You are here

Menggali Makna Kesaktian Pancasila

Hari kesaktian pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober selalu diwarnai dengan perayaan upacara bendera, hari untuk memperingati bahwa Pancasila tetap sakti.

Adalah dulu ketika Orde Baru berkuasa, setiap tanggal 30 September malam diputar film berjudul Pengkhianatan G 30-S/PKI di televisi. Film yang sama dan berulang-berulang selama 12 tahun berturut-turut hingga hafal jalan ceritanya. Film horror yang maha menakutkan itupun hampir membekas pada pemirsa.

Namun, setelah Orde Baru tumbang, banyak orang yang akhirnya bersuara. Banyak orang yang merasa tidak bersalah dan dipersalahkan, adapula yang menyebutkan PKI cuma kambing hitam dari intrik dan ambisi segelintir orang untuk meraih kekuasaan.

Sampai sekarang, misteri seputar peristiwa yang menjadi titik balik revolusi di Indonesia masih gelap.

Mungkin peristiwa 1965 adalah pelajaran sejarah Indonesia yang paling rumit. Ditambah lagi dengan buku pelajaran sejarah yang dibaca anak-anak SD, SMP, dan SMA berbeda dengan pelajaran sejarah tempo dulu. Jika dulu SMP hingga perguruan tinggi di seluruh Indonesia mengikuti Penataran P4 yang merupakan indoktrinasi Pancasila yang selalu menekankan bahaya laten PKI. Tapi kini Penataran P4 tidak ada lagi bahkan pelajaran PMP dan mata kuliah Pancasila juga dihapuskan.

Akibatnya, negara tetap membiarkan keraguan ini terus menyeruak di tengah masyarakat.

Sejak itupun, tidak ada lagi kewajiban mengibarkan bendera setengah tiang tanda perkabungan nasional yang digelar setiap tanggal 30 September.

Guru-guru di sekolah pun tak bergairah lagi untuk menjelaskan kejahatan dan kebiadaban PKI. Zaman telah berubah, begitupun pandangan-pandangan masyarakat tentang PKI yang dulu dianggap ‘luar biasa’.

Kegelapan sejarah ini ternyata bukan saja dialami oleh mereka yang lahir setelah tahun 1965, tetapi juga mereka yang sudah lahir beberapa tahun sebelumnya. Akhirnya para guru-guru di sekolah dibiarkan memilih sumbernya sendiri untuk menjelaskan hal itu kepada murid-muridnya, sehingga mereka pun tidak tahu tentang peristiwa besar yang mewarnai perjalanan bangsa.

Maka setiap orang bisa menulis sejarah itu dalam memorinya sendiri, dengan persepsi dan versinya sendiri. Banyak peristiwa yang tidak kita pahami dan terima secara bersama. Ini adalah titik rapuh yang serius bagi bangsa kita, karena kebangsaan kita sebenarnya dibangun dengan pengalaman sejarah yang sama dan hanya akan bisa dipertahankan dengan kebersamaan dalam ’menulis’ sejarah yang sama pula.

Elite-elite yang berada pada pusaran sejarah peristiwa-peristiwa tersebut masih begitu berat untuk bicara jujur dan meletakkan pelita untuk menerangi babak-babak sejarah itu.

Pertimbangan melindungi diri terlihat begitu kuat daripada kepentingan bangsa, dan membiarkan bangsa ini tidak pernah berdamai dengan masa lalunya.

Peringatan hari kesaktian Pancasila yang dibarengi dengan insiden 1965 mestinya menitikberatkan pada penyesalan dan keprihatinan atas jutaan nyawa rakyat Indonesia yang melayang.

Namun, hal lain membuktikan bahwa Pancasila itu ampuh dan berhasil menghalau dan menumpas komunis dan Partai Komunis Indonesia (PKI) dari muka bumi Indonesia dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari kehancuran pada percobaan kudeta PKI tahun 1965. Benarkah demikian? Apakah arti sesunggunya di balik peringatan ini?

Jawabannya ada pada diri kita masing-masing, mencoba untuk merenung, apakah kita masih berperilaku seperti yang tersirat dalam jiwa pancasila? atau apakah kita sudah melenceng?

 

---senget---

Upacara Hari Kesaktian Pancasila jarang

Mungkin saktinya sudah hilang…