Meskipun agak sulit untuk menuduh bahwa kunjungan kerja (kunker) yang dilakukan oleh Presiden, Gubernur, Bupati maupun Wali Kota menjelang setahun berakhir masa jabatan mereka adalah kampanye terselubung yang dilakukan oleh sang incumbent demi melanggengkan kekuasaan menjelang setahun pelaksanaan Pilpres maupun Pemilukada di seantero Indonesia.
Namun secara politis, agaknya aroma kampanye terselubung seolah menjadi sulit ditepiskan dari setiap aktivitas yang dilakukan oleh sang petahana tersebut. Kecurigaan publik itu bukan tanpa alasan. Terlebih selama sekitar empat tahun berkuasa, sang incumbent boleh dikatakan sangat jarang sekali mau melakukan kunker hingga ke daerah pedalaman. Dengan beragam dalih maupun alasan.
Apalagi kondisi infrastruktur serta sarana maupun prasarana di daerah pedalaman masih sangat terbatas. Bahkan tak jarang banyak ditemui kondisi infrastruktur jalan yang seolah menyerupai ’kubangan kerbau’. Namun hal itu seolah tak menjadi aral bagi para penguasa demi melanggengkan kekuasaan mereka.
Ironisnya, militansi yang dipertontonkan sang petahana dalam mengarungi sejumlah medan yang berbahaya demi menemui rakyatnya hanya dilakukan ketika menjelang setahun pelaksanaan Pilpres maupun Pemilukada saja. Sebelumnya, mereka terkesan emoh untuk mendengarkan beragam keluhan masyarakat yang berada di daerah pedalaman maupun di kawasan perbatasan. Mendengarkan keluhan rakyat saja emoh, apalagi mau mengunjungi rakyat secara langsung di lapangan. Hehehehe. Agaknya hal itu masih jauh dari yang diharapkan. Dan boleh jadi impian itu masih jauh api dari panggang.
Memang tak bisa dipungkiri bahwa sang petahana maupun sang incumbent mempunyai beragam keuntungan atas jabatan yang diembannya. Salah satunya bisa melakukan kunker di akhir masa jabatannya dengan menggunakan beragam fasilitas serta pembiayaan yang ditanggung oleh negara. Meskipun sulit bagi publik untuk menuduh bahwa kegiatan tersebut adalah kampanye terselubung yang dibungkus rapi dengan sebutkan kunker.
Sejauh ini sejumlah fasilitas negara yang kerap dipergunakan oleh sang petahana di akhir masa jabatannya dalam melakukan ’kunker’ ke sejumlah daerah pedalaman. Diantaranya, mobil dinas, aset tak bergerak, pembiayaan serta suprastruktur pemerintahan. Mulai dari tingkat pusat hingga pada tatanan grass road sekalipun. Intinya, semua potensi kekuatan akan dimanfaatkan sebesar-besarnya demi melanggengkan kekuasaan.
Jelang pemilukada…
Aroma kampanye terselubung mulai tercium…
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
