You are here

Ilmu, Kijang, dan Menulis

Gazebo STAIN Pontianak pada Sabtu 29/10/11 menjelang siang, dipenuhi oleh orang-orang dari berbagai generasi. Hari itu sepertinya tengah terjadi gempa lokal di STAIN dengan epicentrumnya berpusat di gazebo yang memang berada tepat di tengah-tengah. Getaran gempa itu disebabkan oleh peluncuran buku, 13 judul buku dihasilkan oleh anggota Club Menulis STAIN Pontianak, yang diterbitkan oleh STAIN Pontianak Press. 

    Bangunan gazebo tersebut mengadopsi gaya bangunan Yunani. Pusat perhatian ada di tengah dikelilingi oleh tempat duduk yang melingkar dan bertingkat ke belakang. Dengan demikian, para penonton dari segala sudut mudah mengarahkan pandangannya ke pusat perhatian. Desain tersebut semakin jamak dijadikan kegiatan intelektual, seperti peluncuran buku karena sejarah perkembangan intelektual Islam ikut dipengaruhi juga oleh tradisi Helenistik (Yunani).

    Kegiatan peluncuran buku yang dihadiri oleh lintas generasi sepertinya semakin menambah greget acara itu. Soedarto yang akrab dipanggil Pak Darto, tokoh pendidikan dan sejarawan Kalbar, ikut berpartisipasi dan memberikan wejangan berarti tentang manfaat menulis. Abdurrachman Abror yang akrab dipanggil Pak Abror juga membagi pandangan hidupnya berarti yang tercermin di dalam buku yang ikut diluncurkan juga dengan judul Pak Abror, Guru Semua Orang.  

    Civitas akademika juga memberikan perhatian penuh terhadap peluncuran 13 buku Club Menulis. Perhatian tersebut ditunjukkan oleh Puket III STAIN Pontianak, Dr Hermansyah, yang mengatakan bahwa peluncuran buku-buku mahasiswanya merupakan tamparan keras bagi para dosen yang masih enggan menulis.

    Menulis tidak bisa dijauhkan dalam dunia akademika sebagai barometer intelektualitas. Club Menulis yang masih di lingkungan akademika telah menghembuskan angin positif untuk perubahan dari tradisi oralitas (lisan) ke tradisi literasi (tulisan). Oralitas tanpa literasi akan menyisakan kesia-siaan.

    Imam Syafi’i, seorang imam mazhab syafi’iyah, menjunjung tinggi tradisi menulis karena tradisi semacam ini yang akan mengikat khazanah ilmu pengetahuan. Menurutnya, ilmu itu seperti kijang liar dan menulis yang akan mengikatnya. Tradisi literasi mewariskan khazanah intelektual imam Syafi’i yang fenomenal di dunia hukum Islam, berupa buku berjudul al-Um. Sampai sekarang, karya imam Syafi’i itu masih terus dipelajari. Dengan demikian, Fenomena membaca masih belum cukup jika belum diberangi fenomena menulis yang bermanfaat bagi keberlangsungan masa depan.

    Ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang atau dikembangkan pada suatu masa akan hilang begitu saja seperti asap di udara jika tidak ditulis. Begitu juga, informasi yang dimiliki seseorang atau masyarakat akan sulit diketahui corak pemikirannya jika tidak ditulis. Ilmu pengetahuan dan informasi tersebut pasti menjadi liar yang oleh Imam Syafi’i disebut seperti kijang liar (ghazalah).

    Pengikatan ilmu pengetahuan dan informasi tersebut harus melalui upaya menulis.  Menulis merupakan satu-satunya jalan ditempuh agar segala ilmu pengetahuan dan informasi dapat dipelajari dan ditelaah di kemudian hari. Perkembangan kehidupan seperti sekarang ini yang dibilang modern tidak bisa terlepas dari tradisi tulis-menulis. Kancah pertarungan tesa dan antitesa dalam menemukan sebuah sintesa sebagai inovasi tidak bisa terlepas dari media menulis yang mengikat ilmu pengetahuan dan informasi.

    Club Menulis STAIN Pontianak yang dimotori Yusriadi membuktikan pengikatan terhadap ilmu pengetahuan dan informasi yang beredar liar di lingkungan Pontianak melalui sebuah tulisan. Kemungkinan besar 13 buku tersebut akan bermanfaat seiring perjalanan sejarah karena memotret keadaan masyarakat pada masanya.

    Pada akhirnya proses perjalanan ke depan, Club Menulis dapat memberikan getaran gempa yang dahsyat lagi dalam konteks lokal Kalbar atau bahkan konteks nasional melalui tulisan. Menulis memang mudah kata Arswendo Atmowiloto, tetapi taksemudah membuat sebuah tulisan.

                                    Masih pagi 31/10/11