Berbicara Partai Demokrat pimpinan Anas Urbaningrum dalam sepuluh tahun terakhir perolehan suara melonjak naik dan berhasil mengalahkan partai seniornya, Golkar dan PDIP.
Bahkan di Kalbar, angka perolehan kursi sejumlah daerah juga melonjak drastis lantaran menerima aura kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku Dewan Pembina Partai Demokrat. Salah satunya, kursi di DPRD Kalbar menempatkan 10 kursi bagi Kader Demokrat, naik tiga kursi pemilu legistalif sebelumnya.
Wajar bila Musda Demokrat di Kalbar gemanya sampai ke mana- mana. Apa sebab? Tidak lama lagi, rakyat Kalimantan Barat bakal melangsungkan Pemilihan Umum Kepala Daerah. Tentu sekaranglah saatnya para elite politik sudah memetakan siapa dan kemana arah politik berkiblat.
Gubernur Kalbar, saat ini dijabat Cornelis sudah berterusterang akan maju kembali Pemilukada mendatang bersama partai yang membesarkannya, PDI Perjuangan. Calon pesaingnya, Morkes Effendi, mantan Bupati Ketapang yang juga Ketua DPD Golkar Kalbar juga menyatakan maju sebagai calon Gubernur.
Kira-kira siapa lagi yang akan masuk bursa pencalonan? Belum terlihat gawenya. Tapi nama Suryadman Gidot bisa jadi menjadi kuda hitam bursa pencalonan Gubernur. Namanya mencuat pada kancah politik Kalbar setelah berhasil meraih sukses Pemilihan Kepala Daerah Bengkayang .
Pengalaman politiknya juga jangan diragukan. Gidot pernah menjadi anggota maupun Ketua DPRD Bengkayang kurun waktu 1999-2004. Saat itu berpasangan dengan Drs. Jacobus Luna, pria asal Pejampi, Kecamatan Seluas ini selama periode 2005-2010 menjabat sebagai Wakil Bupati Bengkayang.
Langgeng sebagai Bupati Bengkayang 2010-2015, Suryadman Gidot berpasangan dengan Agustinus Naon, juga diusung oleh Partai Demokrat yang memiliki satu fraksi utuh di DPRD Bengkayang serta Partai Hanura.
Apalagi dukungan Wakil Gubernur Kalbar, Cristiandy Sanjaya dan Wakil Walikota Pontianak, Paryadi secara terang- terangan masuk dalam kepengurusan Demokrat. Tentu akan menambah kuat mesin politik Demokrat, meski Demokrat di pusat diterpa isu sejumlah isu kasus yang mencuat di media massa.
Jangan lupa, namanya juga politik, semuanya bisa berubah. Lawan jadi kawan, sebaliknya kawan bisa menjadi lawan.
Tinggal menunggu keputusan dari para elite politik kita yang menentukan siapa figure yang bisa memenangkan bursa pencalonan kepala daerah Kalbar? Yang pasti rakyat Kalbar yang menentukan pilihan calon, dan figure mana yang layak dan yang tidak untuk dipilih memimpin Kalbar. Bukan tergantung brand partai.
Jika sudah begitu? Partai harus bisa menjalankan amanatnya. Bagaimana partai harus bisa mencerdaskan rakyat dan transparansi penggunaan anggaran partai. Bukan sebaliknya, membohongi rakyat demi kekuasaan sesaat.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
