You are here

Terima Kasih Polisi

Walau kepastian tewasnya gembong teroris Dulmatin dalam baku tembak dengan aparat kepolisian di Pamulang, Tangerang, Banten, Selasa (9/3), masih belum bisa dipastikan, namun setidaknya kita patut memberi apresiasi kepada polisi yang sudah berhasil menembak mati pelaku terorisme di tanah air.

Walau kepastian tewasnya gembong teroris Dulmatin dalam baku tembak dengan aparat kepolisian di Pamulang, Tangerang, Banten, Selasa (9/3), masih belum bisa dipastikan, namun setidaknya kita patut memberi apresiasi kepada polisi yang sudah berhasil menembak mati pelaku terorisme di tanah air.

Kita patut mengucapkan terima kasih kepada polisi yang sudah mendahului langkah para teroris yang sudah berulang-ulang kali membikin resah dengan serentetan teror bom.

Cukup sudah kita merasakan kerugian akibat teror bom tersebut. Baik korban nyawa maupun harta. Apa pun alasannya, teror bom bunuh diri itu tidaklah dibenarkan. Sebab justru orang-orang yang tidak berdosa menjadi korbannya.

Selain itu, kita juga mendapat kerugian karena dunia internasional tidak berani berkunjung ke Indonesia karena alasan keamanan.

Singkat cerita, bom itu lebih pada perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, orang yang tidak menghargai ciptaan Tuhan, bahwa semuanya mempunyai hak untuk menikmati kehidupan yang bebas dari rasa takut dan sebagainya.

Andai saja bila polisi kalah sigaf atau intelijen-intelijen tidak bekerja akurat, maka kita tidak bisa membayangkan daerah mana lagi yang akan menjadi sasaran mereka berikutnya.

Kita selama ini sudah lelah menyaksikan daerah yang pernah mereka bom. Hanya kepiluan yang kita rasakan. Kita tidak bisa membayangkan bila ada teror bom baru lagi di negeri yang sudah dapat dikatakan aman ini.

Sekali lagi, kita salut dengan aparat kepolisian. Pretasi mereka patut dihargai. Bandingkan saja dengan negara lain, polisi selalu kalah cepat dengan aksi para terorisme. Setelah kejadian baru datang polisi.

Walau di berbagai kasus, kadang polisi juga punya kelemahan. Tapi setidaknya, dengan dilumpuhkannya pergerekan terorisme yang baru ini, yang dimulai dari Aceh hingga kemarin pengerebeken di Pamulang, Banten, kita patut mensyukurinya, bahwa ternyata polisi kita terutama Densus 88 masih bisa diandalkan.

Setidaknya, masyarakat kini tambah percaya dengan keberadaan Densus 88. mulai dari rentetan kejadian bom pertama menguncang negeri ini, hingga bom bali dan terakhir di Ritz Charton dan JW Mariott, polisi berhasil mengungkap bahkan membongkar jaringan pelakunya.

Tidak hanya membongkar dan menangkap pelakunya hidup-hidup, tapi juga beberapa diantaranya ditembak mati, karena melakukan perlawanan dengan polisi.

Kembali ke Dulmatin. Ia memang kerap kali dikabarkan tewas di Filipina, namun sejauh ini belum ada bukti yang akurat. Sosok buronan kelas kakap dalam kasus terorisme itu namanya pernah disebut-sebut sebagai pelaku bom Bali.

Selama ini Dulmatin memiliki segudang nama atau alias. Misalnya, Amar Usman alias Muktamar alias Djoko Pitono. Namanya makin populer setelah polisi memasukkan Dulmatin dalam daftar pencarian orang (DPO).

Namun terlepas dari itu semua, kita berharap tidak ada lagi orang yang mau mengikuti jejak Imam Samudra, Noordin M Top, Azhari dan terakhir Dulmatin. Semogalah!