Sebanyak 17 desa dari 29 desa yang ada di Kecamatan Kayan Hulu telah diserang oleh nyamuk pembawa virus penyebab cikungunya. Kunjungan masyarakat dengan keluhan seperti pusing, ngilu di persendian dan bintik-bintik merah sebagai tanda penyakit tersebut selama Januari-Maret 2010 ini meningkat. Dalam satu hari kunjungan pasien dengan keluhan tanda-tanda terserang cikungunya mencapai 30 orang lebih.
Sebanyak 17 desa dari 29 desa yang ada di Kecamatan Kayan Hulu telah diserang oleh nyamuk pembawa virus penyebab cikungunya. Kunjungan masyarakat dengan keluhan seperti pusing, ngilu di persendian dan bintik-bintik merah sebagai tanda penyakit tersebut selama Januari-Maret 2010 ini meningkat. Dalam satu hari kunjungan pasien dengan keluhan tanda-tanda terserang cikungunya mencapai 30 orang lebih.
“Kami sedang mewaspadai terjadinya KLB cikungunya. Karena penyebaran penyakit ini telah membuat masyarakat resah,” ungkap Yustandi, Kepala Puskesmas Nanga Tebidah Kecamatan Kayan Hulu, saat dihubungi via ponselnya, Jumat (26/3) siang kemarin.
Meskipun penyakit yang disebarkan oleh nyamuk jenis aedes aegypti dan aedes albokfiktus ini tidak seberat demam berdarah, namun kepanikan masyarakat lebih besar. Sebab tiba-tiba saja setelah digigit nyamuk pembawa virus penyakit tersebut, seseorang akan menjadi lemah dan seperti lumpuh.
“Namun kelumpuhan itu hanya sementara karena dengan makan dan minum yang cukup kandungan gizi, serta istirahat maka kondisi pasien akan membaik kembali,” jelas
Mewabahnya cikungunya yang terjadi di sebagian besar desa di Kayan Hulu ini, pihak puskemas langsung melakukan koordinasi dengan dinas kesehatan di kabupaten. Meski belum ada petugas atau bantuan khusus yang datang ke daerah Kayan Hulu tersebut, namun arahan dari kadis kesehatan adalah melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
“Kami sekarang sedang gencar-gencarnya melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan dan tetap melakukan pola hidup sehat, yang lebih khusus lagi kami mengimbau masyarakat agar melakukan pemberantan sarang nyamuk dengan 3 M,” jelas Yustandi.
Dijelaskan Yustandi, bahwa sebenarnya cikungunya memang tidak memiliki tingkat bahaya seperti DBD. Kondisi geografis Kayan Hulu yang sebagian besar berada di kawasan hutan membuat nyamuk aedes aegypti dan aedes albokfiktus dapat berkembang biak dengan cepat. Sebab kedua jenis nyamuk tersebut berkembang biak pada air yang tertampung.
“Pertama kali penyakit ini muncul di Desa Tanjung Bunga. Desa ini jaraknya sekitar 10 kilometer dari pusat kota dan memang masih sangat dekat dengan kawasan hutan,” tambahnya.
Ditanya tentang penanganan kasus yang telah menyebar di 17 desa tersebut, Yustandi mengatakan bahwa penanganan pasien telah dilakukan dengan standar pengobatan yang ada.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
