Ketupat gantung yang terlihat menghiasi langit-langit di sepanjang Jalan Diponegoro Pontianak, bukanlah sekedar hiasan manik-manik jalanan. Namun merupakan suatu bentuk kebersamaan serta toleransi masyarakat beragama, yakni Muslim dan Tionghoa.
Seorang tokoh masyarakat Tionghoa, Kaulim (70), yang disebut-sebut sebagai salah seorang pencetus ide pertama pembuatan ketupat gantung di kawasan Jalan Diponegoro mengatakan pembuatan ketupat gantung merupakan suatu penghargaan yang tinggi yang diberikan oleh masyarakat Tionghoa kepada masyarakat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa dan yang sebentar lagi akan merayakan Idul Fitri 1431 Hijriah.
Kaulim mengaku mendasari idenya itu saat perayaan Cap Go Meh beberapa waktu lalu. Diceritakannya, perayaan Cap Go Meh pada waktu itu sangat meriah sekali. Dan kata dia, tidak sedikit umat muslim yang turut menyumbang kesuksesan acara tersebut.
“Makanya di situ keluar satu ide, kenapa tidak kita bikin juga yang sama seperti itu, hanya bedanya kalau Cap Go Meh itukan pakai lampu liontin, kalau Ramadan ya kita gantung ketupat, ini bukti kalau kita saling menghargai antarumat beragama,” terang Kaulim, saat ditemui di kediamannya, di rumah makan Dapur Marina, Jalan Diponegoro, No.125 Pontianak, Jum’at (3/9).
Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT), Harso Utomo Suwito, ketika dihubungi membenarkan cerita Kaulim. Harso, mengatakan bahwa Kaulim merupakan orang yang menyarankan kepada dirinya untuk memasang ketupat gantung di sepanjang jalan budaya tersebut. “Ya, itu atas dasar saran tokoh masyarakat di sana, namanya Pak Kaulim,” kata Harso, yang dikonfirmasi sedang berada di Jakarta.
Sementara itu, Koordinator Pelaksana Ketupat Gantung, Khou Kiang Kok, memandang pembuatan ketupat gantung tidak hanya sebagai sarana untuk membangun keutuhan umat beragama antara Muslim dan Tionghoa. Namun diakuinya terdapat semacam keterlibatan emosional keluarga sesama manusia.
“Begitu juga kemarin kami teringat, waktu acara Cap Go Meh, kami merasa sangat gembira sekali bisa ikut dalam suasana di mana orang-orang muslim sedang merayakan lebaran, ada keterlibatan secara emosional,” kata pria yang akrab disapa Akok, itu di rumahnya, di Jalan Diponegoro.
Akok mengatakan secara teknis dana yang diperoleh untuk pembuatan ketupat gantung itu sendiri sebagian besar diperoleh dari uang bantuan warga dengan cara pembelian satu set ketupat gantung oleh masyarakat di kawasan tersebut, disamping juga sebagian dana dibantu oleh Pemkot.
“Jadi setiap masyarakat di sini ikut membantu dana, dengan cara membeli satu set ketupat gantung seharga seratus ribu rupiah, yang dipasang di depan setiap pintu-pintu ruko mereka, dan hal itu tidak dipaksakan tapi kerelaan hati saja, dari uang itulah kemudian digabungkan untuk pemasangan ketupat gantung di jalan-jalan. Dari Dinas Pariwisata juga ada bantu dana,” jelas Akok, yang juga selaku Ketua RT 02/RW 04, Kelurahan Darat Sekip.
Ratusan buah ketupat gantung yang cantik tersebut, kata Akok, tak hanya terdapat di Jalan Diponegoro saja, tapi juga terpasang di sejumlah ruas jalan di kawasan Kota Pontianak, seperti Jalan Gajah Mada, Tanjungpura, Sultan Muhammad, kawasan pasar Flamboyan dan sekitarnya.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
