You are here

NTP Bukan Acuan Kesejahteraan Petani

Berdasarkan rilis BPS Provinvi Kalbar, Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan bulan Oktober 2011 Provinsi Kalbar sebesar 102,81 poin naik menjadi 0,43 poin atau berubah 0,42 persen dibandingkan NTP bulan September 2011 yakni 102,38 poin. Hal ini disebabkan karena indeks harga yang diterima petani naik sebesar 0,47 persen, sedangkan harga yang dibayar petani naik sebesar 0, 05 persen.

Kepala BPS Provinsi Kalbar Yomin Tofri belum lama ini mengatakan, NTP sebagai daya ukur dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. “Semakin tinggi NTP, relatif semakin sejahtera tingkat kehidupan petani,” katanya.

Menurutnya NTP berfluktuatif setiap bulannya selama periode Januari 2001 hingga Oktober 2011. Penurunan NTP umumnya terjadi pada saat panen tanaman pangan, tanaman hortikultura, maupun tanaman perkebunan rakyat, tetapi naik kembali pada waktu sesudahnya. Ia memaparkan untuk NTP sub sektor tanaman padi dan palawija (NTPP) Provinsi Kalbar sebesar 96,81 poin, naik 0,87 persen bila dibandingkan NTP September 2011 yaitu 95,97 poin. NTP subsektor hortikultura (NTPH) sebesar 102,60 poin mengalami kenaikan 0,01 persen dibandingkan September yakni sebesar 102,59 poin.

Selanjutnya, NTP sub sektor perkebunan rakyat (NTPR) Kalbar sebesar 120,34 poin naik 0,05 persen dibandingkan September 2011 yaitu 121,28 poin. NTP peternakan (NTPT) sebesar  82,94 poin tidak mengalami perubahan yaitu 0,00 persen bila dibandingkan bulan September 2011 yaitu 82,94 poin, dan NTP perikanan Provinsi Kalbar 106,09 poin naik 0,45 poin naik bila dibandingkan NTP September 2011 yakni 106,01 poin.

“Dari empat provinsi di Pulau Kalimantan yang dilaporkan pada bulan Maret 2011, kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan yakni sebesar 0,97 persen, Kalbar naik sebesar 0,42 persen, Kalimantan Tengah naik sebesar 1,6 persen, dan Kalimantan Timur naik sebesar 0,35 persen,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kalbar Hazairin mengatakan, NTP sebenarnya dapat digunakan sebagai monitoring bukan sebagai acuan untuk menentukan sejahtera atau tidaknya kehidupan petani, karena NTP itu sangat berfluktuatif berdasarkan bulanan karena terkait dengan masa produksi petani.