Salat Hari Raya Idul Adha 1432 H, Minggu (6/11) di Mesjid Raya Singkawang berlangsung tertib dan khusyu. Bertindak sebagai Imam salat yaitu Imam Mesjid Raya, Ustad Mulyadi dan Khotib, Ketua Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kota Singkawang, HM. Nadjib.
Dalam Khutbahnya, HM. Nadjib mengatakan Idul Adha yang kita peringati saat ini, dinamai juga “Idul Nahr” artinya hari raya memotong kurban binatang ternak. Sejarahnya adalah bermula dari ujian paling berat yang menimpa Nabiyullah Ibrahim. Buah dari kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan “Khalilullah” (kekasih Allah red).
Menurutnya, sebagai umat Islam yang berjiwa besar kiranya bersedia untuk dikritisi dan siap untuk suatu perubahan. Kecenderungan kita mengerjakan ibadah secara reaktif, belum pro aktif. Dalam pola reaktif , Ibadah yang kita kerjakan lebih bersifat ritualisme yang spontan seketika adanya perayaan atau sewaktu-waktu ada peristiwa yang terjadi, setelah itu ibadah tersebut kian berkurang ataupun sama sekali tidak dilakukan.
Semestinya, beramal ibadah lebih baik dilakukan secara pro aktif, artinya dilakukan secara teratur dan terus menerus setiap saat dan setiap keadaan. Sebagai contoh, pada saat bulan ramadan jemaah masjid melimpah ruah, selesai ramadan jemaah kembali sepi. Membayar zakat, infaq dan sadaqah hanya ingat ketika menjelang Idul Fitri. Ketika menunaikan haji di tanah suci selalu shalat berjamaah tepat waktu, sekembali ke tanah air jadi bermalas-malasan untuk berjamaah di masjid dan kembali lalai.
“Berkurban bukan sekadar menyembelih sapi atau kambing. Berkurban juga mencakup kerelaan sepenuh hati memberi perhatian dan membantu sesama. Ibadah kurban setahun sekali dengan menyembelih hewan merupakan sarana pengingat agar kita setiap saat dan setiap keadaan selalu siap berkurban untuk kebaikan bersama. Hanya orang-orang yang siap berkurban bisa menjadi benar-benar mulia. Itu yang ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Ismail. Hanya bangsa-bangsa siap berkurban yang dapat menjadi bangsa mulia sejati,” terang HM. Nadjib.
Lanjutnya, dengan semangat berkurban pada hari raya Idul Adha dapat menjadi momentum gerakan solidaritas sosial sebagai perwujudan dari semangat kesediaan untuk berbagi kepada sesama.
“Ibadah kurban setahun sekali dengan menyembelih hewan merupakan sarana pengingat agar kita-setiap saat dan setiap keadaan, selalu siap berkurban untuk kebaikan bersama,” tutur HM. Nadjib.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
