Guna menekan laju inflasi di Kota Singkawang, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Singkawang telah menyelenggarakan Rapat Koordinaasi (Rakor) Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Kota Singkawang, Rabu (2/11) lalu di Ruang Rapat Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Singkawang.
Rapat dipimpin Plt. Asisten Perekonomian Pembangunan Sekretariat daerah Kota Singkawang Hendryan, dan dihadiri anggota TPID Kota Singkawang yang terdiri dari unsur Bank Indonesia, Bulog, BPS Kota Singkawang, serta SKPD terkait di Lingkungan Pemerintah Kota Singkawang.
Hendryan mengatakan tujuan rakor ini untuk mengetahui dan menganalisa penyebab tingginya inflasi di Kota Singkawang.
Menurut Hendryan, Kota Singkawang termasuk salah satu daerah dengan inflasi yang sangat tinggi, dengan adanya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Singkawang yang dibentuk melalui SK Walikota Nomor 132 Tahun 2011. Memiliki tugas antara lain mengevaluasi sumber-sumber dan potensi tekanan inflasi, melakukan pemantauan harga komoditas strategis, melakukan pengendalian harga komoditas, merumuskan pelaksanakaan dan evaluasi langkah strategis dalam rangka pengendalian inflasi, memberi masukan kepada Walikota sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan mengenai langkah-langkah dalam menghadapi laju inflasi daerah.
Lebih lanjut dikatakannya, rumusan yang dihasilkan dari rakor tersebut akan dibawa ke rakor Pengelolaan Inflasi Daerah Tingkat Regional yang akan diselenggarakan di Banjar Masin Kalimantan Selatan, 9 sd 11 November 2011.
Dalam rakor tersebut, Kepala BPS Kota Singkawang, M. Yani memberi masukan tentang analisa dan solusi dalam menekan tingginya inflasi di Kota Singkawang.
”Laju inflasi tahun kalender Januari sd September sebesar 6,92%, inflasi “Year on Year” (September 2011 terhadap September 2010) Kota Singkawang sebesar 5,59%. Dari 66 kota Se-Indonesia, inflasi Kota Singkawang menempati rangking kesatu,” ungkapYani.
Mayoritas peserta rakor mengatakan penyebab tingginya inflasi di Kota Singkawang antara lain faktor budaya dan adanya ketergantungan pasokan dari daerah lain, seperti Pulau Jawa menjadi salah satu pemicu terjadinya inflasi. Kelangkaan solar dan Bahan Bakar Minyak juga menjadi pemicu, untuk mencari solusinya harus ditingkatkan koordinasi dan kerjasama dengan pihak terkait, seperti Pertamina.
Namun , ada beberapa even dalam setahun yang memberikan kontribusi tingginya inflasi antara lain Tahun baru (Januari), Imlek (Februari), Sembahyang Kubur (April), Libur Anak Sekolah , tahun ajaran baru (Juli), Sembahyang kubur (Agustus), Ramadhan dan Idul Fitri (September), idul Adha (November), dan Natal (Desember).
”Dengan adanya even - even tersebut, otomatis secara tidak langsung kebutuhan akan bahan makanan, transportasi, dan lain sebagainya juga akan meningkat. Hal-hal inilah yang mengakibatkan inflasi di kalimantan Barat terutama Kota Singkawang tinggi,” imbuh Yani.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
