You are here

Menyelesaikan Permasalahan Kota Pontianak

Tanggal 23 Oktober  2011 lalu, Pontianak menyambut hari ulang tahun ke-240. Hari lahir itu diperingati dengan meriah dan dengan banyak acara. Pontianak memang terlihat agak lain dari biasa di hari itu. Ada banyak pesta diselenggarakan. Termasuk pesta kawin massal, peresmian copy street,  dan lomba membunyikan meriam.

Kita turut dalam kegembiraan itu. Kita mensyukuri pencapaian yang sudah kita peroleh. Kita bersyukur juga karena umur yang panjang.

Hanya saja, rasanya kita masih merasakan ada yang kurang hari ini. Pencapaian yang kita peroleh di hari ini belum memuaskan kita. Kita sudah tua tetapi kemajuan kita belum seberapa. Kita maju di satu sisi, namun, di sisi lain kita tertinggal.

Salah satu catatan kita adalah pada upaya mewujudkan kota yang ramah lingkungan. Kita mendengar keinginan pemimpin kita mewujudkan kota yang nyaman.

Tetapi, di sisi lain, kenyamanan itu belum dirasakan. Masih sering terdengar ada keluhan publik soal kota yang semakin panas karena tak ada pohon pelindung. Pohon pelindung kurang. Kita sering mendengar pejalan kaki diabaikan karena jalan-jalan yang dibangun masih kecil, dan semakin kecil karena ada orang lain yang merengsek berdagang di tengah jalan. PKL liar bermunculan membuat sumpek keadaan.

Kita sering mendengar orang mengeluh kota yang kotor karena petugas kebersihan tak berdaya dan berkemampuan terbatas. Sampah berserakan di mana-mana. Sampah menyumbat parit dan mengakibatkan genangan air. Lalu, kita semua menikmati banjir.

Besar harapan kita, agar ke depan persoalan ini benar-benar bisa di atasi. Kita berharap agar pemerintah dapat berusaha membenahi persoalan ini sehingga dengan demikian keluhan dapat diminimalisir.

Diperlukan kemauan yang keras dari pemerintah untuk mewujudkan hal itu. Perlu kebijakan dibuat. Perlu juga pengawasan untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik. Bahkan, hukuman juga diperlukan untuk menunjukkan bahwa pemerintah memiliki aturan yang harus dipatuhi warga.

Tapi, kita sadar, pemerintah juga tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada bantuan dari masyarakat. Perlu ada partisipasi massa. Justru itu sebenarnya, bantuan masyarakat akan semakin memudahkan mewujudkan semua harapan itu.

Kita katakan demikian karena seringkali masalah pemerintah semakin bertambah karena tambahan masalah yang diberikan oleh masyarakat. Misalnya, masyarakat tidak mendukung pemerintah menanam pohon. Ironinya, sering kali justru ada oknum masyarakat yang merusak pohon yang sudah ditanam oleh pemerintah.

Pemerintah kualahan membersihkan lingkungan karena armada terbatas dan tenaga yang kurang. Ironinya, sering kali soal sampah semakin sulit ditangani karena masyarakat membuang sampah sembarangan. Ada oknum masyarakat yang membuang sampah sesuka hati mereka di tempat yang tidak seharusnya.

Seringkali pemerintah sulit mengatasi banjir karena parit-parit yang ada ditutupi oleh sejumlah orang. Orang menacapkan tiang di atas parit. Orang menutup parit untuk jalan mereka. Parit yang tertutup lantas kemudian diisi dengan sampah-sampah yang dibuang sembarang itu.

Mudah-mudahan, senyampang dengan peringatan HUT Pontianak ini, tumbuh kesadaran dari pemerintah untuk memberikan perhatian maksimal pada persoalan kota,  dan tumbuh juga kesadaran masyarakat untuk membantu dan meringankan beban kerja pemerintah. Sukses selalu.

 

Senget ….

Pontianak sudah berumur 240 tahun

Tue sangatttt dah….  Nyaman jak yang kurang.