You are here

Petani Sayur Meninggal di Kamar

Seorang petani sayur ditemukan meninggal di rumahnya di kaki Gunung Pasi, Dusun Simpalet Kelurahan Sijangkung, Singkawang Selatan. Kondisi tubuhnya sangat menggenaskan, membiru, membengkak, berbau dan dikerumuni lalat.

Liu Chau Liong (Aliong). Petani berusia 48 tahun ini diketahui tinggal sendiri, diperkirakan meninggal beberapa hari yang lalu. Ia terbaring di atas kasur. Berbaju kemeja serta bercelana panjang. Kondisinya terlentang, mata melotot, lidah keluar. Kaki terkangkang dengan dua tangan di atas kepala, melebar. Di dekat pembaringannya ada dua bantal guling, teko tempat air minum serta botol-botol kecil, diduga tempat obat obatan.


Aliong meninggal di sebuah kamar berukuran 2X3 meter di rumahnya. Rumah itu diperkirakan berdiri sepuluh tahun yang lalu. Jarak rumahanya cukup jauh dari rumah warga lain. Dalam rumah itu, hanya ada beberapa perabotan rumah tangga. Sebuah sepeda motor yang dia gunakan untuk hilir mudik ke kebun masih terparkir di ruang tamu.


Untuk kali per tama, kematian Aliong diketahui sang adik ipar, Jiuling (20), sekitar pukul 10.00, Rabu (17/3). Saat itu, Jiuling datang ke rumah Aliong. Ia bermaksud untuk mengetahui keberadaan Aliong. Dua, tiga, panggilan Jiuling tak disahut. Jiuling penasaran, ia kemudian mengintip ke dalam rumah melalui sela sela pintu. Aliong tidak ditemukan, yang didapatka Jiuling hanya bau busuk.


“Setelah mencium bau busuk, istri saya pulang,” kata Atet, suami Jiuling, saat ditemui di lokasi kejadian, Rabu, kemarin.


Mendapat kabar dari sang istri, Atet kemudian ke rumah Aliong. Atet mencium bau yang sama. Ia kemudian memberitahukan kepada warga dan ketua Rt setempat. Oleh warga, kejadian itu dilaporkan ke pihak kepolisian yang kemudian langsung turun ke lokasi kejadian.


Atet mengaku terkejut dengan kematian abangnya. Dan dia memperkirakan, kematian Aliong terjadi pada hari minggu atau tiga hari sebelum ditemukan. Perkiraan itu dikarenakan pada Sabtu sore, Aliong masih main ke tempat orang tuanya.


“Sore Sabtu dia ada ke rumah, dia masih ngobrol seperti biasa sama kami,” kata Atet menjelaskan. Kemudian kata Atet, Minggu pagi dan sore, warga sekitar masih melihat Aliong pergi ke kebunnya yang terletak di Air Merah.


 “Minggu sore, ada warga kita yang melihat Aliong melintas,” kata Ketua RT 23/RW 5, Cung Khunen, menambahkan.


Atas laporan warga, pihak kepolisian, dalam hal ini Polsek Singkawang Selatan datang ke lokasi sekitar pukul 11.00. Pihak kepolisian melakukan pemeriksaan dalam kurun waktu dua jam. Karena keinginan pihak keluarga, mayat itu diserahkan langsung ke pihak keluarga, dan penyerahan itu atas permintaan keluarga sendiri.


“Karena keluarga menganggap kematian Aliong ini tidak mengandung unsur kekerasan, dan keinginan keluarga agar mayatnya tidak dibawah ke rumah sakit, maka mayat ini kita serahkan ke pihak keluarga,” kata Kapolsek Singkawang Selatan, IPTU Karyana, memberikan keterangan.


Karyana mengatakan, dari pemeriksaan yang dilakukan para medis Polres Singkawang, kematian Aliong itu diduga karena penyakit.


”Kemungkinan ia meninggal karena penyakit,” kata Karyana.


Sibuk dan Ulet


Liu Chau Liong dikenal sebagai petani sibuk dan ulet. Setiap hari, waktunya dihabiskan di kebun dan di rumah. Pagi, ia ke kebun, sore pulang.  Terkadang ia menginap di kebun sayurnya, yang terletak beberapa kilo meter dari rumah.


“Sulit ketemu dia, kecuali dia datang ke rumah,” kata Atet, adik tiri Aliong, membuka cerita.


Walau sulit untuk bertemu, Aliong dikenal sebagai warga yang baik. Warga terkadang mendapatkan sayur jerih payahnya sebagai seorang petani.


“Dia ndak pelit, dia biasa beri sayur untuk warga,” kenang Atet.


Dalam keluarga, Atet mengatakan Aliong sedikit tertutup. Ia tidak pernah menceritakan segala permasalahan yang ia hadapai. Terlebih masalah itu menyangkut kehidupan pribadi.


“Dia orangnya tertutup. Dia ndak pernah ceritakan masalahnya,” jelas Atet lagi.


Keuletan Aliong juga diungkapkan, Cung Khunen, sebagai ketua RT setempat. Menurut pria berusia 50 tahun itu, Aliong jarang sekali berkumpul bersama warga lain. Baik pada malam ataupun siang.  Kata Khunen, warga hanya melihat Aliong pada saat akan pergi atau pulang dari kebun.


“Dia memang betul betul sibuk. Dia jarang ngumpul dengan warga lain. Walau jarang, dia sangat baik,” terang Khunen menambahkan.