buahan, pakaian yang mereka harapkan.Tapi cerita tentang kuliahlah yang selalu mereka nantikan. Mereka menantikan anaknya bercerita tentang pencapaian prestasi kuliahnya. Berapa tahun lagikah kau kuliah, nak? Cepat-cepat selesai ya, ayah dan emak dah tak sabar melihat photo saat kau diwisuda. Bingkai kosong di pojok ruang tamu menantikan photo gagahmu saat diwisuda nanti. Emak dan ayah dah tak sabar melihatmu jadi sarjana. Sebelum emak dan ayah menutup mata, emak dan ayah ingin melihat engkau  diwisuda. Kaulah satu-satunya anak emak yang belum memakai toga. Segera ya nak selesaikan kuliahnya. Agar lengkap dirumah ini anak-anak emak dan ayah yang memakai toga. Emak dan ayah akan selalu mendoakanmu.
Anak yang berbakti adalah anak yang senantiasa tahu bagaimana membahagiakan kedua orang tuanya. Mereka tidak akan pernah memupus harapan ayah ibunya. Mereka akan belajar dengan sungguh-sungguh. Berusaha sekuat tenaga menyelesaikan pendidikannya demi memerekahkan senyuman diwajah orang tuanya.Mereka ingin mengeringkan keringat orang tuanya dengan toga kebanggaan.
Satu malam satu lembar saja! Diam dan mulailah menuliskannya! Bukankah janjimu ingin jadi sarjana? Janganlah membuat mereka meneteskan air mata.Bukankah harapan mereka tidak mengada-ngada? Hanya ingin melihat kamu sarjana! Baju toga itu mengeringkan semua keringat mereka…..Menghapus air mata mereka. Membayar semua pengorbanan mereka. Ingat!  Bukan emas dan permata sebagai bentuk balas jasa. Hanya kata sederhana,SARJANA saja! Lupakah kau waktu mereka mengantarmu ke kota, mereka pulang lalu bercerita kepada siapa saja bahwa anak mereka sekarang kuliah dan menjadi calon SARJANA….Mereka lalu menjual apapun yang ada. Mereka mulai menghemat uang belanja.Tahu siapa MEREKA? Berikanlah yang terbaik buat mereka…..

*Puskopdit Gelar RAT Perdana Menjawab Tantangan, Menuju Perubahan

BUKA RAT PERDANA

RAT dibuka Plt. Kadis Koperasi dan UMKM Kalbar, H.M Syahaldin Husman di Hotel Kapuas Dharma Pontianak, Selasa (3/4). FOTO : Hawad Sriyanto/Borneo Tribune.2012-04-042012-04-04


Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Borneo menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) di Hotel Kapuas Dharma Pontianak. Menariknya, kegiatan tersebut dihelat pada saat koperasi ini berdiri belum genap setahun.

Suasana RAT perdana Puskopdit ke-4 di Kalbar dihadiri Ketua dan General Manager Inkopdit Indonesia, Romanus Woga dan Abat Elias, Motivator Credit Union (CU) Paulus Florus, Plt. Kadis Koperasi dan UMKM Kalbar, para pengurus, pengawas dan jajaran manajemen CU Primer anggota.

Ketua Pengurus Puskopdit Borneo, Fransiskus Andi Aziz mengatakan semua peserta RAT memiliki keberanian, kesiapan dan kemampuan menghadapi tantangan yang begitu kompleks.  

“Kita punya niat, punya kemauan, percaya diri dan yakin bukanlah segala-galanya. Tetapi kalau kita tidak pernah memiliki sama sekali niat, kemauan, keyakinan dan percaya diri, maka kita tidak akan pernah memiliki segala-galanya,” kata Andi yang juga Ketua Pengurus CU Keluarga Kudus Pontianak, Selasa (3/4).

Berangkat dari itu, jajaran pengurus koperasi ini semakin optimis melakukan aktivitas sesuai keahlian untuk meningkatkan kualitas sumber daya insan CU. Terlebih, meningkatkan pengelolaan keuangan secara professional sehingga tercipta CU Primer anggota yang sehat dan aman.

Senada dengan Andi, Ketua Inkopdit Indonesia, Romanus Woga, mengatakan gerakan CU yang telah dibangun tak boleh meninggalkan etika dan prinsip dasarnya. Sesuai dengan tema RAT hari ini, yaitu “One Federation, One Voice” semakin mendorong gerakan satu buat semua dan semua buat satu.

Penggiat CU selama 40 tahun ini mengatakan gerakan CU yang telah dibangun selama ini sesungguhnya belum bermakna jika dibanding dengan total penduduk Indonesia sekitar 240 juta.

“Sampai saat ini, diseluruh Indonesia yang menjadi anggota CU baru sebanyak 1,7 juta tergabung dalam 34 Puskopdit,” katanya. Artinya, tantangan dan tugas yang dihadapi insan CU masih besar dan begitu berat, jika menginginkan masyarakat bisa sejahtera melalui CU,” katanya.

