You are here

Harga Minyak Dunia "Mixed" Setelah Cadangan Minyak AS Naik

Harga minyak mentah "mixed" (beragam) pada Rabu waktu setempat, setelah pemerintah AS melaporkan sebuah kenaikan spektakuler stok minyak mentahnya pekan lalu, membuktikan dengan pasti kurangnya permintaan di konsumen energi terbesar dunia tersebut.

 

Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah "light sweet" untuk Maret, turun 46 sen menjadi ditutup pada 40,32 dolar AS per barel.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Maret, naik tujuh sen menjadi mantap pada 44,15 dolar AS per barel.

Departemen Energi AS (DoE) mengatakan stok minyak mentahnya melambung 7,2 juta barel pekan lalu, lebih dari dua kali lipat perkiraan para analis 2,9 juta barel per hari.

Ini kali kelima pekan berturut-turut naik, dan kenaikan tajam menggarisbawahi kurangnya permintaan di tengah krisis finansial global yang telah membawa ekonomi dunia hampir berhenti.

Para analis mencatat bahwa permintaan minyak masih turun meski Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengurangi produksinya.

"Sejauh ini, OPEC signifikan menurunkan kuota produksinya, efektif mulai Januari, belum mempengaruhi cadangan energi AS," kata Thierry Lefrancois, seorang analis di Natixis.

"Komentara dari spekulasi para anggota OPEC tentang prospek penurunan minyak lagi, memberikan kesan rendahnya eksfektasi bahwa penurunan itu akan memiliki dampak material," kata dia.

OPEC pekan lalu, mengindikasikan akan mempertimbangkan penurunan produksi lagi untuk mendukung pasar menghadapi jatuhnya permintaan energi.

Para pengamat pasar mengatakan kartel akan mencoba mencapai kesepakatan untuk pengurangan produksinya lagi pada pertemuan mendatang, pada 15 Maret di Wina.

OPEC yang memproduksi 40 persen dari minyak mentah dunia, akhir tahun lalu, mengumumkan pengurangan produksi total 4,2 juta barel per hari dalam upaya mencoba menahan kejatuhan harga minyak.

Minyak mentah berjangka telah mendapat beberapa dukungan pada Selasa, dari pemogokan pada kilang-kilang minyak di Inggris dan badai salju di Eropa Timur, namun kenaikannya terbatasi oleh kekhawatiran tentang dampak pelambatan ekonomi.