You are here

18 Tahun Berdiri, Unka Hanya Miliki 2 Fakultas

Meski usianya telah mencapai 18 tahun sejak didirikan tahun 1992 lalu, namun hingga kini Universitas Kapuas (UNKA) Sintang hanya memiliki 2 fakultas, yaitu fakultas pertanian dan kehutanan serta fakultas ilmu social dan politik (Fisipol).

Meski usianya telah mencapai 18 tahun sejak didirikan tahun 1992 lalu, namun hingga kini Universitas Kapuas (UNKA) Sintang hanya memiliki 2 fakultas, yaitu fakultas pertanian dan kehutanan serta fakultas ilmu social dan politik (Fisipol).

Ketua Komisi C DPRD Sintang, H.Ahmad Sutarmin, mengatakan bahwa sebenarnya untuk universitas sekaliber UNKA dalam usianya yang telah mencapai 18 tahun mestinya telah memiliki 3-4 fakultas. Dengan 3-4 fakultas setidaknya program study yang dimiliki akan lebih bervariasi. Hal ini menurutnya sangat disayangkan. Oleh karena itu menurutnya pihak pengelola dalam hal ini rektorat dan pihak yayasan mestinya melakukan komunikasi.

Minimnya fakultas di UNKA pada usia 18 tahun menurutnya ibarat anak yang kekurangan gizi buruk. “Ini perlu menjadi catatan pihak pengelola dan yayasan,” tegasnya. Namun menurutnya meski hanya memiliki 2 fakultas dan 4 jurusan minat pelajar untuk menuntut ilmu di kampus kuning itu cukup besar. “Catatan rektorat dari program study yang ada, setidaknya masing-masing prodi memiliki sekitar 1000 mahasiswa. Karena saat ini jumlah mahasiswa UNKA mencapai angka sekitar 2000-an,” terangnya.

Sebagai ketua alumni UNKA, pria yang akrab disapa Tarmin ini mengatakan bahwa salah satu penyebab tidak berkembangnya UNKA adalah miss communication yang terjadi antara pengelola dan yayasan. Ia pun mengibaratkan bahwa pengelola dan yayasan ibarat bapak dan anak. Jika bapak tidak tahu kebutuhan anak dan memberikan apa yang tidak dibutuhkan anak maka tentu tidak akan nyambung. Sama halnya bila anak tidak bisa menyampaikan apa yang menjadi kebutuhannya kepada sang anak.

“Kedepan kita akan undang semua perguruan tinggi di Sintang baik yang universitas maupun sekolah tinggi beserta yayasan yang menaunginya untuk memaparkan program dan persoalannya,” terangnya kepada wartawan Borneo Tribune usai memimpin raker dengan pengelola UNKA, Selasa (2/2) kemarin.

Khusus pada persoalan miss communication yang menghambat perkembangan UNKA, Tarmin mengatakan akan mengupayakan pertemuan antara pihak pengelola dan yayasan guna memecah kebekuan komunikasi yang ada. Menurutnya jika  pengelola dan yayasan yang menaungi UNKA bisa berkomunikasi dengan baik, maka pengelolaan akan lebih optimal.


“Saya piker kita yang ada diluar, dalam hal ini pemerintah daerah dan legislatif akan mendukung dan memberikan support. Tidak hanya untuk UNKA tapi juga untuk perguruan tinggi lain yang ada di Sintang ini,” katanya.

Menanggapi isu yang berkembang bahwa ada kepentingan pribadi dan golongan yang menyelimuti tubuh UNKA sehingga terkesan kerdil, Tarmin mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja. Namun menurutnya dengan kondisi UNKA saat ini baik pengelola maupun yayasan, mestinya lebih menonjolkan kebersamaam.

“Saya menghimbau kepada semua pihak yang terkait dengan UNKA untuk bisa duduk bersama dan membuka akses seluas-luasnya untuk membangun UNKA dengan menonjolkan kebersamaan dan meminimalisir perbedaan dan perselisihan yang bisa menimbulkan salah paham,” terangnya.

Ia juga menampik jika miss communication yang terjadi antara pengelola UNKA dengan yayasan menjadi penghambat proses penegrian kampus tertua di Bumi Senentang ini. Sebab menurutnya dinegerikannya kampus tersebut terkesan menjadikan melahirkan rasa malas. Sebab dengan status negeri, segala kebutuhan telah disiapkan oleh pusat. Sehingga akan berdampak pada minimnya keinginan untuk menggali potensi yang ada.

“Kalau punya sendiri kan atau berstatus swasta maka kita akan terdorong untuk meningkatkan kualitas dan pengembangan potensi. Apalagi saat ini sedang berkembang otonomi kampus. Dimana sejumlah kampus besar ditanah air tengah berusaha mengelola kampus sendiri,” ujarnya.