Meskipun tantangan begitu berat, Gubernur Kalbar, Cornelis melalui Plt. Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kalbar, H.M Syahaldin Husman mengaku optimis gerakan CU mampu mengubah pola pikir masyarakat Kalbar.

Apalagi kehadiran CU sekarang telah menjangkau ke pelosok kampung, pedalaman, pesisir dan perbatasan. Sehingga usaha itu akan mempercepat proses peningkatan kualitas sumber daya dan pengelolaan ekonomi kerakyatan, meskipun pada proses tahap-tahap awal, para pengurus CU selalu identik dengan sebuah pengabdian pada masyarakat, katanya.

Ekspor Kalimantan Barat didominasi Karet Nilai Ekspor Kalbar Meningkat 43,36 Persen


Kepala BPS Kalbar, Yomin Tofiri menyebutkan Februari 2012, nilai ekspor Kalbar mencapai US$121,17 juta atau mengalami peningkatan sebesar 43,36 persen dibanding Januari 2012 mencapai US$ 84,52 juta, atau turun menjadi US$ 121,17 juta.

Hal itu didukung dengan semua golongan barang mengalami peningkatan nilai ekspor, minus sektor perkayuan terjadi penurunan nilai ekspor. Sementara golongan barang lainnya mengalami peningkatan nilai ekspor komoditi perikanan. Yakni jenis ikan dan udang, rata- rata meningkat sebesar 244,00 persen.

Sedangkan ampas atau sisa industri makanan juga naik sebesar 87,75 persen, biji-bijian berminyak  sebesar 109,52 persen, olahan dari tepung (HS19) sebesar 144,09 persen, lemak dan minyak hewan / nabati sebesar 23,45 persen, tembakau dan hasil ikutan lainnya  sebesar 1.267,14 persen. Terakhir komoditi perabot dan penerangan rumah sebesar 1,97 persen.

Dari 10 golongan barang utama pada Februari 2012, nilai ekspor Kalbar mengalami peningkatan dibandingkan Januari 2012 yaitu dari US$ 84,17 juta menjadi US$ 120,67 juta atau naik sebesar 43,38 persen. Selama kurun waktu itu, nilai ekspor dari jenis komoditi tadi memberikan kontribusi 99,59 persen terhadap total nilai ekspor.

“China, Jepang dan Korea Selatan merupakan tiga negara tujuan ekspor Kalbar terbesar pada Februari ini. Masing-masing sebesar US$ 69,38 juta, US$ 22,68 juta dan US$ 13,47 juta dengan kontribusi sebesar 87,10 persen,” katanya.

Begitu juga dengan ekspor Kalbar ke- 9 negara tujuan utama, pada Februari 2012 mengalami peningkatan sebesar 56,75 persen dibanding Januari. Pada periode  itu nilai ekspor ke 9 negara tujuan mengalami penurunan sebesar 12,26 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama.

Sedangkan tujuan ekspor Kalbar pada waktu yang sama masih didominasi negara Asia dengan kontribusi sebesar 91,70 persen, sedangkan kontribusi nilai ekspor ke negara tujuan utama lain seperti Belanda sebesar 2,54 persen, Argentina sebesar 2,03 persen, danAmerika Serikat sebesar 1,81 persen serta 2,55 persen.

Bulog Siap Beli Beras Petani, Asal?

 

Bulog Devisi Regional (Divre) Kalbar siap membeli beras atau gabah  petani sebanyak mungkin. Sayang, untuk mewujudkan hal itu, pihak Bulog mengalami kendala dalam masalah harga. Dimana harga yang ditawarkan petani masih diatas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Kepala Bulog Divre Kalbar, Harro Bawono mengatakan pihaknya siap membeli sebanyak-banyak hasil panen padi petani asalakan kualitas bagus dan harganya sesuai dengan HPP.
“Ini lah yang menjadi kendala bagi bulog untuk menyerap padi petani lokal sebab harga padi yang ditawarkan masih di atas pasaran,”katanya.
Memang akuinya kualitas beras di petani lokal Kalbar kualitasnya cukup bagus, sayang harga belum bagus di Bulog. Sampai saat ini bulog masih mendatangkan beras dari Jawa, bahkan untuk melakukan pembelian padi beras dan gabah petani, Bolug sudah mendapatkan anggaran dari pemerintah pusat.
Sesuai dengan Inpes Nomor 3 tahun 2012 tentang kebijakan pengadaan gabah atau beras, yaitu untuk beras Rp 6.600 per kilogram, dan gabah Rp 4. 150 per kilogram. Menurut dia HPP itu lebih tinggi dari sebelumnya, dimana satu kilo gram gabah kering giling masih dihargai Rp 3.345 dan Rp 5.060 untuk 1 kg beras. Dengan HPP yang lebih tinggi, dia berharap Bulog makin cepat menyerap beras petani.
“Berapapun banyaknya beras petani akan kita dibeli asalakan harga sesuai dengan Inpres, sebab anggaran yang diberikan sudah sesuai dengan inpres,” paparnya.

Halaman 5 dari 648