You are here

RUBRIK

Memperkenalkan Kembali BMT

 

Perkembangan perekonomian yang berlandaskan syariah Islam di Indonesia khususnya di Pontianak dewasa ini menunjukkan kemajuan yang sangat pesat, dibuktikan dengan berbagai macam lembaga keuangan yang ada mencoba untuk mengembangkan usahanya dengan membuka unit layanan syariah. Seperti kita lihat kini, telah banyak lembaga keuangan seperti perbankan telah membuka cabang yang berbasis syariah. Di Pontianak saja kini telah ada berbagai macam perbankan syariah selain Bank Muamalat yang merupakan perbankan yang berbasis Syariah pertama kali, seperti Bank Mandiri Syariah (BSM), BRI Syariah, Bank Kalbar Syariah, BNI Syariah dan Insyaaallah akan terlahir kembali perbankan lain yang berbasis syariah. Demikian halnya dengan BMT (Baitul Mal wa Tamwil), keberadaannya memang sangat menjanjikan bisnis usaha mikro yang berlandaskan syariah Islam.
Kehadiran BMT ini merupakan sebuah media untuk terwujudnya kemaslahatan ummat. Bagi kalangan tertentu seperti cendikiawan atau ulama mungkin telah mengetahui apa itu BMT, tetapi bagi masyarakat awam pengetahuan terhadap BMT masih dirasa kurang. Oleh karenanya di sini saya ingin memperkenalkan kembali tentang lembaga keuangan yang satu ini.
BMT adalah sebutan ringkas dari Baitul Maal wat Tamwil atau Balai-usaha Mandiri Terpadu, yang merupakan sebuah Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) yang memadukan kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat setempat. Yang kegiatannya hampir sama dengan perbankan, namun lebih terfokus kepada pengembangan usaha – usaha ekonomi produktif dengan mendorong kegiatan menabung dan membantu pembiayaan kegiatan usaha ekonomi anggota dan masyarakat lingkungannya. BMT juga dapat berfungsi sosial dengan menggalang titipan dana sosial untuk kepentingan masyarakat, seperti dana zakat, infaq dan sodaqoh dan mendistribusikannya dengan prinsip pemberdayaan masyarakat sesuai dengan peraturan dan amanahnya.
Menurut Abdul Aziz dan Maria Ulfa dalam bukunya “Kapita Selekta Ekonomi Islam Kontemporer (2010: 110) Defenisi secara bahasa baitul mal berasal dari kata “Bayt” dalam bahasa Arab memiliki arti rumah, dan al-Maal berati harta. Secara etimologis , Baitul Maal berarti  Khazinatul Maal, yaitu tempat untuk mengumpulkan atau menyimpan harta. Inilah pengertian tentang BMT, namun perlu kita ketahui bahwa tren BMT ini berubah dari Baitul Maal saja menjadi Baitul Maal wa Tamwil adalah pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Jadi bisa dikatakan bahwa BMT itu lembaga ekonomi atau keuangan syariah non perbankan yang sifatnya informal.
Hingga sekarang BMT semakin berkembang dan dikenal di berbagai daerah salah satunya di Pontianak. Dengan adanya BMT ini sangat diharapkan tujuannya yang diperuntukkan mewujudkan kehidupan keluarga dan masyarakat di sekitar BMT yang selamat, damai dan sejahtera terrealisasi dengan nyata. Karena BMT ini dioperasikan dengan bagi hasil, menumbuh kembangkan bisnis usaha mikro dan kecil, dalam rangka mengankat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin.
Dengan demikian, sekarang para pengusaha kecil menengah kebawah tidak perlu merasa khawatir lagi dengan dana atau biaya atau modal yang kurang karena dengan adanya BMT ini dapat mempermudah kelancaran usaha yang saat ini dilakoni atau jalani tanpa khawatir dengan Riba. Atau dengan .kata lain dengan BMT ini dapat melayani masyarakat yang tak terlayani system perbankan, baik dari segi permodalan maupun dari keabsahannya dalam Agama Islam.

