You are here

BI Turunkan BI Rate 6,50 Persen

Salah satu langkah untuk antisipasi memitigasi dampak penurunan kinerja ekonomi dan keuangan global terhadap kinerja perekonomian Indonesia, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan BI rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,50 persen.

Peneliti Ekonomi Madya Senior Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Clarita Ligaya Iskandar, Selasa (1/11) usai pembukaan seminar perkembangan ekonomi terkini mengatakan pihaknya akan tetap mengambil langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah khususnya dampak dari gejolak pasar keuangan global. Keputusan ini diambil sejalan dengan keyakinan BI terhadap inflasi pada akhir tahun ini maupun tahun depan akan berada di bawah 5 persen.

“Memang berdasarkan perkembangan terkini diperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2011 sebesar 6, 6 persen, ini didukung konsumsi dan kegiatan investasi. gejolak ekonomi global diperkirakan baru akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi domestic pada tahun 2012 yang tumbuh melambat pada kisaran 6,2 persen hingga 6,7 persen,” katanya.

Menurutnya, ekonomi dunia saat ini kian memburuk akibat permasalahan utang dan fiskal Eropa dan Amerika Serikat. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan bias ke bawah. Tahun 2011 dari 4,3 persen menjadi 4 persen. Di tahun 2012 dari 4,5 persen menjadi 4 persen, sedangkan dari sisi produksi dan konsumsi negara maju melambat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih cukup kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.

Selanjutnya untuk ekspor dan impor akan diperkirakan akan tetap tumbuh, namun perlu diwaspadai dampak perkembangan ekonomi global khususnya pada tahun 2012. Meskipun tumbuh ekspor diperkirakan akan mengalami perlambatan seiring melemahnya permintaan internasional akibat kekhawatiran terhadap prospek ekonomi dunia. Namun pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia yang relatif tinggi diperkirakan akan menjadi penopang ekspor. Harga komoditas yang menurun juga akan memberikan tekanan. Sejalan dengan kinerja ekspor yang berpotensi mengalami perlambatan, impor juga diperkirakan akan melambat.