You are here

Taba Nyeser, Upaya Warga Usir Amot

Masyarakat Dusun Manuk Desa Temiang Taba Kecamatan Balai mengadakan pergelaran Nyeser dalam rangka melestarikan nilai-nilai budayanya. Adat turun temurun ini dilaksanakan setiap tahunnya guna mengusir roh jahat yang mengganggu kehidupan manusia dan tanaman tumbuh-tumbuhan.

Seperti diungkapkan Arot selaku ketua panitia adat nyser. Acara adat ini dilaksanakan apabila padi sudah mulai menguning agar terhindar dari hama penyakit padi juga guna menolak ada tujuh amot (hantu) yang selalu mengganggu kehidupan manusia, tanaman dan ternak. Nyeser Taba ini selain terdapat di Manuk Desa Temiang Taba Kecamatan Balai Batang Tarang terdapat pula didaerah kecamatan lainya antara lain Tayan Hulu dan

Tayan Hilir, Parindu dan Meliau.


Adapun dari ke tujuh amot tersebut antara lain Amot Samper yakni hantu yang

mengganggu kesehatan penduduk, Amot Buah merupakan hantu yang mengganggu

buah di tembawang penduduk, Amot Rangka atau hantu rakus yang mengganggu

makanan manusia, Amot Reok hantu yang mengganggu ternak penduduk, Amot

Bujang Peranso hantu yang mengganggu ketentraman penduduk, Amot Bu hantu

yang mengganggu ternak khusus ayam dan Amot Buer hantu yang mengganggu

makanan manusia dan selalu tidak cukup atau rakus.


Daniel, pembina Sanggar Nyeser menjelaskan bahwa adat nyeser merupakan adat

budaya nenek moyang yang sudah lama ada dan terus dilestarikan hingga

sekarang oleh masyarakat Taba. Tujuannya menolak roh jahat dan

berbagai penyakit atau sampar terhadap manusia maupun ternak peliharaan dan

tanamannya.


Camat Balai Batang Tarang Drs. F. Marinus, MM mengatakan sangat perlu

melestarikan budaya adat karena merupakan gambaran perilaku masyarakat adat

dan hal berkaitan dengan pengusiran roh jahat ataupun hantu untuk jaman dulu

cukup dihanyutkan ke sungai melalui lanting yang sudah dipersiapkan. ”Namun

sekarang yang perlu diusir atau diperangi bersama yaitu hantu kemiskinan, hantu kebodohan, hantu narkoba, hantu ketertinggalan dan hantu lainnya yang dapat mengganggau di saat kehidupan masyarakat di dunia modern

ini,” kata Camat


Dalam kesempatan tersebut juga Wakil Bupati Sanggau Poulus Hadi, S.IP saat

dikonfirmasi  menjelaskan bahwa Nyeser adalah budaya dan tradisi ini adalah

asli dari Sangau sehingga jangan sampai punah ditelan zaman.


“Kita perlu sekali melestarikan budaya adat agar tidak hilang namun selain

adat nyeser perlu juga kita gali bersama budaya adat lainnya agar terus

digalakan dan dilestarikan kembali agar tetap ada karena budaya adat tidak

terikat dan terkait dengan agama apapun, budaya adat adalah seni budaya yang

menggambarkat sikap perilaku manusia atau masyarakat itu sendiri,” pesan

Wakil Bupati.


Dalam acara Nyeser tersebut tampak Kepala DP2KAD Drs. Andeng Suseno, M.Si,

Kepala Inspektorat P. Ningkan, S.Sos, Kepala BPMPEMDES Willi Brodus Willy,

S.Sos,M.Si, Sekretaris Pariwisata Drs. Abdullah, Kabid. Sosial dan

Ketenagakerjaan Simamora, Sekretaris Hutbun, Pol PP, Camat Balai Drs.

Fransiskus Marinus,MM, Kades Temiang Taba Ronius Bujang, Tokoh Adat,Agama,

Masyarakat, serta masyarakat setempat.