You are here

Mengamankan Masyarakat dari Teror

Bom meledak di sebuah gereja di Solo, pekan lalu. Berbagai spekulasi muncul terkait teror itu.

Dari sekian banyak informasi, dugaan tentang keterlibatan tangan teroris begitu menguat. Pelaku diduga bagian dari kelompok terror yang selama ini menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat. Mereka disebut sebagai golongan radikal.

Walaupun ada banyak pertanyaan yang menggelayut di benak kita di balik dugaan ini, namun, kita tidak dapat menolak asumsi-asumsi yang muncul. Kita juga tak memiliki informasi untuk membantah dugaan itu.

Namun, lepas dari siapa yang melakukannya, kita melihat ada fakta yang menarik di sini.  Ada bom yang meledak. Ledakan itu, telah menimbulkan kepanikan. Kepanikan seluruh Indonesia. Ledakan itu telah menjadi topic baru mengganti topic sebelumnya: Nazarudin, Demokrat, Kemenpora, Muhaimin dan Kemenakertrans. Bom itu untuk sejenak membawa kita ‘berdamai’ dari kisruh korupsi sistematis di negeri ini.  

Lantas, mengapa orang bisa membawa bom? Bagaimana orang bisa membuat bom? Bagaimana orang mendapatkan bahan-bahannya?

Rasanya pertanyaan ini sama pentingnya dibandingkan pertanyaan yang dispekulasikan itu: siapa pelakunya. Pertanyaan tentang alat yang dipakai sebenarnya sama pentingnya dibandingkan motif pelaku, jika tujuan kita semua ingin mencarikan solusi agar hal serupa tidak terulang lagi.  

Pertanyaan tentang alat akan membuat kita bertanya mengapa  kita cukup longgar membiarkan bahan-bahan untuk membuat bom dijual bebas di pasar?

Kenyataan yang penting: cukup sering kita melihat bom ukuran kecil dijual di depan mata kita. Mercon. Ya, mercon relative bebas diperjualbelikan di tengah masyarakat. Ledakan kecilnya bisa terdengar di momen-momen tertentu.

Mengapa bisa? Tanyakan saja pada pemerintah. Mengapa ada izin penjualan mercon? Atau mengapa pura-pura tidak melihat ada orang yang menjual mercon di tengah masyarakat?

Tanyakan juga pada polisi. Mengapa polisi di lapangan tidak berdaya mengatasi maraknya penjualan mercon? Mengapa langkah penertiban seperti senin kemis? Hari ini ditertibkan, besok ledakan terdengar lagi.

Tak bisakah polisi mencari agen pemasoknya? Tak bisakah polisi mengendus siapa pengusaha yang mengageninya?

Peredaran bahan peledak seperti ini merupakan contoh bahwa gerakan mengatasi terror di tengah masyarakat belum dilakukan dengan serius. Langkah yang diatur belum sistematis. Mungkin, boleh kita katakan, langkah mengatasi terror hanya langkah formal. Bukan langkah yang benar-benar ditempuh. Bukan bagian dari gerakan bersama melakukan pemberantasan.

Bukankah kita juga pernah terpinga-pinga mendengar laporan media bahwa kelompok radikal justru dipelihara oleh orang tertentu? Bukan kita mendapat laporan bahwa orang tertentu menjadi penyumbang dana untuk kelompok radikal itu?

Karena itulah, melihat apa yang dilakukan pemerintah, khususnya aparat keamanan sekarang ini, kita lantas bertanya: hanya segitukah cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi terorisme?