You are here

Mempromosikan Wisata Kalbar

Borneo Tribune, Pontianak

Wisata Kalbar perlu dipromosikan demi pemasukan pendapatan daerah. Hal itu dikatakan Ketua Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI), Martias H. R. Ia menyatakan hal itu, didampingi Ketua Himpunan Pariwisata Indonesia (HPI), Muh. Tasuri dan Sekretaris, Mikhael Rafly.

MPI dan HPI saat ini sedang mempublikasikan World Federation Turist Guide Association (WFTGA), tentang promosi pariwisata internasional yang berlangsung pada 11-16 Januari 2009, di Discovery Kartik Plaza Hotel Kuta, di Badung, Bali. Sebanyak 1.000 peserta dari 50 negara, bakal menghadiri konvensi guide ini. Rencananya konvensi akan dibuka langsung Presiden RI, SBY.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang program ini, masyarakat bisa mengunjungi www.baliwfgta.2009.com atau www.wftga.org.

”Banyak obyek wisata di Kalbar yang belum dikenal,” kata Martias. Seperti, Taman Nasional Gunung Palong di Ketapang. Betung Kerihun, Danau Sentarum, dan lainnya. Obyek wisata itu, kategori ecotourism atau eko wisata. Ada juga long house atau Rumah Panjang yang merupakan daya tarik dari seni budaya. Serta potensi objek pariwisata lainnya.

Martias mencontohkan, satu travel perjalanan, Panorama Travel, telah menyediakan program ini. Program ini dilaksanakan, karena belum banyak biro perjalanan melaksanakan program tersebut. Tujuan dari program ini, menarik para wisatawan datang ke Kalbar, sebagai salah satu daerah tujuan wisata (DTW).

Sehingga dengan adanya program wisata ini, bisa melihat secara langsung, berbagai peninggalan sejarah di Kalbar. Program ini dapat diterima dan disambut, Pemda.

Sejauh ini, promosi sudah dilakukan melalui booklet atau leflet di beberapa biro perjalanan wisata yang sudah memiliki website. Promosi juga melalui beberapa media massa, seperti RRI, dan lainnya.

Salah satu cara mengatasi kekurangan penguasaan bahasa asing, yang sangat berpengaruh terhadap pelayanan wisata, maka HPI akan memberikan, pelatihan pramuwisata muda dan akan difasilitasi, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kalau tidak ada perubahan, akan diadakan pelatihan Bahasa Belanda dan Mandarin. Alasannya, secara emosional bangsa Indonesia, pernah dijajah Belanda. Penjajahan itu, meninggalkan berbagai bangunan Belanda. Bahasa Mandarin secara historis punya hubungan kental dengan Kalbar. Diharapkan, Pemda membantu dari segi anggaran, bagi program itu.

Untuk menjalankan program ini, pemerintah harus bisa mengatasi kurangnya sarana dan prasarana di Kalbar. Terutama infrastruktur jalan yang menuju objek wisata. Karenanya, diperlukan kerja sama antara pihak swasta dan pemerintah. Baik dari bidang pendidikan,  kepariwisataan, Dinas Perhubungan dari darat, laut dan udara. Juga, dari Dinas Pekerjaan Umum dan Telkom.

Dengan adanya kerja sama ini, dapat terjalin hubungan yang saling berkaitan. Selebihnya mengadakan pendekatan, dan memberikan pendidikan informal kepada masyarakat, di sekitar objek wisata. Tujuannya, dapat ikut serta memajukan objek wisata.

Kalau program ini berkembang dengan baik, akan tercipta hubungan yang saling menguntungkan, untuk semua pihak. Sehingga bisa mengurangi pengangguran. SDM yang dimiliki jadi berkembang. Pemerintah juga mendapatkan keuntungan dari visa wisatawan yang datang ke Kalbar. Juga, akan memajukan perkembangan ekonomi. Khususnya, para UKM yang mempunyai keterampilan. Contohnya, dalam membuat berbagai cenderamata. Seperti, penyulam kain tenun, miniatur Tugu Khatulistiwa, Mandau, dan lainnya.

Inti dari program ini, MPI dan HPI memberikan kontribusi, bagi industri pariwisata Kalbar.

Ketiganya berharap, pemerintah memberikan perhatian, dan ikut serta memperbaiki objek-objek wisata yang ada. Agar bisa bersinergi dengan para usahawan di bidang pariwisata. Yang begitu serius, namun tidak disambung dengan kebijakan dan mekanisme birokrasi.□