Dewan mengadakan pertemuan dengan pihak Pertamina, Kamis (4/1). Pertemuan tersebut menindaklanjuti aspirasi para pengunjuk rasa yang berdemo di Gedung DPRD Kota Pontianak kemarin. Dewan menilai Pertamina masih belum maksimal dalam mensosialisasikan program konversi minyak tanah ke gas.
“Pertamina belum maksimal dalam mensosialisasikan programnya. Kualitas kompor yang dibagikan baru dipakai seminggu sudah rusak. Pertamina seharusnya membagikan produk dengan kualitas yang baik. Berilah yang terbaik untuk masyarakat,” ujar anggota Komisi A, Mardiana, Kamis (4/2).
Sementara itu sejumlah dewan juga mempertanyakan mengapa peredaran minyak tanah bersubsidi harus segera ditarik. Bagaimana dengan nasib para pengecer minyak tanah. Sudah sejauh mana sosialisasi penggunaan gas LPJ. Karena banyak masyarakat yang masih takut untuk menggunakannya.
“Sosialisasi sampai dimana. Mengapa minyak tanah terlalu cepat. Bukan masyarakat tidak mau mengikuti program pemerintah, tapi terlalu cepat. Kalau bisa bertahap jangan sekaligus,” ujar salah satu anggota Fraksi Reformasi, Alfian Aminardi.
Di samping itu, dalam retang waktu peralihan dikhawatirkan adanya pihak-pihak yang mengambil keuntungan. Situasi tersebut dimanfaatkan untuk berspekulasi. Di satu sisi masayarakat juga masih banyak yang belum siap.
Masalah tersebut dikatakan oleh Sales Area Manager Ritail Pertamina Rayon VII Kalbar, Ibnu Choldum bahwa pihaknya hanya menjalankan program pemerintah. Berdasarkan Surat Keputusan Wakil Presiden RI Nomor 20/WP/9/2006 tanggal 1 September 2006 terkait konversi minyak tanah ke LPG harus dapat diselesaikan selama 4 tahun.
“Berarti tahun 2010 harus clear. Pelaksanaan ini untuk penghematan tahun 2010. Kaltim sudah selesai tahun ini Kalbar. Sosialisasi sudah dilakukan sejak Agustus-Januari oleh Pertamina dan konsultan,” ujar Ibnu.
Terkait penarikan subsidi minyak tanah kontrak antara agen dan Pertamina bukan tiga bulan, tetapi satu tahun. Kemudian kontrak tersebut dievaluasi selama tiga bulan sekali. Dalam perjanjian juga disebutkan bahwa sewaktu-waktu akan kami tambah, sewaktu-waktu akan dikurangkan.
“Januari ini kami kurangi bertahap 10 hingga 15 persen. Sopir minyak tanah jadi sopir LPG. Agen minyak tanah jadi agen LPG. Bisnis tidak hilang, agen eks minyak tanah jadi distributor LPG,” jelas Ibnu.
Pihaknya juga menjanjikan akan memberikan pinjaman lunak kepada agen-agen untuk meningkatkan bisnisnya. Kalau minyak tanah modalnya tidak besar. Namun berbeda dengan penjualan tabung gas. Satu tabung seharga kurang lebih 130 ribu. Untuk itu pertamina akan memberikan pinjaman lunak maksimal 50 juta dengan klasifikasi tertentu.
“Edukasi gak bisa sekali jadi. Pakai minyak tanah dari nenek moyang, jadi ini tugas kami tugas kita semua untuk mengedukasikannya,” ucap Ibnu.
Pihak pertamina menjanjikan akan membagikan kompor dan tabung gas 3 Kg tahap kedua dalam waktu dekat. Sejauh ini minyak tanah non subsidi belum beredar di masyarakat.
“Kami akan mensosialisasikannya, akan dipercepat, dalam minggu kedua ini akan kami bagikan tahap kedua. Kami akan melakukan penyisiran bagi warga yang belum dapat,” kata Ibnu.
Terkait kebijakan tersebut warga menjadi resah. Banyak yang belum siap untuk kehilangan minyak tanah bersubsidi.
“Emak saye takot mau pakai kompor gas. Sekarang ni kamek masih masak pakai minyak tanah. Kamek berharap minyak tanah tu janganlah tak ade same sekali,” ujar salah seorang pedagang warung nasi di Jalan Sumatera, Anita.
Selain Anita, Murni juga belum siap untuk kehilangan minyak tanah.
“Sekarang jak minyak tanah tu da susah dicari. Kalaupun ade hargenye mahal da. Kite yang jual kue ni maok untung ape. Sakit kite rakyat kecil ni,” ujar pedagang kue, Murni.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
