Dua penderita gizi buruk, masing-masing Satrio W (7) dan Yusrizal (1,2) kini tengah dirawat di Pusat Penatalaksanaan Gizi Buruk (PPGB) Teluk Menyurai Sintang.
Dua penderita gizi buruk, masing-masing Satrio W (7) dan Yusrizal (1,2) kini tengah dirawat di Pusat Penatalaksanaan Gizi Buruk (PPGB) Teluk Menyurai Sintang.
Dua penderita gizi buruk asal Ketungau tersebut masuk ke PPGB hanya berbeda waktu sehari saja. Satrio dibawa oleh kedua orang tuanya pada Sabtu (23/1) dari Nanga Tebidah, sedangkan Yusrizal masuk pada Minggu (24/1). Satrio yang telah berumur 7 tahun hanya memiliki berat badan 8,8 kilogram, sedangkan Yusrizal ketika masuk PPGB berat badannya hanya mencapai 6 kilogram.
Kepala PPGB Sintang, Adi Sulistyanto, ketika ditemui di ruang kerjanya mengatakan bahwa selain menderita gizi buruk, Satrio juga mengalami cidera otak dan asma. Cidera otak tersebut, menurutnya terjadi sejak Satrio masih berada dalam kandungan. Penyebab utamanya adalah kurang asupan gizi untuk kebutuhan pertumbuhan ketika masih dalam rahim. Selain itu akibat penyakit penyerta yang diderita Satrio, kini otot ditubuh Satrio telah menjadi kaku. Satrio telah mengalami atropi atau pengerutan otot, sehingga organ tubuhnya menjadi kaku untuk digerakkan. Akibat atropi dan cidera otak yang diderita Satrio, sel penghubung atau dendrite juga tak bisa menerjemahkan perintah otak. Akibatnya, Satrio hanya bisa terbaring, tak bisa duduk atau berdiri dan tak bisa bicara juga.
“Kalau gizinya bisa diperbaiki dan dia bisa duduk atau berdiri. Namun diperlukan perawatan lanjutan khusus. Misalnya fisioterapi. Sedangkan untuk kemampuan otaknya karena telah permanen maka tak bisa disembuhkan,” terangnya.
Perawatan lanjutan khusus yang dimaksudkannya adalah pemberian suplemen dan dengan metode khusus dengan hasil dimaksimalkan. Misalnya dimaksimalkan pada fokus penglihatan. Karena saat ini penglihatan Satrio tidak bisa focus.
Sementara itu, Paulus Iskandar (44), ayah Yusrizal ketika ditemui di ruang perawatan anaknya begitu antusias menjelaskan kondisi anak dan daerahnya. Bapak dua anak ini mengatakan bahwa sebelumnya ia adalah seorang kader Posyandu. Saat itu menurutnya petugas kesehatan selalu datang ke daerahnya. Tepatnya di Dusun Sebara Desa Tanjung Sari Kecamatan Ketungau Tengah. Meski seorang kader Posyandu, ketika melihat pertumbuhan anaknya lambat ia mengatakan bingung harus mengadu ke siapa. Apalagi sejak tenaga kesehatan di desanya berganti dan jarang mengunjungi dusunnya.
“Rumah kami jauh dari pusat desa. Jaraknya kurang lebih 12 kilo dan kami harus berjalan sekitar 3 jam untuk kesana,” katanya.
Sementara Posyandu terdekat dengan dusunnya menurutnya ada di daerah Mengerat. Itupun ia harus berjalan dan menggendong anaknya selama kurang lebih 1,5 jam. Pernah dia berinisiatif agar bidan datang ke desanya langsung. Ia pun meminta sejumlah tetangganya yang memiliki kendaraan bermotor untuk menjemput sang bidan. Namun ternyata hal itu tidak berlangsung lama. Akibat tak lagi dilaksanakan Posyandu, menurutnya banyak anak-anak balita di dusunnya yang terancam menderita gizi buruk seperti anaknya. Bahkan menurutnya, awal tahun lalu anak perempuan tetangganya yang berumur sekitar 6 tahun juga meninggal karena gizi buruk.
“Maka kami mohon kepada pemerintah untuk menempatkan bidan di dusun kami. Supaya Posyandu bisa lancar dilaksanakan,” katanya.
Meski hanya mengenyam pendidikan SD, namun ia pernah menjadi kader Posyandu, Paulus dengan lancar dapat menjelaskan tentang KB dan imunisasi. Ia pun menuturkan bahwa dirinya kerap mengingatkan tetangganya untuk selalu membawa anak balitanya ke Posyandu.
“Sampai umur 5 tahun mereka saya bilang harus tetap bawa anak ke posyandu. Supaya bisa diperiksa bidan. Apalagi bayi kan harus diimunisasi,” jelasnya panjang lebar.
Hanya saja begitu petugas kesehatan tak lagi bisa datang ke dusunnya, ternyata anaknya pun menderita gizi buruk. Padahal pada buku SKM milik Yusrizal anaknya, pada penimbangan terakhir tertanggal 16 Juli 2009, tertulis berat badan anaknya mencapai 7,2 kg.
“Itulah saya juga tidak tahu kenapa dia jadi kurus dan sudah umur setahun lebih baru bisa tengkurap,” katanya.
Ditambahkan Adi Sulistyanto bahwa tentang minimnya jumlah tenaga kesehatan di daerah-daerah, sebenarnya adalah persoalan klasik. Sebab hingga saat ini menurutnya dari seluruh Polindes yang ada di Sintang, baru 45 persen saja yang telah terisi tenaga kesehatan. Begitu juga dengan seluruh Pustu yang ada baru sekitar 35 persen saja yang telah ada tenaga kesehatannya.
Di tahun 2010 ini kecenderungan peningkatan kasus gizi buruk hampir merata akan terjadi di seluruh kecamatan di Sintang. Berbeda dengan tahun 2008 lalu, hanya ada sejumlah kecamatan yang menjadi kantong penderita gizi buruk.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
