You are here

Armada Berkurang, Retribusi Terminal Menurun

Pendapatan daerah dari sektor retribusi terminal Lawang Kuari Sekadau mengalami penurunan mencapai 30- 40 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi itu disebabkan jumlah armada yang beroperasi terjadi penurunan.

“Saat ini setoran yang bisa masuk ke Pemkab hanya sekitar Rp 21 ribu/ hari. Itu pun kadang-kadang tidak cukup,” kata Haid Sapura Baki, staff terminal Lawang Kuari, Dishub Sekadau, kemarin.

Ia mengaku, tingkat penurunan retribusi itu sangat drastis yakni mencapai 30- 40 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya. “Kalau tahun lalu, dari retribusi kita bisa mendapatkan sekitar Rp 30 ribu/hari” katanya.

Retribusi terminal merupakan pendapatan daerah yang bisa diperoleh dari penggunaan jasa-jasa terminal, misalnya jasa wc umum dan jasa bongkar muat penumpang dan barang di terminal. Untuk satu kendaraan yang masuk terminal, diharuskan membayar tarif retribusi yang sudah ditentukan oleh Pemkab.

Abang Ago menuturkan, terjadi penurunan retribusi terminal lantaran jumlah kendaraan umum melakukan bongkar muat penumpang di terminal Sekadau juga imbas dari penurunan jumlah penumpang kendaraan umum.

“Pemilik mobil juga tentu tidak mau rugi. Kalau bayaran penumpang tidak mencukupi untuk membeli minyak, mereka tidak akan beroperasi,” katanya.

Pengaruh lain, kurang beroperasi armada angkutan umum juga disebabkan warga sudah banyak menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi sehari- hari. Apalagi dengan kendaraan roda dua sekarang bisa kredit dengan uang muka yang bisa dijangkau masyarakat.

Meski begitu, belum tentu semua warga memiliki kendaraan pribadi. Salah seorang warga Jalan Rawak, Wait, mengaku dirinya kesulitan jika hendak berpergian di sekitar kota. Bahkan karena tidak ada angkot, dia seringkali berjalan kaki ke sekitar pasar.

“Saya ini tidak bisa mengemudi kendaraan. Jadi, bila tidak ada angkot saya jadi susah mau jalan bepergian,” kata Wait seraya berharap peluang ini bisa dibaca oleh pengusaha angkutan umum, khususnya angkot jurusan dalam kota.