Berbeda itu indah, sehingga bisa menjadi daya pikat bagi yang memandangnya. Lihat betapa indahnya taman bunga yang kuncupnya tengah mekar. Dia ditakdirkan tumbuh berbeda sehingga indah dipandang mata.
Berbeda itu indah, sehingga bisa menjadi daya pikat bagi yang memandangnya. Lihat betapa indahnya taman bunga yang kuncupnya tengah mekar. Dia ditakdirkan tumbuh berbeda sehingga indah dipandang mata.
Begitupun dengan umat manusia. Dia tidak pernah minta dilahirkan dengan warna kulit tertentu, atau suku tertentu. Namun dia lahir sesuai dengan keinginan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.
Tuhan sengaja menciptakan perbedaan itu untuk dipahami dan disyukuri agar tercipta keharmonisan hidup diantara manusia yang saling berbeda itu.
Dan perbedaan itulah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia saat ini. Indonesia memang beda dengan negara lain yang hanya dihuni satu atau dua suku bangsa saja, kita di Kalimantan saja sudah ratusan sub suku, apalagi Indonesia, mungkin saja ribuan sub suku bangsa itu. Dan itulah yang membentuk Indonesia sehingga lahir istilah Bhineka Tunggal Ika—berbeda-beda tetapi tetap satu. Dan kebinekaan itulah yang menjadi perekat bangsa ini.
Dan itu pulalah yang coba dihargai kami di Borneo Tribune. Kita melihat tokoh besar, yakni almarhum KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur yang sanggup melihat perbedaan itu sebagai suatu kehindahan dan kekayaan dari bangsa Indonesia yang tidak pernah di miliki oleh bangsa lain di dunia ini.
Kita mengapresiasi itu dengan memberikan award puralisme itu baik kepada Gus Dur maupun kepada sejumlah tokoh lokal yang kita anggap layak menerimanya.
Tentu kami juga tidak sembarangan menentukan tokoh yang menerimanya, tapi mereka memang selama ini aktif memperjuangkan pluralisme itu di tengah-tengah komunitasnya. Atau paling tidak terlihat dari kehidupan mereka hari-harinya.
Seperti dikatakan kerabat dekat Gus Dur, Khofifah Indar Parawansa, bahwa untuk membangun kekuatan dari berbagai perbedaan itu tidak cukup hanya diucapkan, tapi bagaimana memunculkan sikap understanding, respek dan trust.
Understanding, yakni sikap saling memahami, saling mengerti. Kalau tidak saling memahami, tidak saling mengerti bagaimana kita bisa membangun interaksi sehingga bangsa ini tetap kokoh sempai sekarang?
Untuk membangun itu, tentu setiap orang harus saling membangun komunikasi. Dan komunikasi itu juga salahsatu upaya untuk saling memahami perbedaan yang ada itu.
Selanjutnya bagaimana membangun sikap trust atau saling percaya. Perpaduan kedua sikap itulah yang bisa membentuk pluralisme dan multikulturalisme.
Nah, itulah yang menjadi tugas kita bersama. Mudah-mudahan dengan adanya award pluralisme yang digagas Borneo Tribune ini bisa menjadikan kita semua sadar, bahwa sesungguhnya perbedaan itu indah. Dan indah itu damai. Dan damai itu sumber kekuatan untuk membangun kota ini, daerah ini dan Indonesia ini. Itulah esensi dari pluralisme dan multikulturalisme yang ditanam dalam-dalam oleh seorang Gus Dur.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
