Tidak ada warga yang ingin hidup miskin. Tapi pemerintah juga belum berdaya memerangi kemiskinan sampai ke akarnya. Termasuklah pemerintah Kabupaten Sambas.
Dimana salah satu warganya, Aspan setiap harinya bekerja sebagai tukang pangkas rambut bagian potret kemiskinan warga . Dari hasil jasa pangkas rambut miliknya hanya bisa mencukupi kebutuhan sandang. Tapi biaya sekolah dan keperluan rumah tangga belum tercukupi.
Dengan kehidupan serba kecukupan Aspan sama sekali tidak pernah merehap rumahnya. Dan kondisi rumah tetap dibiarkan begitu saja rusak tanpa ada perbaikan . Rumah warga yang sudah beratap seng Aspan masih beratap daun nipah. Bahkan lantai rumah dari bahan papan sudah hampir keropos akibat sering direndam banjir. Lantaran jarak lantai dengan tanah sudah hampir menyatu.
Ditambah lagi rumahnya berdekatan dengan laut dimana setiap angin bertiup kencang maka akan menerpa atap daun yang mudah goyah. Asmara, istri Aspan mengatakan " Saya sudah sering terjatuh akibat lantai rumah yang rapuh, bahkan kemaren kaki saya sampai bengkak,” katanya.
Dia mengaku untuk memperbaiki rumahnya yang reot perlu dana besar sedangkan suaminya hanya mampu kehidupan keluarga sehari-hari. Ditambah lagi anak pertamanya yang masih duduk di bangku kuliah. Untuk mencukupi biaya pendidikan anaknya, suaminya harus berhutuang kesana- kemari.
Pantauan Borneo Tribune, rumah Aspan di jalan Penjajap Barat, Gang Menara 1, No 29 RT 4/RW 4 Pemangkat ini bisa dibilang tidak layak tinggal. Untuk itu memerlukan uluran tangan dari dermawan agar bisa memperbaiki gubuknya. Bahkan Aspan berharap kepada pemerintah daerah dapat membantu rumah tinggalnya yang hampir ambruk. (Amrul Ambiya/Freelancer)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
