You are here

RUBRIK

Membentuk Penampilan Seorang Guru

 

Beberapa waktu lalu saya pergi ke ruangan Prodi Pendidikan di Kampus tempat saya belajar saat ini. Saat itu saya ingin bertemu dengan Ketua Prodi untuk berbicara mengenai proposal saya. Ketika  telah berada di hadapan beliau, beliau memandang  dengan penuh heran, lalu berujar “ Kamu mahasiswa atau tukang urut?” tanyanya.
Sayapun menjawab “ Saya mahasiswa Pak!”.
“Tapi kenapa penampilan kamu seperti tukang urut,” lanjutnya.
Saya masih tidak mengerti dengan ucapan beliau. Saya rasa tidak ada yang salah dengan pakaian saya. Dari sudut ruangan, salah satu staf berbicara kepada saya, “Tasnya diganti dulu”.
Yah saya teringat kalau saya memakai tas slepang bukan tas ransel. Penampilan tukang urut yang beliau maksud adalah seorang mahasiswa yang suka membawa tas slepang khas gaya pergi ke mall atau ke undangan. Memang saat mengajar di kelas pun Bapak ini melarang kami untuk menggunakan tas tersebut.
“Cobalah pakai tas ransel ( tas yang memang biasa digunakan untuk pelajar dan mahasiswa). Ini ngakunya mahasiswa tapi penampilannya seperti tukang urut, seperti orang mau pergi ke mall, pas dilihat isi tasnya pasti  isinya bedak, make-up bukannya buku,” katanya suatu ketika saat melihat ada teman yang memakai tas tersebut.
Pada dasarnya aturan cara berpakaian mahasiswa memang sudah ditetapkan,  namun dalam prakteknya tidak sedikit mahasiswa yang melanggar cara berpakaian.
Saya juga pernah ditegur oleh seorang dosen saat saya mengenakan celana jeans, padahal saat itu saya tidak ada mata kuliah. Hal ini mengajarkan bahwa seorang mahasiswa harus bertanggung jawab akan penampilannya terlebih ketika masih berada di lingkungan kampus.
Seminggu kemudian, saya datang lagi menemui Ketua Prodi. Cara bicara beliau tidak lagi seperti minggu lalu saat saya menggunakan tas selepang tersebut. Pada kesempatan tersebut saya bertanya lebih kenapa memberlakukan aturan itu..
“Ini bukan tidak ada alasannya. Banyak guru-guru di sekolah yang mengomentari penampilan mahasiswa PPL yang tidak menunjukkan penampilan seorang guru. Berawal dari hal tersebutlah menjadi tanggung jawab kami dalam upaya membangun karakter mahasiswa khususnya mahasiswa Prodi  PAI. Mahasiswa adalah agen intelektual, penampilannya menggambarkan karakter mereka, bagaimana bertutur kata, cara berpakaian, cara bersikap sehingga nantinya mereka akan menjadi guru-guru yang professional,“ tutur beliau.
Seorang guru adalah figure sentral bagi para peserta didik. Seorang guru tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya tetapi juga sebagai teladan bagi peserta didik. Zakiyah Drajat berpendapat bahwa syarat menjadi seorang guru hendaklah bertakwa kepada Allah, berilmu, sehat jasmani dan rohani, berakhlak baik, bertanggung jawab, dan berjiwa nasional. Nah, sebagai seorang guru tentunya juga bertanggung jawab akan penampilannya.
Penampilan memang begitu penting, tapi untuk menjadikan guru yang profesional, tentunya juga ditunjang  dengan kemampuan intelektual yang baik  bagi seorang guru. Sebagaimana yang dikatakan Baharuddin dan Makin  bahwa guru merupakan creator tunggal yang dinamis, memiliki fungsi terutama di tengah komunitas peserta didiknya menempati posisi yang lebih baik dari segi kapasitas intelektual, keterampilan maupun aspek kematangan humanisasinya. Sehingga jika seorang guru memiliki semua itu, tidak mustahil menciptakan guru-guru yang professional akan terwujud.

Sekadau Daerah Pemasok Sayuran

  Potensi pertanian dan perkebunan di Sekadau cukup menjanjikan. Terutama jenis komoditi sayuran. Sayangnya, pemanfaatan areal pertanian dan perkebunan jenis sayur ini belum seluruhnya dikembangkan oleh masyarakat di pedesaan secara serius dan berkelanjutan.

 “Kalau kita lihat potensi pertanian dan perkebunan di tempat kita cukup menjanjikan. Tapi, sayang lahan-lahan masyarakat yang ada masih belum dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat kita, terutama untuk jenis sayuran,” kata Sinus, seorang pemuda asal Sekadau, kemarin.
Hamparan luas areal pertanian di sejumlah kecamatan di Sekadau masih kurang dimanfaatkan dengan baik oleh petani. Melihat potensi kata dia, bisa dimanfaatkan baik untuk tanaman kakao, lada, tebu, pisang, sawi, terong maupun jenis sayuran lainnya.
“Alangkah baiknya setelah dibuat ladang, tanami pisang, pepaya, tebu, atau apalah, yang bisa dijual, kalau tidak dijual ke pasar, hasilnya bisa paling tidak untuk keperluan keluarga,” katanya.
Menurutnya saat ini Sekadau belum bisa dikatakan memiliki komoditi tanaman lokal terutama sayuran dan jenis tanaman herbal lainnya. Karena itu, sekarang masyarakat harus giat melihat peluang bisnis terutama bisnis sektor pertanian. Ia menilai jika dilihat dari kondisi tanah Sekadau cukup subur hampir di setiap kecamatan.

“Bayangkan saja sayur kacang panjang, sawi, di pasar Sekadau didatangkan jauh-jauh dari Pontianak. Kalau kita pikir di tempat kita, ini bukan tidak bisa bercocok tanam sayuran,” katanya.

