Warga beberapa desa di Kecamatan Binjai ketakutan setelah mengalami intimasi berbau SARA yang diduga dilakukan salah satu tim pasangan calon pada pemilukada di Kabupaten Sintang.
Warga beberapa desa di Kecamatan Binjai ketakutan setelah mengalami intimasi berbau SARA yang diduga dilakukan salah satu tim pasangan calon pada pemilukada di Kabupaten Sintang.
Intimidasi tersebut bertujuan untuk melarang serta menghalang-halangi masyarakat dalam memilih salah satu pasangan calon tertentu yang ikut dalam pemilukada di Kabupaten Sintang. “Beberapa waktu yang lalu ada segerombolan orang yang mendatangi desa kami. Kami tidak tahu persis apakah mereka itu tim atau hanya orang yang mencari perhatian saja. Namun yang jelas mereka menggunakan istilah suku dan melarang kami untuk memilih salah satu pasangan calon,” ungkap seorang warga di Kecamatan Binjai yang enggan disebutkan identitasnya.
Bahkan, salah satu desa yang terletak di Kecamatan Binjai ada sebuah pertemuan yang dilakukan disalah satu rumah oknum aparat desa. Pertemuan tersebut bermaksud untuk mengarahkan masyarakat agar memilih pasangan calon tertentu.
Tak hanya itu, dalam arahan tersebut juga ditegaskan apabila salah satu pasangan calon yang dilarang untuk dipilih warga dan ternyata menang di kawasan desa tersebut, maka akan berbuntut pada pengusiran warga setempat. “Kami tidak berani lapor. Karena kami takut nyawa dan keluarga kami jadi terancam. Kalau kondisinya tetap seperti ini, maka bisa jadi pada hari Rabu, tanggal 19 Mei nanti, kami memilih golput saja. Dari pada kehidupan kami terancam,” imbuhnya.
Apalagi, katanya melanjutkan, sejumlah oknum yang melakukan intimidasi itu juga menyatakan akan datang kembali bila ada warga desa yang melaporkan kedatangan mereka kepada polisi.
Oleh karena itu, saat ini masyarakat Binjai dihantui rasa ketakutan yang mendalam dan terancam tidak berani untuk menggunakan hak pilihnya pada pemilukada, karena intimidasi tersebut.
Meskipun Kapolres Sintang, AKBP. Firly R Samosir, beberapa waktu menegaskan masyarakat dipersilahkan untuk melaporkan kepada polisi, apabila merasa tak aman atau diintimidasi terkait pelaksanaan pemilukada di Kabupaten Sintang.
Namun, masyarakat sepertinya cenderung memilih untuk berdiam diri dan menyimpan rapat-rapat rasa ketakutannya itu. Sehingga tidak membahayakan keselamatan keluarga mereka. “Sebenarnya polisi mengetahui adanya berbagai ancaman atau intimidasi yang berkembang di masyarakat menjelang pemilukada pada tanggal 19 Mei. Makanya kami meningkatkan upaya keamanan. Namun tanpa dasar yang jelas, polres juga tidak bisa melakukan tindakan yang lebih jauh,” kata Kapolres Sintang.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
