You are here

*Sambut Malam Lebaran Delapan Meriam Karbit Siap Berdentum

Sedikitnya delapan meriam karbit yang telah dipersiapkan untuk menyambut malam lebaran 1431 Hijriah mendatang. Permainan meriam tersebut akan dibagi menjadi dua wilayah. Empat meriam pertama akan dimainkan di kawasan RT 01/RW 01 dan empat lainnya di RT 02/RW 01.

“Kalau di sini, RT 02 RW 01, empat meriam akan ditempatkan di seteher (jembatan, red) sebelah hilir, dekat kafe Gaul,” ujar Ketua Perkumpulan Pemuda Bintang Kejora (PBK), Safarani, disela-sela penyelesaian pembuatan meriam karbit di kafe Banjar Serasan, Kamis (2/9).


PBK merupakan perkumpulan yang mewadahi kreatifitas pemuda dan masyarakat di kawasan tersebut, salah satunya pembuatan meriam karbit.


Secara teknis, dijelaskan Safarani, proses pembuatan batang meriam karbit terbilang relatif lama. Untuk keempat batang meriam yang dikerjakannya telah dimulai sejak sebelum memasuki bulan Ramadan.


Prosesnya, dijelaskan dia, dimulai dengan membeli bahan material dari seorang penyelam tradisional di Tanjung Hilir. Dan batang meriam terbuat dari kayu lok atau kayu meranti padat dan besar, dengan ukuran panjang sekitar empat sampai enam meter.

“Harga per batangnya, kalau dengan antar mencapai Rp 600 ribu,” kata Safarani.


Satu batang meriam, dijelaskan Safarani lagi, biasanya dikerjakan empat hingga enam orang yang terbilang mahir. Sedangkan pengerjaan meriam karbit itu sendiri, yakni dengan cara kayu bulat tersebut dibelah dan dikorek isi dalamnya hingga bersih. “Kemudian ditutup rapat-rapat dengan dikasi karung goni dan ditutup dengan seng datar yang diikat dan disanggah pakai kayu. Terakhir, kayu diikat kuat pakai tali rotan. Untuk pengerjaannya, kalau cepat, satu batang meriam itu bisa memakan waktu tiga sampai empat hari,” jelasnya.


Menurutnya, permainan tradisional meriam karbit merupakan khazanah kolosal yang bisa dinikmati setiap setahun sekali pada malam lebaran. Safarani berharap agar Pemerintah Kota Pontianak dapat lebih memperhatikan segi estetika budaya yang telah turun temurun tersebut. Melalui dinas terkait, dia berharap agar Pemkot dapat memberikan dana insentif demi kelancaran prosesi serta menjamin kelanggengan budaya meriam karbit di tepian Sungai Kapuas.

“Selama ini belum ada (bantuan, red), kami berharap kepada Pemkot agar dapat memberikan sedikit bantuannya, karena inikan permainan rakyat yang mengangkat status budaya di tepian Sungai Kapuas,” harapnya.


Sementara itu, harapan senada juga disampaikan oleh Ardi, salah seorang warga pembuat meriam karbit itu juga menuturkan agar kebudayaan meriam karbit ini dapat terus diwariskan hingga ke generasi mendatang.

“Memang ini harus dikerjakan malam hari. Kalau siang, saya dan teman-teman kerja, jadi malam baru bisa membuat meriam. Selesainya kadang-kadang sampai sahur, dan kadang jam-jam 2 pagi baru selesai, besok disambung lagi,” kata Ardi.


Senada dengan Ardi, pekerja lainnya, Alfian, juga berharap agar nasib permainan rakyat ini dapat terus dilestarikan setiap tahunnya. “Ya karena ini dilakukan secara sukarela, tidak dibayar, jadi kami memprioritaskan kerjaan di perusahaan dulu, malamnya baru kerja. Kita maunya (permainan meriam karbit, red) kekal,” tandasnya.