You are here

Gaji Dipotong, Guru Kelam Kesal

Iskandar Hadi, guru SDN 2 Merpak kecamatan Kelam Permai mengaku kesal lantaran gajinya dipotong Rp 50 ribu. Kekesalan Hadi ini disebabkan karena ketiadaan konfirmasi oleh bendahara terkait pemotongan gaji secara langsung itu.

“Bukan masalah besaranya, tapi karena tidak ada konfirmasi itu yang membuat saya kesal,”ujarnya saat menghubungi wartawan borneo tribune kemarin.

Menurut Iskandar dirinya memang anggota PGRI, ia pun bisa menerima alasan jika dana tersebut digunakan untuk iuran penyelenggaraan HUT PGRI tingkat provinsi yang akan digelar di Sintang akhir bulan ini. Walaupun menurutnya dirinya dan semua guru setiap bulannya telah dimintai iuran sebesar Rp 3.000 untuk iuran organisasi tempat dirinya bernaung.

“Memang uang itu digunakan untuk mengurus dan berbagai kegiatan organisasi, tapi kami tak pernah tahu rincianya. Maka kita berhara ada transparansi dari pengurus,”ujarnya.

Sementara itu, Abun, guru SMPN Kelam Permai ketika ditemui tengah berada di Kantor Dinas Pendidikan Sintang mengatakan lantaran dirinya belum mengambil gajji, maka ia belum tahu apakah gajinya dipotong atau tidak. “Saya tadi tidak sempat ketemu bendahara, karena terburu-buru ada urusan mau ketemu orang,”ungkap guru agama ini.

Sementara salah seorang staf Dinas Pendidikan Sintang yang enggan namanya ditulis mengaku enggan juga untuk memberikan iuran guna kegiatan ultah PGRI.

Yustinus, kasi teknis dikmenti diknas Sintang yang juga pengurus PGRI cabang Sintang menjelaskan bahwa pemotongan gaji semua guru sebesar Rp 50 ribu per orang telah ditetapkan melalui konferensi PGRI yang dihadiri oleh pengurus PGRI kecamatan. “selanjutnya tugas pengurus PGRI kecamatanlah yang mensosialisasikan kepada anggota PGRI di kecamatan yang bersangkutan,”tegasnya.

Direncanakan puncak peringatan HUT PGRI Kalbar akan dipusatkan di Sintang dan dilaksanakan pada 24 November mendatang. Acara puncak akan diisi dengan berbagai kegiatan, antara lain seminar pendidikan.

“Belum tentu 10 tahun sekali kita terpilih menjadi tuan rumah acara ulang tahun organisasi yang menaungi guru. Ini kan acara kita, maka dana itu bersumber dari kita para guru dan dimanfaatkan juga untuk guru,”jelasnya.

Dana sebesar Rp 50 ribu tersebut menurutnya akan dibagi tiga dengan rincian Rp 20 ribu untuk PGRI kecamatan. Kemudian Rp 20 ribu lagi untuk pelaksanaan kegiatan ultah PGRI dan Rp 10 ribu digunakan untuk pembenahan gedung PGRI.

“Yang Rp 20 ribu untuk kecamatan itu juga digunakan untuk membantu para guru yang ingin pergi pada kegiatan ultah PGRI. Apalagi para guru yang tempat tugasnya jauh,”tegasnya.