Sudirman berlari mondar- mandir. Dari ruangan satu ke ruangan lain. Kepala Sekolah SMPN 1 Sajingan itu memberi tahu puluhan siswa kelas IX dan jajaran guru agar bersiap menyambut kedatangan dua orang penting di republik ini.
Sudirman berlari mondar- mandir. Dari ruangan satu ke ruangan lain. Kepala Sekolah SMPN 1 Sajingan itu memberi tahu puluhan siswa kelas IX dan jajaran guru agar bersiap menyambut kedatangan dua orang penting di republik ini.
Dua orang penting itu adalah dua menteri anggota Kabinet Indonesia Bersatu, masing-masing menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih dan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, Ahmad Helmy Faishal Zaini. Agenda kedatangan dua menteri itu ingin berdialog langsung dengan siswa SPMN 1 Sajingan Besar yang merupakan salah satu sekolah perbatasan di Aruk, Sajingan Besar yang berbatasan dengan Biawak, Malaysia. Mereka juga ingin melihat langsung kondisi bangunan sekolah perbatasan.
Sabtu (20/3), sekitar pukul 11.00, cuaca cukup cerah. Rombongan datang dengan iringan puluhan mobil, lalu berhenti di depan pintu gerbang sekolah. Ketika turun dari mobil, terlihat duluan Endang dengan langkahan kaki penuh hati- hati mengenakan baju bermotif bunga, lalu disusul Helmy dengan mengenakan setelan kemeja jas abu-abu.
Pada saat turun dari mobil keduanya tampak segar bugar. Padahal mereka habis menempuh perjalanan jauh, dari Kota Sambas menuju desa Sajingan, sekitar 90 kilometer, dengan medan jalan yang menanjak dan rusak. Kemudian rombongan disambut upacara adat dayak, dipimpin langsung Tumenggung Sajingan, Lingga.
Usai mengikuti prosesi adat, dengan bacaan mantra dari Lingga. Disamping kanan Endang ada Wakil bupati Sambas, Juliarti. Seketika itu menarik tangan Endang menuju halaman sekolah untuk menari bersama di halaman sekolah. Karena di sana mereka mendapatan sambutan kembali yakni berupa tarian adat dayak. Juliarti menari, spontan Endang berjoget ria bersama Helmiy. Disampingnya, Wakil Gubernur Kalbar, Cristiandy Sanjaya, dan Bupati Sambas, Burhanuddin A Rasyid, juga ikut menari, semuanya menari mengikuti alunan musik dayak dengan ritmik.
Usai mengikuti acara tarian, ke dua menteri itu langsung digiring ke dua ruang kelas berbeda. Endang digiring ke ruang kelas VIII, dan Helmy ke ruang kelas IX. Di ruang terpisah itu, sudah menanti puluhan siswa yang berada di ruang kelas dengan duduk rapi.
Endang dan Helmy tertegun ketika melihat seragam siswa mengenakan seragam Pramuka, di dada sebelah kanan terpasang pin bergambar bendera merah putih. Pin itu sengaja disuruh Sudirman, sebagai tanda bahwa siswa perbatasan tetap cinta kepada Indonesia, meskipun daerah itu masih menyandang sebutan daerah teringgal karena keterbatasan sarana, infrasturuktur, akses informasi dan lainnya.
“ Saya ingin bertanya, siapa diantara siswa yang bisa menyebutkan nama menteri kesehatan sekarang?” tanya Endang.
Seketika suasana diam. Siswa saling pandang. Tak satupun siswa bisa menjawab nama menteri kesehatan. Endang lalu memperkenalkan diri. “ Nama saya Endang Rahayu Sedyaningsih, menteri kesehatan sekarang, “ kata Endang.
“Apakah di sekolah ini ada mata pelajaran kesehatan,” Endang melanjutkan pertanyaan. Siswa kembali saling pandang. Di bangku tengah ruangan, salah satu siswa tunjuk tangan, “Ada,” kata Timotis, siswa itu. “ Mata pelajaran Penjaskes,” katanya. Penjaskes adalah singkatan dari pendidikan jasmani dan kesehatan. Kemudian Endang setuju dengan jawaban.
