You are here

PKL Rawa Bangun Surati Bupati

Feri (32), seorang Pedagang Kaki Lima (PKL) di pasar Rawa Bangun, menyatakan kegelisahannya kepada wartawan, karena hingga kini janji Pemerintah Daerah untuk mengganti semua ongkos bangunan kios yang sudah dikeluarkannya, belum terbayarkan.

Selasa (2/10) kemarin, Feri menceritakan, bahwa dirinya bersama rekannya Endang, telah membangun sebuah kios di kawasan komplek Rawa Bangun atas jaminan akan adanya janji kompensasi (ganti rugi) yang diberikan oleh Pemkab Sanggau pada bulan Mei lalu.

 Lebih lanjut dirinya mengisahkan, pada relokasi Mei kemarin, tidak semua PKL mendapatkan kios di Rawa Bangun. Singkat cerita, karena Feri dan Endang ingin tetap berjualan dan patuh mengikuti kebijakan relokasi Pemkab Sanggau yang menyebutkan bahwa melarang setiap PKL berjualan lagi di tempat lama mereka sebelumnya.

 Saat itu dirinya berpikir tidak memiliki pilihan lain, daripada tidak jualan, akhirnya dibuatlah kesepakatan antara dirinya dan Pemkab melalui melalui Disperindagkop Kabupaten Sanggau. Feri diperbolehkan membuat kios sendiri, dengan catatan mau menggunakan dana sendiri. Setelah selesai, semua dana itu akan dikembalikan. Total pembangunan yang sudah dikeluarkan Feri dan Endang sebesar Rp. 40 juta.

 Uang sejumlah Rp. 40 juta lebih itu pun menurut Feri, karena berdasarkan kesepakatan antara dirinya dengan Disperindagkop, bahkan pekerjaannya pun selalu dikontrol oleh dinas terkait, termasuk pilihan jenis kayu yang dipakai.

 “Habisnya sekitar Rp. 40juta lebih. Tapi sampai sekarang belum juga dibayarkan. Katanya dijanjikan lagi bulan Maret 2012. Kami sudah kehabisan modal untuk berjualan,” ujar Feri.

 Untuk itu, dirinya juga telah menyampaikan surat kepada Bupati Sanggau,Ir. H Setiman H Sudin terkait kompensasi tersebut. Surat itu tertanggal 2 November, ditandatangani oleh Feri sendiri. Surat itu juga ditembuskannya kepada Ketua DPRD, Kapolres dan Disperindagkop Kabupaten Sanggau. Dia berharap, segera mendapatkan realisasi ganti rugi atas pembangunan Ruko yang dibangunnya itu.

 “Kalau bapak Bupati punya mata, tolong lihat kondisi kami. Kalau Bapak Bupati punya telinga, tolong dengarkan keluhan kami,” tulis Feri dalam penggalan isi suratnya.