Mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Tarman Azzam, Kamis, menghadiri acara pemakaman Ketua PWI Kalimantan Barat, Hery Hanwari (71) yang meninggal dunia karena sakit.
Sekretaris PWI Kalbar, Gusti Yusri, di Pontianak, menyatakan, Tarman Azzam tiba di Pontianak pukul 12.00 WIB dan langsung menghadiri acara pemakaman sahabat karibnya tersebut di komplek Pemakaman Muslimin BLKI, Jalan Sultan Abdurrahman.
Almarhum Hery Hanwari meninggal Rabu (17/3) pukul 17.55 WIB di rumah, karena menderita kanker paru-paru. Ketua PWI Kalbar itu mengalami sakit cukup parah dalam tiga bulan terakhir. Upaya pengobatan sudah ditempuh pihak keluarga, baik di Pontianak, Jakarta maupun ke Malaysia.
Hery Hanwari dikenal bersahabat dengan Tarman Azzam, ketika masih menjadi Ketua PWI Pusat. Persahabatan tersebut berlanjut hingga kini. "Sehingga ketika Pak Hery meninggal, Pak Tarman pun datang kesini," kata Yusri.
Sementara dalam kesan pesannya sebagai sahabat, Tarman Azzam menyatakan Hery Hanwari sering menjadi rujukan dalam berbagai kegiatan PWI. "PWI kehilangan sosok Hery Hanwari yang tetap aktif dan eksis di PWI meski dalam usia tua," kata Tarman Azzam.
Tarman mengatakan ketika empat tahun lalu menghadiri kongres cabang PWI Kalbar, ia sepakat dengan Hery Hanwari agar sudah saatnya PWI Kalbar dipimpin oleh generasi muda. Namun keduanya terkejut, karena justru yang muda-muda itu memilih kembali Hery Hanwari sebagai ketua PWI.
Hery Hanwari menjadi ketua PWI dalam empat periode . Untuk kepengurusan saat ini merupakan tahun ke delapan untuk periode keempat. "Sedianya kami akan mengadakan konggres untuk pergantian pengurus pada akhir Maret, tetapi diundur menjadi 28 April," kata Yusri.
Masih menurut Yusri, sekira dua pekan lalu ia sempat bertemu dengan Hery Hanwari di sekretariat PWI Kalbar di Jalan Sutoyo, Kecamatan Pontianak Selatan dan membicarakan rencana konggres dan siapa kira-kira yang bisa menggantikannya.
Sebagai sekretaris PWI, Gusti Yusri mengakui tidak tahu mengenai penyakit yang dialami Hery Hanwari. "Pak Hery tidak pernah cerita sedang sakit. Beliau hanya bilang susah tidur malam," katanya.
Yusri yang juga Pemimpin Redaksi Harian Kapuas Post menyatakan baru mengetahui ketua PWI itu sakit kanker paru-paru, pada pekan lalu.
Menurut keponakan almarhum, Iskandar Zulkarnain, karena kondisi sakit yang cukup parah dan sulit disembuhkan, keluarga memutuskan Hery Hanwari dirawat di rumah saja. Sehingga sebelum dimakamkan, jenazah Hery disemayamkan di rumah duka gang Pandu No. 28 Jalan Imam Bonjol.
Selain sebagai wartawan dan pemilik Harian Mitra Kalbar, Hery Hanwari yang lahir pada 10 Oktober 1939 di Mempawah, juga pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik selama dua periode, aktif di organisasi Kosgoro, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR GR).
Hery juga pernah menjadi pegawai negeri di Pemerintah Kabupaten Pontianak, dan menjadi humas di Universitas Tanjungpura dan melanjutkan studi di Fisipol Untan.
Hery Hanwari meninggalkan 11 anak dari tiga istri. Ratusan pelayat mendatangi rumah duka di antaranya, Kepala Kepolisian Daerah Kalbar, Brigjen (Pol) Erwin TPL Tobing, Rektor Untan Prof Dr Chairil Effendy, para pembantu rektor, para dosen di lingkungan Fisipol Untan, anggota DPRD Provinsi Kalbar dan wartawan para anggota PWI dan organisasi lainnya.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
