PT Fumure, salah satu perusahaan pupuk organik cair (POC) akan menjadikan kabupaten Sambas sebagai pilot projek pertanian dengan menggunakan pupuk organik, mengingat Sambas dikenal sebagai sentra pertanian, khususnya padi dan jeruk.
PT Fumure, salah satu perusahaan pupuk organik cair (POC) akan menjadikan kabupaten Sambas sebagai pilot projek pertanian dengan menggunakan pupuk organik, mengingat Sambas dikenal sebagai sentra pertanian, khususnya padi dan jeruk.
Hal itu dikatakan direktur PT Fumure, Didi Eka Putera, saat berdialog dengan perkumpulan kelompok tani, Kecamatan Tebas, di Citrus Centre, Kamis ( 12/3).
Didi sengaja datang atas permintaan dari kepala Camat Selakau, Chifni. Dalam hal ini sebagai penggagas pertemuan tersebut. Kebetulan juga, pemilik perusahaan PT Fumure adalah pengusaha asal Sambas, Kecamatan Jawai Selatan, yakni Jon Hermanto.
“Kebetulan tidak bisa hadir, diwakilkan saya untuk memperkenalkan produk unggulan Fumure,“ kata Didi.
Di sana ia memaparkan bagaimana produk pupuk Fumure bisa mengatasi persoalan yang dihadapi petani saat ini, yakni hama penyakit dan virus, mengkibatkan tanaman kurang berproduksi bahkan mati.
Penyebabnya, kata Didi, selama ini banyak petani dalam mengolah hasil pertaniannya, selalu menggunakan pupuk anorganik, atau pupuk dari bahan kimia. Ia mengakui, pupuk tersebut memang bisa menghasilkan hasil produksi meningkat, namun harus diingat, kesuburan tanaman tidak akan berlangsung lama, karena unsur hara tanah terkikis habis. Sehingga tanah yang terkandung bahan kimia secara terus menerus, tanah akan terbentuk mirip plastik, sehingga akan mengganggu kesuburan tanaman. Akibatnya, tanaman sulit berproduksi dan mati.
Bahkan, dibeberapa negara berkembang, seperti Amerika, Jepang, Malaysia, dan lainnya, pemerintah di sana menerapkan pengawasan ketat, karena mereka sangat seleksi sekali mengimpor pertanian dan holtikultura yang mengandung unsur kimia.
”Sementara di Indonesia, hampir semua produk pertanian dan holtikultura mengandung unsur kimia, akibatnya, jika diekspor ke negara maju, produk kita tidak akan laku,” kata Didi.
Maka dari itu, ia datang ke Sambas untuk menawarkan produk Fumure, berupa pupuk organik cair, selain ramah lingkungan, juga dipercaya bisa meningkatkan hasil produksi pertanian, salah satnya padi dan jeruk.
”Yang terpenting adalah, ingin menjadikan Sambas sebagai pilot projek atau proyek percontohan, bagaimana mewujudkan hasil pertanian Sambas tidak lagi mengandung unsur kimia,” kata Didi.
Sementara ketua Komisi B, DPRD Sambas, Giffarian menyambut baik ide PT Fumure tersebut. Dan ia menyatakan kabupaten Sambas sangat tepat untuk dijadikan proyek percontohan, karena luasnya sentra pertanian yang ada saat ini.
Salah satunya, PT Fumure diharapkan menanamkan investasi di sektor pertanian padi. Karena ia ketahui, selama ini tidak ada pengusaha yang melirik potensi padi, karena anggapannya selalu rugi. Berbeda dengan sektor lainnya, seperti sawit dan karet.
”Coba kita lihat, saat ini belum ada petani padi yang kaya, yang kaya hanya petani sawit,“ cetusnya.
Bahkan, ia menyebutkan, Pemkab Sambas selama ini selalu mengarang cerita bohong, dimana Sambas sebagai daerah yang surplus beras. “Bagaimana bisa ini terjadi, sementara setiap tahunnya luas cetak sawah bukannya bertambah, justru berkurang,“ kata Giffarian.
Begitu juga sering kita dengar bahwa Sambas siap mengekspor beras dan jeruk ke Malaysia, jika dibutuhkan. Namun, nyatanya mutu pertanian kita masih mengandung unsur kimia atau mengguanakan pupuk anorganik.
Pada kesempatan yang sama, Chifni hanya menambahkan, bagaimana pentingnya petani beralih menggunakan pupuk organik, karena mutu dan kualitasnya lebih dibanding pupuk anorganik. Tujuannya, demi masa penanaman jangka panjang.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
