You are here

Ketika Nasionalisme Dipertanyakan

Dulu di era Orde Baru (Orba) semangat nasionalisme begitu tinggi. Bahkan cenderung dipaksakan kepada setiap warga negara. Bagi yang macam-macam sudah dicap makar dan sebagainya.

Dulu di era Orde Baru (Orba) semangat nasionalisme begitu tinggi. Bahkan cenderung dipaksakan kepada setiap warga negara. Bagi yang macam-macam sudah dicap makar dan sebagainya.

Barangkali, cap makar itu dewasa ini orang yang beda pendapat dan lumrah di alam demokrasi.

Untuk memperkuat rasa nasionalisme itu, di sekolah-sekolah wajib hukumnya untuk menerapkan pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Dan itu sudah ada sejak pendidikan dasar hingga Perguruan Tinggi.

Dan salahsatu metode untuk memahami PMP itu, gencar dilakukan penataran P4 (Pedoman, Pendidikan dan Pengamalan Pancasila) mulai dari pola 45 jam, 50 jam hingga 100 jam. Dan bagi siswa yang sudah memegang sertifikat P4 itu mempunyai kebanggaan tersendiri, karena ada nilai plus bila melanjutkan pendidikan ke jenjang yang di atasnya.

Tak cukup P4, di sekolah PMP menjadi mata pelajaran utama. Sebab dia akan menjadi ciri khas dan model dalam bersikap maupun dalam pergaulan sehari-hari baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat.

Metode lain untuk mengamalkan Pancasila dan UUD 1945 itu, tentu dengan adanya lomba cerdas cermat mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Bahkan di tingkat nasional punya kebanggaan yang tidak terhingga, karena akan ketemu langsung Presiden Suharto, ketika itu.

Nah, di era reformasi PMP mulai di kesampingkan. Bahkan kita bangsa Indonesia sempat kehilangan arah dan kendali mau dibawa ke mana pergaulan hidup sehari-hari. Reformasi betul-betul mencuci otak kita dari sekat-sekat nasionalis menjadi terbuka atau dengan bahasa mahasiswanay neoliberalisme lebih menonjol.

Setelah kurang lebih berjalan 10 tahun, kayaknya rasa nasionalisme khususnya di kalangan generasi muda semakin tipis. Banyak diantara anak muda tidak hapal lagi Pancasila, apalgi UUD 1945. Dulu murid SD sudah hapal Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945, tapi sekarang, jangankan UUD 1945, Pancasila yang hanya lima butir itu tidak hapal.

Nah, berangkat dari itu barang kali perwakilan kita yang duduk di MPR RI mulai lagi melokukan kampanye rasa nasionalisme itu. Dan kemarin, MPR bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kalbar menggelar lomba cerdas cermat yang diikuti 18 SMA se-Kalbar. Lomba sendiri berlangsung di gedung Zamrud Khatulistiwa, Jalan A Yani, Senin (22/10).

Sebagai orang awam dan cinta dengan bangsa yang besar yang bernama Indonesia yang lebih menekankan pada rasa nasionalisme, kita cukup memapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh MPR tersebut. Sebab muaranya juga sama, kelak peserta didik terutama para pelajar SLTA hapal kembali Pancasila dan UUD 1945 tersebut, termasuk bagian yang sudah diamandemen.

Dengan demikian, maka dalam kehidupan sehari-hari mereka bisa bersikap tenggang rasa dan saling menghargai seperti dulu lagi. Bukan demokrasi yang kebablasan seperti sekarang ini. Orang dengan gampang menghojat, melontarkan kata-kata kasar tanpa melihat siapa yang dihojat. Pendek kata, sedikitpun tidak ada rasa hormat terhadap orang lain.

Nah, mudah-mudahan dengan dimulainya kembali kampanye soal moral ini, baik lewat cerdas cermat maupun bentuk lainnya, kita kembali menata diri untuk menunjukkan kepada pihak luar bahwa kita tidak hanya slogan ketimuran, tapi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Pada saat yang sama nasionalisme itu tetap subur dan benak generasi muda. Semoga.