Pengamat politik Kabupaten Sintang, Kurniawan mengatakan angka golput pada pemilukada Sintang tidak akan melebihi 20 persen dari jumlah pemilih. Namun data dari sejumlah daerah menunjukan angka golput cenderung meningkat.
Pengamat politik Kabupaten Sintang, Kurniawan mengatakan angka golput pada pemilukada Sintang tidak akan melebihi 20 persen dari jumlah pemilih. Namun data dari sejumlah daerah menunjukan angka golput cenderung meningkat.
Di Desa Baning Kota, Kecamatan Sintang, dari 5.520 pemilih, hanya 4.118 pemilih yang menggunakan hak suaranya, sedangkan 24 diantaranya merupakan suara tidak sah. Jumlah pemillih yang tidak menggunakan hak pilihnya mencapai 1.401 suara atau sekitar 25,5 persen.
Sementara di Desa Sungai Ana, yang dimekarkan dari Desa Baning Kota, terdapat sekitar 447 pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya dari sekitar 2000-an lebih pemilih. “Banyak yang tidak ada di tempat saat pemilihan, dan sebenarnya orang-orang itu saja yang selalu tidak mau menggunakan hak pilihnya dalam beberapa kali pesta demokrasi,” ungkap salah seorangan anggota PPK, Desa Baning Kota dan Desa Sungai Ana, yang enggan disebutkan identitasnya.
Angka golput yang tinggi juga terjadi di Kecamatan Sungai Tebelian. Di kecamatan yang memiliki 19 desa ini, sekitar 5.452 pemilih dari 21.129 pemilih yang tercatat dalam DPT yang tidak menggunakan hak pilihnya. Angka tersebut setara dengan 26 persen pemilih yang golput. “Selain banyak yang tidak ada di tempat, banyak juga yang beralasan lebih baik pergi noreh ke kebun daripada ikut milih. Karena buat mereka siapapun bupatinya tidak akan merubah kehidupan mereka,” ungkap Camat Sungai Tebelian, T.E Sandin saat dikonfirmasi melalui ponselnya.
Sementara itu, pengamat politik Sintang, Kurniawan, mengatakan salah satu faktor yang dominant sebagai penyebab tingginya angka golput adalah amburadulnya DPT. “Kalau yang tidak ikut memilih 5.000 orang, itu artinya memang tidak ada yang 5.000 orang itu. Jawaban dominan untuk pertanyaan tingginya angka golput yang sangat logis adalah tidak akurasinya DPT,” ujarnya.
Tingginya angka golput di daerah yang relatif mudah diakses oleh
perkembangan informasi, menurutnya, akan berbanding terbalik dengan daerah di pedalaman. Sebab dari beberapa kali pemilihan, angka partisipasi politik pemilih dengan menggunakan hak pilihnya di pedalaman lebih tinggi. Ia pun menyebut angka partisipasi pemilih yang bisa mencapai 80 persen di sejumlah
kecamatan yang jauh dari ibukota kabupaten. Meski tingginya angka partisipasi tersebut, ternyata masih menyisakan tanda tanya yang besar, karena diduga rawan terjadi kecurangan dalam proses pengembalian logistik ke PPK dan KPU. “Namun saya masih optimis bahwa angka golput pemilukada Sintang tak akan lebih dari 20 persen. Paling hanya berkisar antara 10-15 persen,” kata Kurniawan.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