Dirinya memprediksi, jika para petani sadar bahwa potensi yang terbuka lebar untuk peluang bisnis tersebut dimanfaatkan dengan benar, bisa meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga selain mengandalkan menyadap getah, bertani sawit dan perkebunan lainnya. Namun hal yang paling diharapkan Pemkab bisa berupaya bagaimana cara merubah pola pikir masyarakat petani di Sekadau agar lebih baik di massa akan datang.

“Kendalanya, pola pikir petani tradisional masyarakat petani kita ini penting dirubah perlahan-lahan, termasuk juga sumber daya manusia,” saran mantan mahasiswa Politeknik Tonggak Equator Pontianak.

Persipon Siapkan Pemain, Hadapi Laga Divisi I

 


Tim berjuluk Elang Khatulistiwa, Persipon asal Pontianak melakoni persiapan untuk berlaga pada ajang lanjutan Divisi I Liga Indonesia. Perombakan pemain juga dilakukan. Hanya saja, jadwal bertanding belum bisa dipastikan, baik tanggal atau lokasi pertandingan.

Kepastian sekarang, Persipon akan berlaga satu grup dengan tim asal Palu Sulawesi Tengah, yakni tim dari Kabupaten Pasir Tanah Grogot Kaltim. Serta Persikutim atau Persikubar.

Menurut Ketua Persipon, Paryadi direncanakan perhelatan lanjutan Divisi I akan digelar pertengahan April. Namun semua itu tergantung keputusan PSSI, yang mana hingga saat ini PSSI belum memastikan secara resmi. Begitu juga keputusan runner up Persipon antara Persikutim dan Persikubar. Sejauh ini Komisi Disiplin PSSI belum memutuskan, siapa dari keduanya yang akan maju ke babak selanjutnya.

"Persikubar belum tahu dia kena sanksi atau tidak. Kalau kena sanksi, berarti Persikutim yang lolos," kata Paryadi.

Wakil Walikota Pontianak ini menjelaskan, putaran kedua akan menggunakan sistem home-away di tiga daerah, yakni Kaltim, Sulteng, dan Pontianak. Ia berharap, Pontianak bisa menjadi tuan rumah di akhir laga menjamu para lawan. Alasannya, untuk mendongkrak dukungan para supporter.

PDRB Kota Singkawang Rp 14,21 Juta

 

Walikota Singkawang, Hasan Karman mengatakan, angka PDRB perkapita Kota Singkawang pada kurun waktu empat tahun mengalami peningkatan. Pada 2008 angka PDRB perkapita sebesar Rp 11,25 juta, 2009 sebesar Rp 12,18 juta, 2010 sebesar Rp 13,51 juta dan 2011 sebesar Rp 14,21 juta.

“ Data itu diperoleh dari hasil perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Singkawang,”kata Hasan, belum lama ini. Ia mengatakan, data ini menggambarkan peningkatan PDRB perkapita dari tahun ke tahun selama kurun waktu 2008-2011 dengan rata-rata mencapai 8,12% pertahun.

Berdasarkan perhitungan sementara Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2011, struktur perekonomian Kota Singkawang masih didominasi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 41,68 persen, diikuti oleh sektor jasa sebesar 14,01 persen, dan sektor pertanian sebesar 12,42 persen, dan masing-masing sektor selebihnya memberikan kontribusi di bawah 10,00 persen.  

Sedangkan tingkat pertumbuhan ekonomi Kota Singkawang tahun 2011 sebesar 5,65% atau naik 0,11 poin dari tahun sebelumnya, yakni sebesar 5,54%. Pertumbuhan ekonomi Kota Singkawang sejak 2008-2011 sebagai berikut: Pertumbuhan ekonomi pada 2008 sebesar  4,90 persen, 2009 sebesar 4,88 persen,  2010 sebesar 5,54 persen, dan 2011 sebesar 5,65 persen.

“Berdasarkan data ini terlihat adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan dari tahun ke tahun sejak 2008-2011, dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi pertahun mencapai 5,24%,” katanya.

Dikatakan Hasan, selain PDRB yang alami peningkatan, PAD Kota Singkawang berdasarkan perhitungan APBD Kota Singkawang tahun anggaran 2011 realisasi sebesar Rp 506,7 milyar lebih. Realisasi ini  melebihi target yang ditetapkan yaitu sebesar Rp 502,7 milyar.

Total pendapatan daerah di atas, diperoleh dari  sumber pendapatan daerah meliputi, PAD sebesar Rp 35,3 milyar lebih, dana perimbangan sebesar Rp 368,5 milyar, dan pendapatan lainnya yang sah sebesar Rp. 102,8 milyar lebih.

Sedangkan proyeksi total belanja daerah dan pembiayaan daerah pada 2011 sebesar Rp 506,8 milyar lebih. Dari proyeksi total belanja tersebut, terealisasi  sebesar Rp 469,1 milyar lebih.

Dikatakan olehnya, realisasi pembiayaan daerah 2011 sebesar Rp 31,7 milyar lebih dengan rincian sebagai berikut: Penerimaan pembiayaan sebesar Rp 13,9 milyar lebih, terdiri dari, sisa lebih perhitungan anggaran 2010 Rp 13,4 milyar, meliputi: Penerimaan pinjaman daerah sebesar 8,5 milyar lebih dan penerimaan piutang daerah sebesar 4,7 milyar lebih. Sedangkan pengeluaran pembiayaan daerah sebesar Rp 4,7 milyar terdiri: penyertaan modal pada Bank Kalbar sebesar Rp 700 juta dan pembayaran pokok hutang Rp 4 milyar lebih.




Halaman 4 dari 648