Ketua Umum BPD HIPMI Kalbar menngatakan, ancaman penerapan Asean China Free Trade Agreement (ACFTA) terhadap industri dalam negeri telah membayangi pengusaha Indonesia.
Ketua Umum BPD HIPMI Kalbar menngatakan, ancaman penerapan Asean China Free Trade Agreement (ACFTA) terhadap industri dalam negeri telah membayangi pengusaha Indonesia.
Sektor industri dalam negeri diperkirakan akan mengalami penurunan seiring membanjirnya produk-produk Negara Tirai Bambu ini ke Indonesia.
“Wajar jika kemudian para pelaku usaha meminta pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang lebih berpihak pada industri dalam negeri,” kata Iwan Gunawan, Senin (8/3) saat dialog publik dan diskusi ilmiah di Untan.
Ia mengatakan, dengan melihat perkembangan terkini kondisi ekonomi Indonesia serta berbagai desakan dari pengurus HIPMI seluruh Indonesia, HIPMI tidak akan berhenti menyuarakan adanya kebijakan yang lebih berpihak pada pengusaha. Menurutnya suara HIPMI ini tercermin dari berbagai program kerja yang telah dilaksanakan.
“Selain itu HIPMI menggelar berbagai kegiatan yang bisa menggembleng anggotanya agar menjadi pengusaha yang tangguh, professional, berintegritas dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi,” ujarnya.
Disamping isu politik, implementasi penandatanganan ASEAN – China free Trade Agreement (ACFTA) menimbulkan konsekuensi kepanikan bagi industri dalam negeri. Pasalnya penurunan tarif bea masuk menimbulkan ketakutan munculnya tsunami produk-produk China ke Indonesia dan dilanjutkan dengan tutupnya pabrik akibat kalah bersaing, yang berujung pada meningkatnya angka pengangguran.
Lemahnya sosialisasi dan informasi tentang diberlakukannya ACFTA dan minimnya langkah antisipasi oleh pemerintah, memberikan dampak negatif terhadap dunia usaha di berbagai sektor yang dampaknya sudah mulai terasa.
“Tentunya hal ini menjadi sasaran kecaman dunia usaha dan media massa karena pemerintah dianggap lalai dalam mempersiapkan langkah antisipasi dampak ACFTA,” ungkapnya lagi.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
