You are here

RUBRIK

Angkutan Darat Sumbang Deflasi

 

Kepala BPS Kalbar Yomin Tofri mengatakan angkutan darat penyumbang deflasi terbesar di Pontianak yakni angkutan darat sebesar -0,8580 persen. Dan deflasi Pontianak Maret 2012 sebesar -0,44 persen disebabkan penurunan sejumlah harga barang dan jasa, katanya, Senin (2/4) di Aula BPS Kalbar.

Deflasi yang terjadi pada Maret 2012 karena adanya penurunan indeks pada dua kelompok pengeluaran dan kenaikan indeks pada lima kelompok pengeluaran.

Pengeluaran yang mengalami penurunan indeks yaitu kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar -0,01 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks yaitu kelompok bahan makanan sebesar 0,14 persen.

Bila dibandingkan laju inflasi 2012 sudah berjalan selama 3 bulan sebesar 2,20 persen. Sedangkan inflasi periode yang sama pada 2008- 2011 masing-masing sebesar 4,21 persen, 1,73 persen, 2,51 persen, dan 1, 42 persen.

"Deflasi tertinggi secara berurutan terjadi di Pontianak sebesar -0,44 persen,  Singkawang -0,43 persen dan Tarakan -0,21," jelasnya.

Dia menambahkan untuk Indonesia dari 66 kota yang dihitung inflasi pada Maret 2012, 34 kota mengalami inflasi dan 32 kota mengalami deflasi. Termasuk Pontianak. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Ambon sebesar 1,32 persen dan terendah di  Malang sebesar 0,01 persen.

Garap Pekarangan Rumah, Dapat Nilai Tambah

Banyak warga masih kurang peduli menggarap lahan pekarangan rumah. Padahal jika lahan terlantar itu digarap dengan baik dapat menghasilkan uang. Seperti menanam jenis sayuran dan buah-buahan bisa menghasilkan uang.

Berangkat dari itulah Dinas Koperasi dan UMKM Kalbar terus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan rumah sebagai penopang kebutuhan sehari-hari dengan menanam komoditi unggulan.
“Kita dorong terus masyarakat untuk kreatif mengembangkan usaha produksi dengan memanfaatkan pekarangan rumah,” kata Kepala PLT Dinas Koperasi dan UMKM Kalbar, Syahaldin Husman, belum lama.
Sebenarnya tidak ada alasan bagi masyarakat untuk tidak bisa mengembangkan tanaman produksi meski tidak memiliki lahan. “Kalau kita jeli, masyarakat bisa memanfaatkan pekarangan yang sempit bisa dioptimalkan sebagai sumber pendapatan,” katanya.
Misalnya dengan menanam cabe dan sayuran dengan menggunakan 3-20 polybag dalam satu kawasan bisa mendatangkan rupiah bila hasil panen di jual di pasaran.
Sebaliknya, jika masyarakat terkendala dalam penjualan, pihaknya akan mendorong dengan pembentukan koperasi sehingga hasil produksi tanaman bisa laku di pasaran. Keuntungan lain, para ibu rumah tangga bisa mendapatkan penghasilan tambahan tanpa harus kerja di luar rumah.
Sejauh instansi pihaknya sudah melakukan sosialisasi bagaimana pemanfaatan pekarangan yang baik. Salah satunya membentuk kelompok masyarakat atau dalam wadah koperasi untuk membantu pemodalan para ibu rumah tangga yang tertarik dengan bisnis ini.
“Selain cabe, terong juga berpotensi untuk dikembangkan tanpa harus memerlukan perlakuan teknik tanam khusus sehingga mudah dikembangkan para ibu rumah tangga,” katanya.

