You are here

Orang Kecil Mencari Rezeki dari Kerikil

Cangkul, martil dan linggis menjadi alat yang dipergunakan M Atong (40) dan Asmuni (37) untuk mengumpulkan kerikil-kerikil ditepi jalan yang bertaburan lantaran tidak melekat lagi dengan aspal. Batu-batu kecil itu lalu ditimbunkan ke sisi jalan yang berlubang.

Ayunan demi ayunan cankul yang tidak lagi tajam karena selalu menghantam kerasnya kerikil jalan dilakukan dua warga Sungai Bongkok, Kecamatan Kapuas ini lantaran ingin menafkahi keluarga mereka dirumah. Namun tidak ada kerjaan yang dapat mereka kerjakan dalam beberapa waktu terakhir. Merekapun memutuskan untuk memungut sumbangan dari para pengendara kendaraan yang melintas sebagai imbalan atas upaya yang mereka lakukan.

Jalan-jalan yang berlubang di sepanjang jalan negara antara Sungai Bongkok

Sanggau hingga ke perbatasan Kabupaten Sekadau cukup mengganggu para pengendara. Lubang-lubang menganga disepanjang jalan yang selalu membuat

para pengendara mengeluh karena laju kendaraan mereka tidak maksimal bahkan

tidak jarang diantara mereka harus tersungkur mencium kerasnya aspal karena

jatuh yang diakibatkan adanya jalan berlubang tersebut.

“Mau kerja susah kami tidak punya keahlian, dan dari pada ngemis mending seperti ini, disatu sisi kami membantu yang lewat,” ujar Atong yang tengah sibuk menimbun ruas jalan yang berlubang di Simpang Balai Nanga, tidak jauh dari Bukit Penyeladi.


Lubang-lubang yang awalnya nampak dalam dan bahkan nampak menyeramkan seperti menanti korban. Sepintas tertimbun dengan kerikil-kerikil dan demikian juga pengendara tidak lagi harus menginjak rem dengan kuat lagi karena lubang tersebut sudah relatif rata seperti halnya bagian lain yang tidak berlubang dan hanya berbeda kekuatannya saja.

Dari setiap lubang yang mereka timbun tersebut, dapat dikerjakan satu hingga dua hari tergantung dalamnya lubang dan ketersediaan kerikil disisi-sisi jalan tersebut bahkan dan hingga saat ini sudah enam lubang yang diakuinya telah layak untuk dilalui.

“Kami tidak memaksa setiap pengendara untuk memberi sembangan dan jikapun mereka memberi besarnya tidak lebih dari lima ribu,” tambah Asmuni yang nampak sekali dialeg Jawanya itu.

Namun jangan kaget dengan penghasilan mereka dalam satu harinya, walau hanya menggunakan kotak kardus bekas mi instant  yang dipotong setengahnya dimana

lembaran-lembaran uang seribu dari para sopir atau kernet dan juga pengendara

sepeda motor dikumpulkan, Rp 500 ribu berhasil dia peroleh.

“Lumayan lah hasilnya bisa sampai limaratus ribuan dan itu kami bagi berdua,” ujarnya lagi.

Walau tidak semua kendaraan yang melintas memberikan uang

sumbangan, Atong dan Asmuni tidak lantas memaksa. Mereka berdua sudah memilah

mana kendaraan proyek milik pemerintah mana yang bukan, namun demikian tidak

jarang hanya debu dan terpaan kerikil yang terlepas dari sela ban menjadi

imbalannya lantaran banyak juga kendaraan dengan kaca tertutup dan kecepatan

tinggi melintas tanpa memperdulikan mereka.

“Kadang debu yang mengepul karena kendaraan laju sekali, bahkan uang hasil sumbangan kami sempat juga dirampas di perbatasan Sekadau oleh oknum warga disana namun itulah resiko,” ujarnya menceritakan dukanya mencari rezeki menimbun jalan.