You are here

Memilih Model Kampanye Pemilukada yang Efektif

Masa kampanye pemilukada di 6 kabupaten di Kalbar telah berlangsung. Kampanye sendiri merupakan sebuah upaya yang terorganisir, bertujuan untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan seorang pemilih. Sebagai salah satu fase dalam pemilukada, kampanye menjadi krusial  karena berkaitan dengan fungsi persuasive dan provokatif yang menentukan perolehan suara. Kampanye juga memiliki potensi konflik antar kandidat dan antar masa pendukung.

Pengamat politik Sintang, Kurniawan mengatakan ada tiga model komunikasi politik yang bisa digunakan dalam pemilukada berkaitan dengan masa kampanye ini. Tiga model komunikasi tersebut adalah model komunikasi linear, interaksional dan transaksional.

“Komunikasi linear ini dalam pendekatannya menggunakan beberapa elemen kunci. Antara lain sumber, pesan dan penerima.  Model komunikasi ini mengasumsikan bahwa seseorang itu hanya sebagai pengirim atau penerima, dan ini adalah pandangan yang sangat sempit,” paparnya.

Sementara menurutnya model komunkasi interaksional lebih menekankan pada proses komunikasi dua arah. Yaitu dari pengirim kepada penerima dan sebaliknya.

“Orang-orang yang menerapkan model komunikasi ini adalah mereka yang mengembankan potensi manusiawinya melalui interaksi social. Tepatnya melalui pengambilan peran orang lain,” tegasnya.

Satu hal yang perlu dicatat dari model komunikasi interaksional adalah bahwa antara pengirim dan penerima adalah sederajat. Satu hal yang penting dalam model komunikasi ini adalah umpan balik atau feedback.

Model komunikasi politik yang umum digunakan juga menurut Wawan adalah model komunikasi transaksional. Komunikasi ini dikembangkan menggarisbawahi pengiriman dan penerimaan pensa yang berlangsung secara terus-menerus.

“Nah, dari model komunikasi tersebut, agar kampanye menjadi efektif ada tiga hal penting yang mempengaruhinya,” katanya.

Tiga hal tersebut adalah segmentasi, muatan pesan dan positioning.

Pada sisi segmentasi, pelaku kampanye harus membedakan antara pemilih loyalitas dan pemilih mengambang. Pemilih mengambang sendiri dibedakan menjadi  3 sub kelompok. Yaitu mereka yang selama ini belum pernah memilih, mereka yang berpikir untuk berganti pilihan dan mereka yang tidak tahu kandidat yang akan dipilih. Dari peta segmentasi tersebut menurutnya memahami secara menyeluruh segmentasi pemilih menjadi menentukan kampanye politik yang akan dilakukan. Selain akan memahami kebutuhan pemilih juga akan menentukan strategi yang tepat untuk mendekati pemilih.

“Interaksi antara komponen segmentasi pemilih, muatan pesan dan positioning kandidat harus mewujud dalam sebuah strategi dengan tema yang up date dan menyeluruh, mampu menangkap momentum dan terpadu. Dengan demikian barulah bisa dinilai apakah kampanye itu efektif atau tidak.” tegasnya.