Kota Pontianak raih deflasi tertinggi pada bulan Oktober 2011, yakni sebesar -1,66 persen. Komoditi yang menyumbang deflasi paling tinggi yakni angkutan udara sebesar -1,3401 persen.
Deflasi ini terjadi karena penurunan harga barang dan jasa setelah perayaan hari raya Idul Fitri. Kepala BPS Provinsi Kalbar Yomin Tofri, Selasa (1/11), mengatakan penurunan indeks yang cukup besar yaitu pada kelompok bahan makanan sebesar -2,20 persen, kelompok sandang 0,77 persen, dan kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan -8,10 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks yakni kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,51 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,66 persen, kelompok kesehatan 0,077 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,14 persen.
Bila dibandingkan dengan inflasi tahunan, laju inflasi tahun 2011 yang sudah berjalan selama 10 bulan sebesar 3,45 persen, sedangkan inflasi dengan periode yang sama pada tahun 2007, 2008, 2009, dan 2010 masing-masing sebesar 5,99 persen, 11,37 persen, 5, 32 persen dan 7,24 persen. Besarnya laju inflasi year on year untuk bulan Oktober 2011 terhadap Oktober 2010 sebesar 4,68 persen, sedangkan laju inflasi year on year untuk bulan Oktober 2009 terhadap 2008 sebesar 5,41 persen.
Selanjutnya perbandingan inflasi antara kota di pulau Kalimantan, pada bulan Oktober 2011 dari delapan kota di pulau Kalimantan yang dihitung inflasinya, tujuh kota yang mengalami deflasi dan satu kota mengalami inflasi. Untuk Indonesia dari 66 kota, di antaranya 32 kota mengalami inflasi dan 34 mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Bima sebesar 0,97 persen dan terendah di Madiun sebesar 0,01 persen.
Kepala BPS Pusat Djamal SE. M. Sc menambahkan, secara nasional Indonesia mengalami deflasi sebesar -0,12 persen, sedangkan inflasi tahunan kalender sebesar 2,85 persen. “Penyumbang deflasi yang tertinggi adalah emas perhiasan yakni sebesar -0,11 persen,” kata Djamal.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