Masyarakat Cerdas adalah Masyarakat yang Dapat Memilih Pemimpin Berkualitas

‘Memilih’ memang bukan suatu pekerjaan yang gampang.  Tak semudah yang kita bayangkan, tak semudah kita membalikkan telapak tangan. Karena jika kita salah menentukan sebuah pilihan, akhirnya penyesalanlah yang akan kita dapatkan. Tidak semua orang dapat memilih sesuatu sesuai dengan apa yang ia harapkan. Terkadang banyak orang yang terjebak pada sebuah pilihan, dan tak sedikit pula yang sukses karena pilihan yang ia tentukan.
Orang yang sukses karena pilihannya sendiri, biasanya menanamkan semboyan "pengalaman adalah guru yang paling berharga". Karena kita tidak mungkin mau jatuh pada lubang yang sama, tentu kita ingin adanya perubahan dalam hidup kita. Perubahan yang dapat membawa kita pada kejayaan. Perubahan yang dapat membawa kita pada kemakmuran, kedamaian dan ketentraman. Melalui pilihan tentu kita ingin maju lebih baik. Lantas pertanyaanya adalah, di manakah letaknya sebuah pilihan ? Bercermin dari masa lalu adalah pilihan, mengharap dan menanti masa depan juga sebuah pilihan, bahkan tidak memilihpun adalah sebuah pilihan juga.
Oleh karena itu, kita harus dapat memaknai hidup yang penuh dengan pilihan ini dengan sebaik mungkin. Karena idealnya setiap manusia yang hidup di dunia ini selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang mungkin sebagian orang menganggap sebagai sebuah ujian, sebagian lagi menganggap sebagai cobaan, dan bahkan ada yang beranggapan barangkali Tuhan sedang memberikan bala' kepadanya. Terlepas dari konteks ujian dan cobaan, tulisan ini sebenarnya ingin membawa pembaca pada sebuah fenomena yang sering muncul dihadapan kita. Yakni bagaimana sikap kita untuk menentukan sebuah pilihan terhadap seorang pemimpin yang notabenenya sebentar lagi akan kita laksanakan.
Di Kalimantan Barat khususnya, dalam hitungan bulan masyarakat Kalbar akan dihadapkan pada penentuan sebuah keputusan terkait pemilihan Gubernur (Pilgub) 2012. Dalam hal ini masyarakatlah yang berkewajiban dan bertanggung jawab untuk menentukan siapa pemimpin mereka yang pantas diperjuangkan untuk naik kesinggasana sebagai pemimpin dan orang nomor satu di Kalbar.
Dengan memilih salah seorang dari sekian banyaknya pasangan yang diusungkan, baik dari partai polotik maupun independen, sejatinya masyarakat telah mengambil langkah dan keputusan untuk menentukan nasib serta perubahan bangsa dan tanah air mereka melalui kepemimpinan pemimpin yang mereka pilih.
Orang bijak selalu berkata, “baik buruknya nasib suatu bangsa, tergantung pada pemimpinnya”, oleh karena itu, masyarakat dituntut untuk cerdas dalam mengambil setiap keputusan. Terlebih lagi dalam menentukan pilihan terhadap seorang pemimpin. Masyarakat hasrus cerdas memilih pemimpinnya yang benar-banar dapat menuntun pada sebuah kondisi yang lebih baik. Bukan pemimpin yang hanya menjual janji manis semata. Setidaknya dalam hal ini, ada beberapa unsur yang harus diperhatikan, seorang pemimpin yang hendak dipilih adalah seorang elite politik yang memiliki tanggung jawab besar, haruslah memiliki pengetahuan yang luas. Unsur ini sangat penting di masa kini. Mengapa demikian? Agar dapat berubah lebih cepat dalam persaingan yang ketat dan cepat dimana lingkungan yang sangat tidak pasti untuk ke depan, pemimpin harus mampu berfungsi sebagai katalis dalam problem solving, toleran terhadap resiko, berfikir dalam gambaran keseluruhan dengan keahlian teknis yang menonjol, fokus dalam mengembangkan hal-hal yang tidak terukur, serta memiliki keterampilan dalam segala hal.
Pemimpin harus memiliki keterampilan dalam mengorganisasikan informasi dengan baik dan mengkomunikasikannya dengan jelas, singkat, dan persuasif, keterampilan untuk menganalisis informasi yang kompleks sampai membuat keputusan yang tepat berdasarkan pendekatan secara logis. Biasanya seorang pemimpin akan mencari solusi atau jawaban yang terbaik, bukan jawaban yang ingin banyak didengar oleh bawahannya.
Jadi, sekarang silahkan melihat kembali kriteria apa saja yang dimiliki para calon pemimpin kita yang bertarung dalam beberapa bulan ini. Apakah termasuk dalam kriteria pemimpin yang ideal atau tidak? Ingat, nasib Kalbar ada di tangan rakyat. Jadi apa yang kita pilih sangat menentukan agar Kalbar lebih baik lagi di masa mendatang, paling tidak untuk lima tahun ke depan.

Majalah Dinding di Sekolah

 

