You are here

Penderita Proalpsus Uteri dan Prolapsus Ani

Sarinah, (53) warga Dusun Timur Setebang Kecamatan Jawai Kabupaten Sambas, pasien RS Pemangkat penderita  penderita proalpsus uteri (rahim keluar dari tempatnya) dan prolapsus ani (anus keluar dari tempatnya) memilih untuk pulang ke rumahnya.
Sarinah, (53) warga Dusun Timur Setebang Kecamatan Jawai Kabupaten Sambas, pasien RS Pemangkat penderita  penderita proalpsus uteri (rahim keluar dari tempatnya) dan prolapsus ani (anus keluar dari tempatnya) memilih untuk pulang ke rumahnya.

Keputusan itu diambil sebelum Sarinah menjalani perawatan di rumah sakit plat merah tersebut sejak 20 Januari 2010 lalu. Kepulang Sarina itu diuangkapkan Kepala Ruangan Bedah RS Pemangkat NS. Raju Kapadia S. Kep, saat ditemui, Kamis (11/2).
 
"Dia pasien Jamkesmas," kata Raju.

Raju mengatakan,  berdasarkan keterangan pasien bahwa peya\kit yang dideritanya sudah seminggu sebelum masuk ke rumah sakit.

"Tapi kalau menurut kami, penyakit itu bukan satu minggu. Namun sudah lama dan biasanya memang tidak terdeteksi," jelasnya.

Ia menambahkan, selama di RS Pemangkat pasien tersebut dirawat tiga dokter. Yakni dokter kandungan, dokter penyakit dalam dan dokter kandung. Sebenarnya ada empat dokter, tapi karena kita tidak punya dokter anastesi," katanya..

Menurut dia, untuk proalpsus uteri pasien ditangani oleh dokter kandungan. Sedangkan untuk penyakiy prolapsus ani, menurut Raju, pasien ditangani dokter penyakit dalam. "Setelah beberapa lama menjalani perawatan dokter memutuskan untuk operasi. Namun, kalau dioperasi pasien. Bisa beresiko gagal jantung gred 1 dab gred 2. Ini didukung dengan hasil pemeriksaan jantung oleh dokter spesialis jantung," ungkap Raju.

Untuk menjalankan operasi, menurut Raju, pasien harus didampingi dokter anastesi. Namun, menurut dia, karena di RS Pemangkat tak punya dokter anastesi, jadi operasi tak dapat dilakukan. Pihak rumah sakit, kata Raju, sudah membuat surat rujukan untuk RS di Pontianak.

"Kita sudah merencanakan untuk operasi terhadap pasien. Tapi keluarga tidak mau dioperasi dan memilih pulang. "Kita sudah maksimal. tapi keputusan keluarga tidak bersedia yang menentukan. Kita hargai, karena keputusan keluarga yang utama. Kita sudah simpan kontak dengan keluarga kalau ada apa nanti kita hubungi keluarganya," ujar Raju.  

“Sementara pasien  diobati dengan menggunakan rawat jalan,” terang Raju