Inflasi di Kalbar cenderung tinggi, penyumbang inflasi di Kalbar adalah Kota Pontianak. BI Pontianak melakukan upaya dengan membentuk Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Pontianak.
Pemimpin Bank Indonesia Pontianak yang merupakan koordinator TPID Kota Pontianak, Hilman Tisnawan, mengatakan pembentukan tim ini untuk koordinasi dengan memberikan masukan, solusi kepada Pemerintah Daerah Kota Pontianak.
“Tingkat inflasi Kalbar saat ini mencapai 82,63 persen, Kalbar masih bergantung pada Pontianak, karena menyumbang nilai tertinggi,” katanya, Senin (31/10) kemarin.
Maka pihaknya bersama TPID daerah lain, akan melakukan rapat koordinasi di Banjarmasin secara nasional, di bulan ini.
Pengamat Ekonomi Untan Dian Patria menilai positif pembentukan TPID Kota Pontianak oleh BI. Karena Kota Pontianak dan Singkawang merupakan indikator untuk penghitungan inflasi. Perputaran uang di Kota Pontianak lebih besar dari Singkawang.
“Kita tahu inflasi sangat mengganggu, diharapkan dengan adanya TPID ini bisa menghilangkan distorsi-distorsi inflasi,” kata dosen dari Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan FE Untan ini.
Menurutnya, inflasi bisa terjadi karena dua indikator, yakni tidak sengaja dan tujuan tertentu. Menurutnya, TPID harus membereskan indikator tujuan tertentu. Ia melihat upaya yang dilakukan TPID akan semakin baik.
“Untuk itu perlu juga disenergiskan antara TPID, pelaku usaha dan masyarakat,” katanya.
Dikatakannya, tingkat inflasi dapat diperkirakan, karena dipengaruhi faktor musiman. “Saya cukup heran tidak musiman harga naik, seharusnya itu tidak boleh terjadi. TPID harus mengetahui suplay dan demand,” ujarnya.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
