Mempromosikan entuyut atau kantong semar, sebagai tumbuhan yang mulai langka membuat H Sulaiman (71) memproduksi souvenir entuyut. Tumbuhan dengan nama latin Nepenthes ini merupakan flora khas cagar alam Bukit Kelam. Sekitar dua tahun menggeluti kantong semar ini berbagai event tingkat kabupaten maupun propinsi pernah diikuti.
“Lomba souvenir tingkat Kabupaten Sintang, prestasi yang diraih adalah juara pertama dan juara ketiga. Dalam lomba itu, saya memperoleh selain tropi juga uang pembinaan yakni juara pertama sebesar Rp 4 juta dan juara ketiga sebesar Rp 1 juta. Tapi di lomba sejenis tingkat propinsi pada festival Bumi Khatulistiwa baru-baru ini di Pontianak, meski meraih juara pertama, saya tidak mendapat uang pembinaan,” keluh H Sulaiman, Rabu (9/11).
Ketika meraih prestasi itu, H Sulaiman hanya menerima sertifikat dan tropi, bahkan saat ini dirinya tidak mengetahui keberadaan tropi itu, disimpan di instansi mana di SKPD Sintang. “Sertifikatnya hilang, tropinya tidak tahu disimpan di mana, apakah di dinas pariwisata atau instansi lain,” tambahnya.
Diceritakan pria tamatan STM Bangunan ini, asal muasal dirinya tertarik menggeluti dunia souvenir khususnya entuyut, berawal dari keinginan untuk memanfaatkan potongan-potongan kayu yang dapat banyak ditemui di daerah ini. “Bekas potongan kayu gaharu, tembesuk, kebaca, dan pelaik saya olah menjadi souvenir. Sebelumnya bekas potongan ini saya buat barang-barang seperti palu untuk sidang, tasbih raksasa atau barang lain,”papar warga Masuka Darat ini lagi.
Diceritakan H Sulaiman entuyut mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 1820, di dunia entuyut jauh sebelum itu sudah mulai dikenal. Souvenir enuyut saat ini sudah mulai dikenal masyarakat di Sintang, bahkan dari yayasan Kobus memesan kepada sebanyak 200 buah, selain itu dari Kraton Sintang juga memesan dengan jumlah yang banyak, namun pesanan itu belum dapat dipenuhinya karena terkendala pada modal untuk membeli peralatan serta bahan-bahan lainnya.
“Pembuatan yang manual hanya dapat memproduksi satu buah hingga dua hari. Oleh karena itu, saya belum berani menerima pesanan dalam jumlah banyak. Saya sangat berharap ada perhatian pemerintah untuk meminjamkan modal untuk dapat menjalankan usaha ini,” harapnya.
“Saya juga berharap agar entuyut atau kantong semar ini dapat dipatenkan sebelum diambil oleh negara lain. Karena tumbuhan ini mulai langka dan perlu dilestarikan dan punya daya tarik tersendiri, kalau dikelola dengan baik tidak menutup kemungkinan dapat menghasilkan,” tukas pria tua ini.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
