Lesung Laban bisa mengasilkan suara yang merdu dan berlagu saat alu ditumbuk berirama. Lesung laban adalah alat untuk penumbuk bulir padi setengah masak. Masyarakat Sambas menyebutnya “ Amping.” Dulu lesung ini dijadikan alat untuk memanggil warga antar kampung, sebagai tanda dimulainya acara “Ngamping”, merupakan acara syukuran musim panen padi.
Sekelompok ibu berseragam sedang menari menumbuk lesung, bergiliran, menggunakan kayu bulat memanjang. Masyarakat menyebutnya “ Alu” yang terbuat dari jenis kayu Laban, Pakak, dan Gamang.Dipilihnya jenis kayu itu, karena batangnya yang halus dan kuat. Kayu tersebut dilubangi berdiameter setengah meter. Saat alu ditumbuk di lubang lesung, mengasilkan bunyi berirama, sesuai ritmis tumbukan.
Itulah sebuah malam, pada pertengahan Maret tahun lalu di Dusun Sebadi, Desa Trimandayan, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas. Dimana sekelompok ibu- ibu berseragam mendatangi empat buah lesung berukuran sedang dengan membawa alu berdiri tegak di empat penjuru, sebuah halaman.
Alu, atau alat penumbuk lesung itu ditumbuk dengan ritme beraturan. Sehingga terdengar bunyi berirama yang dimainkan sekelompok ibu, malam itu puncak acara syukuran panen padi atau “ Ngamping.” Puluhan penonton pun menikmati alunan irama tadi
Ngamping bagi masyarakat Sebadi merupakan acara tradisi turun temurun. Wujudnya sebagai ungkapan syukur bagi petani karena panen padi berhasil. Dan berharap musim “beranyi” atau musim tanam tahun depan lebih berhasil dari tahun ini.
“Biasanya Ngamping dimulai setiap musim terang bulan, “ kata Abdul Hadi, pembina Dewan Kesenian “ Mekar Setaman.”
Awalnya, amping merupakan hasil kreasi petani padi tempo dulu. Dimana pada saat jaman penjajahan Belanda, dulu masyarakat kesulitan mencari makanan. Hanya bisa makan nasi, dari hasil padi di sawah. Sementara untuk mendapatkan lauk pauk cukup sulit, karena kondisi pada waktu itu masih terjadi peperangan.
Berangkat dari itu, lalu, beberapa petani melakukan berbagai percobaan pada saat musim panen padi, yakni dengan cara mengambil bulir padi setengah matang.
Ngamping sendiri adalah nama sejenis makanan yang terbuat dari bulir padi setengah matang. Masayarakat Sambas menyebutnya “ Moge.” Lalu amping dimasak dengan cara di aruk dalam wajan. Jika sudah terdengar bunyi letupan 3-4 kali, amping siap diangkat.
Proses selanjutnya, amping ditumbuk dalam lesung, hingga halus. Kemudian hasil tumbukan tadi diampik, dengan maksudnya agar ampas amping terbuang. “Selanjutnya amping siap dihidangkan,” kata Hadi.
Bentuk hidangannya ada berbagai macam. Amping bisa disajikan dengan dicampur air gula kelapa, agar disantap terasa manis di lidah. Bisa juga ditaburi gula pasir dan parutan kelapa menghasilkan rasa nikmat saat disantap. Atau, ingin menikmati amping yang renyah, harus diaruk kembali di dalam wajan, lalu digauli dengan air gula kelapa. Kalau tidak ingin repot, amping bisa juga langsung dimakan. Lebih nikmati lagi bisa ditambah ketupat, ratih atau pisang.
Karena hal itu sudah dilakukan secara rutin setiap memasuki awal panen padi, masyarakat pun menjadikan membuat amping dilakukan antar kampung. Biasa dilaksanakan setiap Jumat pagi. Dengan melakukan numbuk amping secara bersamaan, menggunakan alu dan lesung.
Sebelum memulai ngamping, tokoh adat setempat melakukan ritual upacara adat, dimana beberapa dukun membacakan doa keselamatan yang ditujukan kepada baskom air digunakan untuk menyiram tanaman padi yang baru ditanam. Dengan harapan panen berikutnya bisa berhasil.
“Ritual itu dikenal dengan nama “ Tepung Tawar,” kata Hadi.
Agar acara lebih semarak dilangsungkanlah acara numbuk amping antar kampung, menggunakan alu atau lesung, terbuat dari kayu Laban, Gamang dan Pakak. Ada juga mengunakan lesung Neneng, yakni lesung dari bahan batu.
Nah, pada saat ditumbuk, terdengarlah alunan irama. Dan irama itu terdengar nyaring, hingga radius satu kampung. “ Maklum saja, pada waktu dulu, di kampung tidak ada hingar bingar kendaraan bermotor. Sehingga lesung yang ditumbuk bisa terdengar jelas.
Tujuan dari numbuk amping, adalah sebagai tanda bagi masayarakat antar kampung bisa berkumpul, maksudnya agar bisa menjalin silaturahmi. Tak heran pada waktu itu, dijadikan anak muda kampung sebagai ajang mencari jodoh. Karena disaat acara bersamaan, juga disuguhkan orkes melayu dan tarian dan lagu daerah.
“ Salah satunya adalah lagu, “ Alu Galing, Lasung Laban, Tumbok Amping, di Tarang Bulan.” Lagu itu, kini menjadi lagu daerah bagi masyarakat Sambas. Sekarang, “Numbuk Amping” sudah sering ditampilkan di berbagai acara festifal budaya.
Sayangnya, kayu Laban sebagai alat menumbuk amping, sekarang sudah jarang ditemukan, seiring maraknya pembabatan hutan. Padahal kayu itu jika dijadikan lesung. Saat ditumbuk menghasilkan suara yang merdu, karena bahan kayunya halus, keras dan tahan lama sampai puluhan tahun. Bahkan, setiap acara Ngamping juga yang sering diadakan di desa Sebadi, lesung yang digunakan adalah kayu olahan, bukan asli kayu Laban.
Sehingga amping yang dihasilkan hanya habis untuk dimakan pada saat acara Ngamping. Padahal, jika pemerintah derah jeli, Ngamping bisa dijadikan aset wisata, untuk menarik turis yang datang. Selain itu, jika amping dikemas dengan kemasan yang menarik, akan menjadi bahan oleh- oleh bagi pengunjung yang datang.
” Karena Ngamping adalah budaya masyarakat Sambas, “ kata Hadi.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
