Persoalan pelayanan publik, khususnya pelayanan jasa air minum di negeri ini tidak ada habisnya. Musim hujan air melimpah. Bila hujan terus- terusan menjadi bencana. Sebaliknya, bila kemarau tiba hampir seluruh daerah menjadi kering. Yang sengsara adalah warga, kesulitan mendapatkan air bersih.
Jangan jauh- jauh. Di Kalbar misalnya. Boleh dipastikan hampir seluruh daerah kesulitan menyediakan air bersih kepada warga. Mulai dari daerah pesisir paling ujung, Kabupaten Sambas sampai daerah paling hulu, Kapuas Hulu.
Padahal bila kita himpun sejumlah perusahaan air minum lokal di daerah sudah menjamur. Di Singkawang misalnya, sudah ada tiga perusahaan air minum lokal pasaran sudah merambah seluruh Kalbar tapi di Kota itu masih terjadi krisis air bersih untuk warga. Belum lagi daerah perusahaan air minum di Bengkayang, Melawi, Sanggau dan daerah lainnya.
Bila kita runut data sumber mata air di Kalbar memilik potensi yang besar menyediakan dan mengalirkan air sampai ke pemukiman warga. Banyak riam atau sumber air terjun sampai sekarang belum dimanfaatkan dengan baik. Seperti Riam Merasap di Kecamatan Sajingan Besar, Sambas, sampai riam- riam di daerah lain.
Kendala yang dihadapi, sumber air tadi melimpah di daerah perbatasan dan pedalaman sehingga pemerintah daerah kesulitan menyediakan infrastruktur pemasangan pipanisasi dari daerah pedalaman sampai pemukiman warga perkotaan. Celakanya lagi, pemerintah daerah kita lebih menggantungkan sumber dana dari pusat atau dari bantuan asing untuk membangun daerah kaya air.
Bila kita mau jujur. Pemerintah daerah sebenarnya bisa saja menggunakan dana daerah untuk kepentingan daerah. Seperti menyisihkan anggaran daerah untuk pembangunan pipanisasi tanpa harus menunggu bantuan dana pusat.
Hanya saja kebijakan pengalokasian daerah selama ini tidak fokus. Seperti pengajuan anggaran proyek jalan, belanja pegawai dan lainnya. Yang terjadi, selama kepala daerah memimpin daerah dalam satu periode tidak ada yang fokus menangani pembangunan daerah.
Meskipun baru-baru ini, Bupati Kabupaten Sambas, Juliarti menegaskan dalam lima tahun memimpin akan fokus kepada penyediaan air bersih kepada warga. Mulai dari pengelola sumber mata air, pengalokasian anggaran sampai membuka peluang kepada investor yang ingin mengelola air di daerah.
Memang, janji itu belum terealisasi. Paling tidak ada penegasan kepada pemimpin daerah kepada warganya. Bahwa pelayanan air bersih mutlak dilakukan karena sudah menyangkut hajat hidup orang banyak.
Menjalin kerjasama dengan investor juga baik dilakukan asal sama- sama menguntungkan. Namun tidak baik jika pemerintah daerah menyerahkan sepenuhnya pengelolaan air kepada perusahaan.
Apalagi data menunjukkan - Indonesia masih menghadapi tantangan yang besar dalam pembangunan sanitasi dan air minum. Menuju target di tahun 2015 telah disepakati bersama dengan 189 negara lainnya dalam hasil Milenium Development Goals (MDGs), pemerintah Indonesia masih harus bekerja keras untuk meningkatkan akses layanan sanitasi dan air minum pada umumnya.
Senget
//Harge Aek Lebeh Mahal Harge Bensin//
//Bise-Bise Kite Beli Aek Kayak Antre BBM//
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
