Beberapa bulan terakhir ini, lapak-lapak penjualan langsat Punggur menghiasi jalan-jalan di Kalbar. Harganya pun beragam. Tergantung jarak dan lokasi penjualan. Bila di wilayah Kota Pontianak-Kubu Raya, sudah pada kisaran Rp 4000-Rp5000 per kilogramnya.
Bila ingin lebih murah, kita bisa beli dan panen langsung di kebunnya di Desa Punggur Besar ataupun Punggur Kecil, Kecamatan Sungai Kakap.
Buah berkulit tipis berwarna kuning ini cukup terkenal lantaran manisnya. Selain itu juga, biji yang berada di dalam isi putihnya, kebanyakan tidak berukuran besar sehingga enak langsung dikunyah.
Namun sayang, namanya tak setenar kemanisan rasa. Langsat Punggur kalah popular dengan duku Palembang. Bagaimana membuatnya dikenal luas di Indonesia? Pada panen Langsat di Desa Punggur Gubernur Kalbar Drs Cornelis, MH mengatakan ‘Langsat kita hanya butuh dipromosikan dan dikemas sehingga dapat bersaing dengan baik di pasaran’.
Bahkan Gubernur Cornelis menyarankan agar belajar kenapa anggur bisa sampai ke Indonesia dalam kondisi masih segar.
Lalu kenapa baru sekarang? Padahal langsat sudah ada dan sudah dipanen sejak dahulu. Rasa manis dan gurihnya pun sudah dirasakan sejak lama? Jadi peran siapa untuk memperkenalkan secara luas produk pertanian ini? kok tidak lakukan sejak dahulu? Sudah beberapakali sudah berganti pemerintahan?
Sulitkah mempromosikan produk yang memiliki nilai jual tinggi dan citarasanya tidak diragukan lagi? Mahal dan repotkahuntuk membuat Langsat Punggur tenar?
Bila itu dilakukan, berapa banyak rakyat tertolong dan terangkat perekonomiannya. Tentu dampaknnya juga luar biasa bagi Kalimantan Barat. Selain bisa menjadi ikon, perekonomian rakyat juga bergerak, pajak masuk dan dengan sendirinya pemenuhan akan pendidikan dan kesehatan akan tercapai.
Semoga apa yang diinginkan dan diajarkan bisa terwujud. Jaya Langsat Punggur, sejahtera Kubu Raya, Kalbar maju.
BANG BUNE
Realisasi Retribusi Parkir Baru 47 Persen
Masak sih, sisanya kemana?
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