Dorong Industri Hilir, Topang Ekonomi Kalbar

 

Kadis Perindustrian dan Perdagangan Kalbar, Soezarsono Soekran mencatat struktur perekonomian Kalbar kurun waktu 5 tahun terakhir terjadi pergeseran sektoral. Dimana sektor industri relatif menurun dan digantikan oleh sektor perdagangan. Penurunan peranan sektor industri itu disebabkan menurunnya kinerja industri perkayuan.
Soezarsono menjelaskan sektor perdagangan semakin memberikan peranan yang penting dalam perekonomian daerah dengan menggeser peranan sektor industri. Apalagi daerah Kalbar merupakan daerah yang cukup banyak menghasilkan produk primer yang laku di pasaran, sehingga kegiatan ekspor komoditas daerah selalu  meningkat dari tahun ke tahun.
Salah satunya adalah sektor komoditi CPO yang merupakan salah satu produk utama Kalbar masih belum bisa diekspor melalui pelabuhan Kalbar karena keterbatasan infrastruktur pelabuhan, sehingga bea ekspor CPO tidak masuk ke Kalbar melainkan pelabuhan yang mengekspor di daerah luar Kalbar.
Pengamat Ekonomi Untan, Ali Nasrun mengatakan sektor industri adalah sektor yang dijadikan persyaratan kemajuan ekonomi di Kalbar. Sedangkan melalui industri, pemerintah bisa mendapatkan nilai tambah dengan datangnya komoditi  dari daerah sendiri, bukan dari daerah lain.
“Jadi yang harus dilakukan pemerintah adalah mendorong industri hilir sehingga Kalbar bisa mendapatkan nilai tambah,” kata Ali.
Contohnya karet dan sawit, jika produksi komoditi ini bisa ditingkatkan, nilai perdagangan bisa mendapatkan nilai tambah dibanding daerah lain. Begitu juga dengan lapangan pekerjaan. Meski dari sektor perdagangan, penyerapan tenaga kerja tidak begitu besar, bila dibandingkan dengan industri, penyerapan tenaga kerja jauh lebih besar, dan pada akhirnya dapat mengentaskan angka kemiskinan di daerah.
“Untuk mengembangkan perekonomian dan memecahkan permasalahan lapangan pekerjaan adalah membangun sektor industri,” jelasnya.
 Ia pun berharap industri yang dibentuk melalui kawasan industri tidak direpotkan dengan pembebasan lahan, izin amdal, dan infrastruktur untuk mengangkut bahan baku agar sampai di Kabupaten Pontianak. Apabila hal itu dilakukan maka keuntungan dari nilai tambah industri itu akan meningkatkan perekonomian di Kalbar.

Harga BBM Tetap, Harga Sembako Melambung

Sembako

Meski kenaikan harga BBM ditunda tetap tidak bisa mengembalikan harga barang ke posisi semula FOTO

Meski pemerintah menunda kenaikan harga BBM, tetapi harga sembako di pasaran tetap melambung. Hal itu disebabkan lantaran isu kenaikan BBM sudah terlanjur heboh menyebabkan harga barang sulit untuk turun. Hal tersebut diungkapkan Pengamat Ekonomi, Untan Ali Nasrun, belum lama ini.
Menurutnya, penundaan kenaikan harga BBM tidak bisa mengembalikan harga barang seperti semula, apalagi jika kenaikan BBM tersebut ditunda, maka harga barang juga akan tetap naik. Yang terjadi, pemerintah hanya bisa menjaga sistem pendistribusian barang. “Jangan sampai pendistribusian barang mengalami hambatan, ini yang harus dicermati,” katanya.
Bahkan dirinya memprediksi, operasi pasar yang dilakukan pemerintah juga tetap tidak berjalan efektif jika tidak dilakukan pada semua komoditi. “Ini memang konsekuensi dari pemberitaan kenaikan BBM, akibatnya sekarang ini harga barang naik sulit kembali pada posisi semula,” katanya.
Apalagi kenaikan BBM ditunda sampai 6 bulan tentu akan menyulitkan penyetaraan harga. Karena bulan ini akan masuk dalam masa kritis setelah lebaran. Yang terjadi, Indonesia menjadi negara krisis seperti Yunani.

Halaman 7 dari 648