You are here

Hadapi ACFTA dengan Ekonomi Kerakyatan

Pemberlakuan Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) memberikan pukulan besar bagi masyarakat. Pengamat Ekonomi Untan Dian Patria mengaku tidak setuju dengan perdagangan bebas.

Menurutnya, harus ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan salah satunya memperkuat ekonomi kerakyatan. Berupa, batik yang hanya dibuat oleh Indonesia. “Lemahnya orang kita adalah tidak bisa melihat kualitas namun melihat dari harganya, keadaan ini yang dimanfaatkan China untuk memasarkan berbagai macam produknya di Indonesia,” kata Dian.

Katanya, produk China cenderung lebih murah, hal ini perlu dipertanyakan. Di sisi lain, China tidak dikenakan bea masuk, sedangkan Indonesia ada bea masuk sehingga harga jualnya lebih mahal.

“Selain itu perdagangan bebas bisa menyebabkan penurunan penjualan, keuntungan hingga pengurangan tenaga kerja,” ujarnya.

Meski Indonesia menang di komoditas kayu, kertas, CPO, dan karet, tapi harus dikembangkan sampai industri hilirnya, sedangkan produk China dibiarkan masuk ke Indonesia. Ia meminta pemerintah menjaga keseimbangan negara China.

 “Semua harus sadar kalau hal ini dibiarkan maka pengusaha banyak yang tutup, yang tadinya jadi produsen kini menjadi pedagang, yang tadinya barang dari China menjadi barang importir sehingga kita menjadi pedagang-pedagang barang China,” katanya.