You are here

Petani Karet Beralih ke Bibit Unggul

Para petani karet di Bumi Lawang Kuari mulai berinovasi menggantikan bibit perkebunan karet mereka dengan bibit unggul. Mereka meyakini jika menggunakan bibit karet unggul  jauh lebih banyak menghasilkan getah jika dibandingkan dengan bibit karet alam.

Mario Puno (27), salah seorang petani karet di Kecamatan Belitang Hulu mengatakan dirinya sudah menggantikan bibit karet alam dengan bibit karet unggul. “Saya sampai beli bibit karet Himalaya ke Bodok. Sudah ada 500-an saya tanam menggantikan karet alam kami,” ucapnya, ketika bertandang ke Sekadau, belum lama ini.

Menurutnya, saat ini petani karet sekarang harus lebih giat memelihara kebun mereka. Mulai dari pemeliharaan kebersihan lahan, pemberian pupuk. Juga termasuk perawatan tanaman karet dari ancaman jamur yang dapat membunuh tanaman karet. “Kami tiga atau enam bulan sekali memberi pupuk karet yang baru. Saya lihat kebun punya teman di Sosok itu, baru umur empat tahun sudah besar-besar batangnya, karena dirawat dan dipupuk,” kata bapak satu anak ini.

Kata dia, kebun pribadi miliknya di kampung seluar 5 hektar, setengah diantaranya sudah digantikan dengan bibit unggul karet. Meski demikian, umur tanaman karet alam jauh lebih panjang ketimbang karet unggul.

“Memang umur karet alam lebih panjang. Aku lihat punya kami sudah 30 tahun lebih umurnya, sampai kami masih hidup dan ditoreh,” kata Puno yang mengaku punya 6 hektar lahan perkebunan karet.

Di sejumlah Kecamatan. Saat ini harga kulat per kilo gram berkisar Rp14.000-17.000. Bayangkan kalau 1 hektare ada 500 pokok getah, bisa dikalkulasikan, per hari bisa menghasilkan 25 kilogram. Jika harga kulat Rp 14.000 per kilogram, satu hari saja bisa menghasilkan Rp 350.000. Pendapatan sebesar ini cukup lumayan untuk pemasukan ekonomi keluarga.