Endang kembali bertanya, “Apakah ada siswa yang merokok?”
Serempak siswa menjawab “Tidak ada.”
“Yang bener..?” kata Endang. Siswa tertawa. Endang melanjutkan, “Siapa yang bisa menyebutkan bahaya dari merokok.”
“Saya,” suara dari belakang bangku, Lisa, siswa itu mengatakan, bahaya merokok dapat menyebabkan kanker dan serangan jantung. Endang menganggukkan jawaban itu.
Terakhir, ia bertanya pada seluruh siswa. “Sebutkan cita- cita tertinggi dari siswa semuanya.”
Timotius mengacungkan tangan. “ Cita- cita saya ingin menjadi menteri seperti ibu.” Spontan, suanana pecah dengan tawa.
Endang kemudian mengatakan, semua cita-cita bisa dicapai, asal pernuh kerja keras. Dan terus bersekolah.
“ Karena dengan pendidikan sekolah, jalan menuju kesuksesan” kata Endang.
Endang juga bercerita, bagaimana dulu ia menitik karir sebagai kepala Puskesmas di daerah Nusa Tenggara Barat, di sana ia ditempatkan di daerah terpencil. Ia tahu bagaimana sulitnya bertugas di daerah terpencil dengan segala keterbatasan sarana prasarana. Tapi ia tidak pernah menyerah. Selama bertugas ia tetap terus belajar dan belajar, hingga sampai mengantarkannya menjadi Menteri Kesehatan.
“Jadi kepada seluruh siswa, harus rajin belajar, biar nanti bisa seperti saya, “ pesan Endang.
Suasana ruang kelas sebelah tidak kalah semangatnya, Helmy langsung duduk sebangku dengan salah satu siswa di ruang itu. Lalu ia bertanya, “ siapa diantara siswa yang rumahnya jauh dari sekolah,” kata Helmy.
“Saya” kata Adrianus. Rumah saya di desa Sungai Bening. Kalau berjalan kaki bisa menempuh perjalanan lima jam. Helmy kaget dan menaruh bangga luar biasa, bahwa siswa perbatasan memiliki semangat belajar yang tinggi, meskipun jarak rumah ke sekolah sangat jauh.
Pensius menyatakan hal sama. Ia tinggal di dusun Tanjung, desa Keranji. Setiap hari ia harus turun dari rumah ke sekolah menjelang pukul 05.00. Karena jarak tempuh menuju sekolah ia harus melakukannya jalan kaki, memakan waktu sekitar satu jam untuk bisa sampai ke sekolah. Karena sudah terbiasa, tiga tahun ia bersekolah, jadi terbiasa menempuh perjalanan sekolah jalan kaki.
Meski jarak rumah ke sekola jauh, Pensius tidak pernah terlambat datang ke sekolah. Kuncinya adalah disiplin waktu.
Mendengar cerita siswa perbatasan, Helmy mengatakan, secepatnya membantu masalah ini . Ia memberikan bantuan berupa uang tunai sebesar Rp 200 juta untuk membangun asrama guru dan siswa. Tujuannya agar guru dan siswa bisa lebih dekat menuju ke sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Sambas, Nurpinarto menyambut baik bantuan itu. Karena bisa mengatasi siswa di daerah terpencil agar lebih semangat lagi bersekolah.
Rencanaya asrama dibangun di belakang bangunan sekolah SMPN 1 Sajingan, dengan daya tampung bisa mencapai 50 orang. Asrama itu diprioritaskan kepada siswa yang kelas III agar siswa bisa fokus mengikuti kepada mata pelajaran yang akan diujiankan.
Saat ini daerah perbatasan Kecamatan Sajingan Besar memiliki 1.519 siswa dari 13 sekolah dengan 76 lokal SD se-Kecamatan Sajingan. Sementara tenaga pengajar hanya berjumlah 77 orang.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