Ternyata masih banyak guru dan kepala sekolah yang tidak mendukung program majalah dinding di sekolah. Itulah kesimpulan yang saya peroleh ketika berbincang-bincang dengan 40-an guru yang mengajar di berbagai sekolah dasar di Kabupaten Kubu Raya,  Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Landak beberapa waktu lalu.
Kesimpulan ini membuat saya prihatin. Sedih banget. Saya sempat mengandai, andai saya kepala dinas pendidikan kabupaten itu, guru-guru ini akan saya wajibkan mengikuti kuliah lagi agar mengerti bahwa majalah dinding adalah bagian yang penting dalam upaya menumbuhkan gairah membaca dan menulis di kalangan siswa. Majalah dinding merupakan salah satu hal penting untuk menumbuhkan budaya akademik di kalangan siswa.
Jika setelah kuliah lagi mereka (guru-guru itu) masih juga tidak mengerti, saya akan tawarkan mereka pensiun dini, atau apapun tindakan yang membuat mereka berhenti menjadi guru.
Ya, orang tidak mau belajar dan orang yang tidak mau melakukan perubahan yang baik, tidak boleh menjadi guru. Bagaimana dia bisa menjadi guru sedangkan dia tidak mau belajar. Tidak mungkin guru bisa mengajak siswa-siswa menjadi orang yang suka belajar atau sosok pembelajar, jika guru itu sendiri tidak mau belajar. Tidak mungkin budaya akademik akan tumbuh di kalangan siswa jika guru sendiri tidak ingin budaya itu tumbuh.
Tetapi, tentu saja saya hanya mengandai. Sebab tidak mungkin saya menjadi kepala dinas pendidikan. Bukan saja jabatan itu bukan jalur saya, tetapi juga bukan ‘bidang saya’. Tentu saja saya hanya mengandai kosong.
Bahkan mungkin, kalaupun itu jalur saya, saya akan seperti umumnya kepala dinas selama ini, yang tidak berkesempatan melihat hal-hal yang kecil seperti itu. Kepala dinas tidak terpandang soal bagaimana budaya akademik di kalangan siswa karena tugas-tugas besar jauh lebih banyak dan menuntut perhatian.
Mana lagi, kadang-kadang orang yang diangkat sebagai kepala dinas bukanlah orang terbaik untuk posisi itu. Kita tidak mendengar bahwa selama ini kepala dinas dipilih dari kalangan guru atau administrator yang memiliki karir terbaik dari semua orang.  Pengalaman memimpin dan kesuksesan memimpin lembaga pendidikan tidak selalu menjadi pertimbangan utama saat penunjukan.
Yang kita dengar, justru kadang orang yang diangkat sebagai kepala dinas kadang hanyalah orang yang dikenal dekat dengan kepala daerah. Atau, orang yang mungkin menjadi tim sukses – sekalipun dalam peran di belakang layar. Orang yang ditunjuk adalah orang yang mungkin bisa mengamankan kepentingan penguasa.
Karena itulah sekalipun ada kekecewaan yang membuncah ketika mendengar guru-guru dan kepala sekolah  tidak mendukung adanya kegiatan majalah dinding di sekolah, saya masih harus menarik nafas dalam-dalam dan menahan diri. Mungkin harapan saya yang terlalu besar ketika menginginkan budaya menulis tumbuh sejak dini di sekolah, sedangkan pada kenyataannya sebenarnya budaya itu tidak diperlukan. Barangkali ya?

Kanwil DJP Kalbar Targetkan Pajak Rp 4,1Triliun

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Kalbar, Winarto Suhendro mengatakan, tahun 2012 ini, pihaknya menargetkan rencana penerimaan pajak sebesar 4,10938 triliun, dan target ini meningkat sekitar 30,02 persen dari target tahun sebelumnya, 3,16046 triliun.


“Ini bukan jumlah yang mudah untuk dicapai, dan ini merupakan tantangan yang harus diselesaikan dengan usaha yang maksimal untuk hasil optimal,” kata Winarto Suhendro, Selasa (27/3) di Hotel Rumah Makan Bumbu Desa, pada acara Media Gathering.

Dikatakan oleh Kakanwil, sampai dengan 26 Maret kemarin, realisasi penerimaan pajak dari target penerimaan pajak tahun 2012 adalah sebesar Rp 531,03 miliar atau sekitar 12,92 persen, sedangkan persentase pertumbuhannya, adalah sebesar 14,07 persen.

Untuk mencapai target penerimaan pajak 2012, Kanwil DJP Kalbar akan memfokuskan beberapa point. Diantaranya penggalian potensi pajak pada sektor dominan perdagangan besar dan eceran, industri pengelohan, perantara keuangan, kontruksi, pertanian, serta perburuan dan kehutanan.

“Sektor dominan memberikan kontribusi sebanyak 76,42 persen terhdap total penerimaan pajak. Kami akan lebih fokus pada sektor-sektor ini,” jelasnya.

Dijelaskan olehnya, ada dua faktor penting yang sangat mempengaruhi tercapainya target penerimaan pajak, yakni, tingkat kepuasan wajib pajak yang tinggi atas pelayanan pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak yang tinggi.

“Kita akan berupaya meningkatkan kepatuhan dan kepuasan wajib pajak dengan melaksanakan imbauan agar wajib pajak taat bayar pajak,” ujarnya.

Saat ini, kepatuhan wajib pajak di Kanwil DJP Kalbar mencapai angka 48,86 persen di tahun 2011, dan angka ini memang belum mencapai target yang telah ditetapkan sebesar 62,50 persen.
Selanjutnya...

Halaman 8 dari 648