You are here

Jangan Sembarang Membakar Lahan

Kepala Kantor Lingkungan Hidup dan Pertamanan Kabupaten Sekadau, Agustinus Agus, menegaskan petani dan perusahaan harus melihat kondisi lingkungan sebelum membakar lahan dan ladang.

“Peladang atau petani tradisional tidak bisa dicegah untuk tidak membakar lahan sebagai langkah awal untuk membuka ladang. Apalagi sekarang memasuki musim kemarau dan pembakaran ladang terjadi di mana-mana. Membakar ladang harus memperhatikan lahan sekitarnya,” tegas Agustinus Agus, belum lama ini.


Pantauan di lapangan pada siang dan sore hari terlihat kepulan asap hitam dari berbagai penjuru yang berada puluhan kilo meter dari jantung kota Sekadau. Hal itu tidak menutup kemungkinan dari kabupaten tetangga atau daerah perbatasan kabupaten.


Namun sejumlah tempat yang telah atau sudah membakar lahan untuk berladang setidaknya sudah membuat batasan dengan hutan atau lahan lainnya sehingga tidak menimbulkan kebakaran lahan atau kebakaran hutan.


”Pembatas antara ladang yang akan dibakar harus dibuat untuk mencegah api supaya tidak menjalar ke lahan lainnya. Biasanya dibuat parit untuk dialiri air yang tak lain lebih manjur untuk mengatasi lidah api agar tidak menjalar lebih besar lagi. Membakar ladang sebenarnya tidak diperbolehkan, namun itu salah satu cara masyarakat untuk mempertahankan lahan dan mewarisi budaya nenek moyang, tentunya tidak bisa dicegah lebih dalam,” ujarnya.

Dirinya menuturkan, sebenarnya sesuai dengan aturan membuka lahan dengan cara membakar itu adalah perbuatan yang keliru. Namun masyarakat hanya membakar ladang yang ukurannya tidak terlalu luas dan hanya sebatas luas ladang mereka saja.


Namun ada pula oknum yang memanfaatkan pembakaran ladang sebagai dalih yang sebenarnya mereka membakar lahan untuk perkebunan. ”Masyarakat harus mengawasi masalah itu dan jangan sampai terjadi di daerah kita ini,” ujarnya.


Menurut Agus, kondisi asap sementara ini masih dalam ambang batas yang wajar bila dipantau dengan mata normal. Namun, kata dia, tidak menutup kemungkinan akan lebih parah lagi bila beberapa hari ini tidak ada guyuran hujan. Biasanya masyarakat akan lebih banyak menantikan panas untuk mengeringkan sisa tebangan untuk lahan perladangan, dan setelah itu membakar lahan.

”Yang harus diperhatikan dan dibuat tak lain adalah batas api agar tidak menjalar ke lokasi lainnya,” tandasnya.